KEWIRAUSAHAAN : BAB 1

BAB I
KARAKTER WIRAUSAHA SUKSES

Membangun Mimpi dan Mengejar Cita-cita (dream)
Lulusan berdaya saing, ditandai sejumlah kemampuan yang tinggi, baik hard skill
dan softskill serta pengetahuan dibidang spiritual, emosional, maupun kreativitas.
Perguruan tinggi juga menyadari bahwa dalam menghasilkan lulusan demikian dibutuhkan
kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik.
Selaras dengan pernyataan di atas, Godsell (2005) menyatakan bahwa salah satu orientasi
pendidikan adalah menjadikan peserta didik (mahasiswa) mandiri dalam arti memiliki
mental yang kuat untuk melakukan usaha sendiri, tidak lebih sebagai pencari kerja (job
seeker) akan tetapi sebagai pencipta lapangan pekerjaan (job creator).
Sebelum berbicara mengenai wirausaha, ada baiknya mahasiswa diperkenalkan dan
disadarkan tentang pentingnya mereka memiliki tujuan hidup/impian. Hal ini sangat penting
ditekankan di awal kuliah agar mahasiswa memiliki semangat untuk berprestasi dan
bersungguh-sungguh meraih impiannya. Sangat disayangkan bila seorang mahasiswa baru
menyadari untuk apa mereka sebenarnya kuliah, dan lain-lain setelah mereka lulus. Bahkan
hal ini ditegaskan oleh seorang pakar pendidikan Nasution (2009), yang menyatakan bahwa
kebanyakan lulusan pendidikan menjadi pengangguran adalah akibat mereka tidak memiliki
impian dan tidak bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Oleh karena itu kegiatan awal
adalah mengenai urgensi impian dalam hidup.

WIRAUSAHA DAN IMPIAN

“kita adalah realita di masa kini..
Sejarah di masa lalu..
Dan di masa depan…kita bukanlah siapa-siapa tanpa mimpi-mimpi..”
(Ramdhan, 2010)
Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya
akan keindahan mimpi-mimpi mereka.
If You can Dream it, You can Do it. (Walt Disney)

1.1. Impian menjadi wirausahawan
Kemana Anda setelah kuliah?? Pertanyaan ini sekilas singkat, namun berdasarkan riset
yang dilakukan oleh Asnadi (2005) terhadap 5 perguruan tinggi negeri di Indonesia
ditemukan bahwa hampir 75 persen responden (mahasiswa) tidak memiliki rencana yang
jelas setelah lulus. Hal ini tidaklah mengherankan jika setiap tahunnya akan selalu muncul
pengangguran terdidik di Indonesia yang angkanya semakin membludak. Sakernas (2010)
mengemukakan fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana
semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran
semakin tinggi.
Salah satu upaya dalam mengurangi tingkat pengangguran terdidik di Indonesia adalah
dengan menciptakan lulusan-lulusan yang tidak hanya memiliki orientasi sebagai job seeker
namun job maker atau yang kita sebut wirausaha. Penciptaan lulusan perguruan tinggi yang
menjadi seorang wirausahawan tidak serta merta mudah untuk dilaksanakan.
Kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan profesi ini karena preferensi mereka
terhadap pekerjaan kantoran lebih tinggi Preferensi yang lebih tinggi didasarkan pada
perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan selama menempuh pendidikan dan
mengharapkan tingkat pengembalian (rate of return) yang sebanding. Ernanie (2010), dalam
seminarnya mengungkapkan ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin
besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan
berisiko seperti berwirausaha. Pilihan status pekerjaan utama para lulusan perguruan tinggi
adalah sebagai karyawan atau buruh, dalam artian bekerja pada orang lain atau instansi atau
perusahaan secara tetap dengan menerima upah atau gaji secara rutin seperti Pegawai
Negeri Sipil (PNS), dan lainnya.
Meskipun setiap tahun pemerintah membuka pendaftaran menjadi PNS, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari mereka yang mendaftar mengalami
kekecewaan karena tidak berhasil lulus. Peluang untuk menjadi PNS semakin kecil lagi
setelah pemerintah memutuskan penundaan sementara (moratorium) tambahan formasi
untuk penerimaan PNS sejak 1 September 2011 hingga 31 Desember 2012. Keterbatasan
terserapnya lulusan perguruan tinggi di sektor pemerintah menyebabkan perhatian beralih
pada peluang bekerja pada sektor swasta, namun beratnya persyaratan yang ditetapkan
terkadang membuat peluang untuk bekerja di sektor swasta juga semakin terbatas.
Satu-satunya peluang yang masih sangat besar adalah bekerja dengan memulai usaha
mandiri. Hanya saja, jarang ditemukan seseorang sarjana yang ingin mengawali
kehidupannya setelah lulus dari perguruan tinggi dengan memulai mendirikan usaha.
Kecenderungan yang demikian, berakibat pada tingginya residu angkatan kerja berupa
pengangguran terdidik. Jumlah lulusan perguruan tinggi dalam setiap tahun semakin
meningkat. Kondisi ini tidak sebanding dengan peningkatan ketersediaan kesempatan kerja
yang akan menampung mereka.
Kecilnya minat berwirausaha di kalangan lulusan perguruan tinggi sangat disayangkan.
Syaefuddin (2003) mengatakan bahwa seharusnya para lulusan melihat kenyataan bahwa
lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan
perguruan tinggi di Indonesia, para lulusan perguruan tinggi mulai memilih berwirausaha
sebagai pilihan karirnya, mengingat potensi yang ada di negeri ini sangat kondusif untuk
melakukan wirausaha.
Ilik (2010) mengatakan bahwa, untuk memulai menjadi seorang wirausaha, setiap
mahasiswa harus memiliki impian yang kokoh yang dibangun tidak dalam waktu singkat.
Urgensi impian ini semakin penting mengingat resiko dari wirausaha ini tidaklah kecil, bila
mahasiswa tidak memiliki impian yang kokoh maka sangat mungkin baginya untuk cepat
menyerah. Berikut ini adalah beberapa motivasi yang bisa diberikan kepada mahasiswa
mengenai impian.

A. Motivasi Untuk Meraih Impian
Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju.
Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya. Dunia
ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan teknologi yang lebih hebat itu berkat
impian orang-orang besar. Orang-orang besar itu adalah para pemimpi.
Orang-orang yang tidak mempunyai impian, seperti orang yang naik angkot jurusan
kemana saja sehingga waktu hidup orang yang tidak memiliki impian sangat tidak efektif.
Orang yang tidak memiliki impian, memiliki hasrat atau kegigihan yang mudah sekali pudar,
sehingga mereka dengan mudah mengubah impian mereka menjadi sangat sederhana.
Padahal, impian yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang yang
berhasil mencatat nama dalam sejarah rata-rata mempunyai ciri khas yaitu selalu mampu
memperbarui impian mereka.

A.1. Impian Merupakan Sumber Motivasi
Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang. Bahkan impian dapat
menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber motivasi hingga mencapai tujuan
atau menggapai tujuan selanjutnya. Dorongan motivasi itulah yang akan menggerakkan
tubuh dan mengatur strategi yang harus ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi
dan menjalin komunikasi maupun bekerjasama dengan orang lain.
Nelson Mandela, sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, ia harus berjuang untuk
sebuah impian negara Afrika Selatan yang berdaulat. Untuk itu ia menghadapi tantangan
teramat berat. Impian selalu memotivasi Nelson Mandela untuk tetap berjuang, meskipun ia
harus merelakan sebagian besar waktunya dibalik terali besi. Impian merupakan sumber
semangat bagi Nelson, hingga Afrika Selatan benar-benar merdeka.
Sebenarnya, setiap orang dapat memperbarui nilai dan menyempurnakan jati diri
dengan kekuatan impian. sehingga jangan takut untuk bermimpi akan hal-hal yang besar,
sebab impian menimbulkan hasrat yang kuat untuk meraihnya. Impian mampu berperan
sebagai sumber motivasi, yang membangkitkan ambisi dan optimisme, sehingga mampu
melampaui semua rintangan dan kesulitan.

A.2. Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi
Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian itu sendiri
sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak mudah. Menurut
Anais Nin, “Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan hati seseorang”.
Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu
disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif.
Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain
mengkritik atau menghalangi. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa manusia
diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang kedua adalah loyalitas atau fokus untuk
merealisasikan impian. Untuk mendapatkan daya dorong yang luar biasa, maka tentukan
pula target waktu.
Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih lama
dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif. Seseorang yang
mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan pengorbanan, kerja keras
dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain. Oleh sebab itu, mereka selalu
bersemangat mengembangkan kemampuan tanpa henti dan mencapai kemajuan terus
menerus hingga tanpa batas. Impian yang sudah menjadi nafas kehidupan merupakan daya
dorong yang luar biasa.

A.3. Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani
Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan.
Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya. Para pencipta
puisi Belanda atau Dutch Poet’s Society mengatakan “Nothing is difficult to those who have
the will, -Tidak ada sesuatupun yang sulit selama masih ada kemauan.” Kunci kebahagiaan
adalah mempunyai impian. Sedangkan kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan
impian. George Lucas mengatakan, “Dreams are extremely important. You can’t do it unless
you imagine it, – Impian sangatlah penting. Kau tidak akan dapat melakukan apa-apa
sebelum kau membayangkannya.”
Kesimpulannya adalah jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian tersebut
sebagai nafas kehidupan. Sebab impian yang kuat justru menjadikan perjuangan yang berat
saat menggapainya sebagai sarana latihan mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang lain,
misalnya kekuatan emosi, fisik, maupun rohani.

A.4. Konsep Be – do – have
Be Do Have adalah suatu konsep yang terdapat dalam buku One Minute Millionaire
oleh Mark Victor Hansen dan Robert G. Allen. Uniknya konsep ini bukan diawali dari kerja
(do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be). Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah pikirkan Anda ingin menjadi apa?hal ini sejalan dengan konsep dasar
manajemen yaitu “think what u do and do what u think”. Setelah Anda sudah
mengetahuinya, maka lakukan hal (do) yang diperlukan untuk menuju be (menjadi apa yang
Anda inginkan).
Posisi be di awal Anda akan mampu menjadikan tindakan Anda lebih efektif, terlahirlah
tindakan efektif jika Anda sudah berpikir bahwa Anda sudah menjadi apa yang Anda inginkan
maka tindakan akan mengikutinya. Ketika Anda bertanggung jawab penuh atas keputusan
Anda maka have adalah efek samping dari tindakan efektif Anda yang sangat amat mungkin
untuk didapatkan.
Sebagai contoh : Ketika seseorang ingin menjadi programmer, maka lakukanlah
tindakan yang mendukung menjadi programmer. Belilah alat-alat atau hal-hal yang bisa
membantu menjadi programmer, temui para programmer-progammer, diskusikanlah
dengan mentor/pembimbing jika ada yang mengalami kesulitan, lakukanlah dengan teguh
dan pantang mengeluh, maka orang tersebut akan memiliki hasil yang luar biasa berupa
pengakuan dan tergantikannya harga yang telah dibayar berupa kerja keras, biaya, dan
himpitan pada masa sebelumnya.
Makna be – do have juga menunjukkan sikap perspektif jangka panjang. Sikap ini
berarti bahwa seseorang yang sukses dalam berencana dan bertindak selalu memiliki
perspektif jangka panjang. Segala keputusan yang dibuat selalu memperhatikan akibatnya
bagi masa depan dalam jangka panjang. Tidak ada istilah bagi mereka yang berbunyi
“bagaimana nanti saja”’ mereka lebih berpikir: “nanti bagaimana?”. Berpikir jauh ke depan
bukan berarti mengkhawatirkan masa depan. Tetapi lebih kepada mempersiapkan masa
depan. Segala keputusan, rencana dan tindakan akan dipertimbangkan bagaimana
dampaknya dimasa depan. Apakah keputusan yang anda saat ini akan membawa dampak
positif bagi masa depan anda?. Apakah rencana anda mendukung visi anda?. Apakah
tindakan anda akan mempengaruhi masa depan anda?.
Satu-satunya cara untuk membentuk perspektif jangka panjang ini ialah dengan
merumuskan visi anda saat ini. Jangan abaikan dengan langkah sukses ini. Jangan takut anda
gagal, lebih baik anda gagal meraih visi yang luar biasa, daripada berhasil tidak meraih
apapun.

1.2. Impian Harus Smart
Pernahkah Anda mendengar ketika ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada
mahasiswa “apa impian kalian?” lalu mereka berkata “ingin menjadi orang sukses” atau
“ingin membahagiakan orang tua”. Sekilas nampak bahwa jawaban mahasiswa ini sangat
baik dan mulia, namun demikian impian ini sangatlah abstrak dan tidak jelas apa
ukuran/indikator kesuksesan tersebut sehingga sangat sulit untuk ditentukan bagaimana
langkah-langkah untuk mewujudkannya. Dengan kata lain, impian yang abstrak dan tidak
jelas ini sangat dimungkinkan hanya akan menjadi mimpi yang sulit untuk diwujudkan.
Bila mengacu kepada konsep manajemen tentang bagaimana sebuah impian/tujuan itu
seharusnya dirumuskan, maka kita akan merujuk kepada sebuah konsep yang bernama
SMART. Konsep dasar yang harus disadari terlebih dahulu adalah, sukses itu bukanlah
sebuah kebetulan, namun sukses adalah by Desig. Oleh karena itu impian yang kita buat
harus SMART “Cerdas”, Apakah impian yang SMART itu? Impian yang SMART adalah Impian
yang : Specific. Artinya Anda harus jelas mengenai apa yang anda inginkan, dengan demikian
anda akan lebih mudah dalam membuat perencanaan. Dengan demikian, istilah “Saya
memiliki impian menjadi orang sukses” diganti dengan misalnya ; “Saya memiliki impian
untuk menjadi seorang manajer pemasaran di PT X dengan penghasilan Rp X” atau “saya
ingin menjadi seorang wirausahawan di bidang X dengan penghasilan sebesar Rp X dan
lainnya.
Measurable : Artinya impian haruslah terukur. Dengan demikian, anda akan tahu kapan
impian anda telah tercapai.
Achieveble : Artinya Impian anda harus dapat anda raih. Jika impian itu terlalu besar,
anda perlu memecah impian itu menjadi impian yang lebih kecil dulu sebagai langkah
awal atau bagian dalam pencapaian impian besar.
Realistic : Artinya, impian Anda harus masuk akal. Makna masuk akal ini biasanya
dikaitkan dengan kemampuan/ketersediaan sumber daya yang dimiliki.
Time Bond : Impian haruslah memiliki garis waktu yang jelas kapan impian tersebut ingin
Anda raih. Misalnya : “ saya memiliki impian mendirikan sekolah bagi anak-anak yang
tidak mampu 10 tahun dari sekarang”.

1.3. Pengertian Entrepreneur/Wirausaha
Istilah kewirausahaan (entrepreneur) pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18
oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent who
buys means of production at certain prices in order to combine them”. Adapun makna secara
etimologis wirausaha/wiraswasta berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari tiga suku kata :
“wira“, “swa“, dan “sta“. Wira berarti manusia unggul, teladan, tangguh, berbudi luhur,
berjiwa besar, berani, pahlawan, pionir, pendekar/pejuang kemajuan, memiliki keagungan
watak. Swa berarti sendiri, dan Sta berarti berdiri.
Istilah kewirausahaan, pada dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur, yang
dalam bahasa Inggris di kenal dengan between taker atau go between. Pada abad
pertengahan istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seseorang actor yang
memimpin proyek produksi, Konsep wirausaha secara lengkap dikemukakan oleh Josep
Schumpeter, yaitu sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan
memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru
atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi
bisnis yang baru atau pun yang telah ada.
Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat
adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang
tersebut. Sedangkan proses kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan
tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi.
Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun memiliki
substansi yang agak berbeda.
Selain itu, definisi Kewirausahaan menurut Instruksi Presiden Republik Indonesia
(INPRES) No. 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Me-masyarakat-kan dan Membudaya-
kan Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha dan/atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari
menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan
efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh
keuntungan yang lebih besar.

1.4. Pendapat para pakar mengenai kewirausahaan.
Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang
mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru
dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap
mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugastugas
yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau
dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai
terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam
berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan
pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu, kewirausahan adalah kemampuan
kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang
menuju sukses.

Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru
dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk
menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya,
kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam
mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.
Dari beberapa konsep yang ada, setidaknya terdapat 6 hakekat penting
kewirausahaan. Di antaranya :
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar
sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad
Sanusi, 1994).
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan
(Zimmerer. 1996).
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up
phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative),
dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk
memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara
mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara
baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki
produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan
kepuasan kepada konsumen.

Berdasarkan keenam konsep diatas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan
sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang
dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai
tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.
Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang
mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri.
Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan
berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai
kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk
belajar dan berusaha.
Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan
menanggapi peluang. Berdasarkan hal tersebut, maka definisi kewirausahaan adalah
tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta
membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.” (
Pekerti, 1997)

1.5. Keuntungan dan Kerugian Wirausaha
Menurut Ilik (2010), terdapat keuntungan dan kerugian ketika seseorang mengambil
pilihan menjadi seorang wirausahawa di antaranya :
Keuntungan :
1. Otonomi.
Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha memposisikan
seseorang menjadi “bos” yang memiliki kehendak terhadap kontrol bisnisnya. Hal ini
juga didukung dengan pendapat Robert T. Kiyosaki yang menyatakan bahwa pada
dasarnya perspektif menjadi seorang wirausaha adalah pilihan karena mencari
sebuah kebebasan.
2. Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi
Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan
sangat memotivasi wirausaha.
3. Kontrol finansial (Pengawasan keuangan).
Bebas dalam mengelola keuangan, dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.
4. memiliki legitimasi moral yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan dan
menciptakan kesempatan kerja.
Hal ini dikarenakan target entrepreneur adalah masyarakat kelas menengah dan
bawah, maka entrepreneur memiliki peran penting dalam proses trickling down
effect.

Kerugian Kewirausahaan :
1. Pengorbanan personal.
Pada awalnya, wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit
sekali waktu untuk kepentingan keluarga, rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan
untuk kegiatan bisnis.
2. Beban tanggung jawab.
Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil
maupun pengadaan dan pelatihan.
3. Kecilnya marjin keuntungan dan kemungkinan gagal.
Karena wirausaha menggunakan keuntungan yang kecil dan keuangan milik sendiri,
maka marjin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal
juga ada.

1.6. Langkah-langkah memulai wirausaha
Berikut ini ditampilkan beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan apabila
seorang mahasiswa ingin memulai wirausaha.
1. Pilih bidang usaha yang Anda minati dan memiliki hasrat dan pengetahuan di
dalamnya.
Tips pertama ini sangatlah membantu bagi mahasiswa yang cenderung memiliki
keinginan yang tinggi sekaligus mudah jenuh. Tidak mudah memang, terutama jika kita
sudah lama dan terbiasa berada dalam zona aman. Seringkali kesibukan kerja
membunuh instink kita untuk berkreasi maupun mengasah minat dan kesukaan yang
mampu mendatangkan uang. Jika anda telah menentukan minat, maka segeralah asah
pengetahuan dan perbanyak bacaan serta ketrampilan mengenai bidang usaha yang
hendak Anda tekuni.
Kadang-kadang hal-hal yang kita rasakan kuasai, ternyata setelah berada di lapangan
berbeda drastis dengan yang kita pikirkan. Seorang yang sehari-hari mengerjakan
pekerjaan keahlian tertentu, belum tentu bisa sukses berbisnis dalam bidang tersebut,
karenanya perlu sekali belajar dari orang-orang yang telah sukses merintis usaha di
bidang tersebut.
2. Perluas dan perbanyak jaringan bisnis dan pertemanan.
Seringkali tawaran-tawaran peluang bisnis dan dukungan pengembangan bisnis datang
dari rekan-rekan di dalam jaringan tersebut. Namun anda tetap harus hati-hati, karena
tidak pernah ada yang namanya makan siang gratis, siapapun itu, anda harus tetap
berhati-hati dan mempersiapkan akan datangnya hal-hal yang tidak terduga. Hal ini
juga sejalan dengan prinsip seorang pebisnis “uang tidak mengenal tuan”. Bisa saja
hari ini anda adalah big boss, namun esok lusa anda menjadi pengangguran karena
didepak oleh karyawan sendiri yang bekerja sama dengan partner bisnis anda atau
bahkan investor anda.
3. Pilihlah keunikan dan nilai unggul dalam produk/jasa anda.
Kebanyakan orang tidak sadar, ketika memulai berbisnis, terjebak di dalam fenomena
banting harga. Padahal, ada kalanya, harga bukan segalanya. Anda harus bisa mencari
celah dan ceruk pasar yang unik. Anda harus menentukan posisi anda di dalam peta
persaingan usaha. Jika anda menilai terlalu tinggi jasa/produk anda, sementara hal
yang anda tawarkan itu tidak punya keunggulan yang sangat spesifik dan memiliki nilai
tambah, maka orang akan berpaling kepada usaha sejenis dengan harga dan kualitas
yang jauh lebih baik.
Misalkan anda memulai usaha bisnis jasa pembuatan desain web (web desainer).
Tentukan, apakah anda ingin bersaing berdarah-darah di usaha web murah meriah,
atau anda akan spesifik kepada desainnya, atau anda akan spesifik kepada faktor
security (keamanannya) atau kepada tingkat kesulitan dan kompleksitas pengelolaan
databasenya.
4. Jaga kredibilitas dan brand image.
Seringkali kita ketika memulai berusaha, melupakan faktor nama baik, kredibilitas dan
pandangan orang terhadap produk/jasa kita. Padahal, ini yang paling penting dalam
berbisnis. Mengulur-ulur pembayaran kepada supplier atau peminjam modal, adalah
tindakan yang sangat fatal dan berakibat kepada munculnya nama anda di dalam
daftar hitam jaringan bisnis usaha yang anda tekuni. Misalnya salah satu usaha bisnis,
seringkali bertindak arogan dan mengabaikan keluhan para pelanggannya, padahal
bukan hanya sekali dua kali orang-orang melakukan komplain, akibatnya, kehilangan
pelanggan adalah hal nyata yang akan terjadi dan bahkan kehilangan pasar potensial
dan pangsa pasar yang dikuasainya.
5. Berhemat dalam operasional secara terencana serta sisihkan uang untuk modal kerja
dan penambahan investasi alat-alat produksi/jasa.
Banyak orang yang jika sudah untung besar dan berada di atas, melupakan faktor
persiapan akan hal tak terduga maupun merencanakan pengembangan usaha. Padahal
bisnis adalah sama dengan hidup, harus selalu bertahan dan berjuang. Banyak
pengusaha dan pengrajin kita, ketika sudah kebanjiran order dan menerima banyak
uang, malah mendahulukan membeli mobil mewah ataupun mobil sport. Hal ini tidak
salah, namun akan lebih baik jika keuntungan itu disisihkan untuk laba ditahan dan
penambahan modal kerja. Dengan demikian usaha bisa lebih berkembang, dan
mendapatkan kepercayaan dan pinjaman modal dari bank menjadi lebih mudah.
Karena anda dipercaya oleh pihak bank mampu mengelola perusahaan secara
profesional.

Sebaiknya untuk keperluan sehari-hari, pemilik perusahaan mencadangkan alokasi
dana secukupnya saja untuk biaya hidup dan keperluan pribadi dalam bentuk gaji tetap
komisaris/pemilik. Atau disisihkan sebagian saja dari laba tahunan, namun jangan
menganggu arus kas perusahaan untuk kepentingan pribadi yang tidak ada urusannya
dengan produktivitas usaha.
Selain point di atas, kiat memulai wirausaha juga dapat diadopsi menurut seorang
pakar bisnis sekaligus motivator yaitu Tum Desem Waringin. Berikut ini adalah langkahlangkah
teknis yang dapat dilakukan untuk memulai bisnis :
1. Bangun Ide bisnis dengan menulis Impian dan hobby kita.
Tuliskan 10 mimpi dan hobby kita, lalu seleksi menjadi 3 yang paling membuat kita
sangat ambisius dan enjoy untuk menjalankannya. Seleksi lagi menjadi 1 mimpi yang
membuat kita menjadi harus untuk mewujudkannya. Sehingga 1 mimpi tersebut
benar-benar dijadikan sebagai Visi/Goal/Target yang harus diraih.
2. Berikan alasan yang sangat kuat untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Bayangkan kenikmatan apa yang akan kita dapat apabila mimpi tersebut terwujud dan
kesengsaraan apa yang akan kita terima kalau mimpi tersebut tidak terwujud.
3. Mulai lah untuk mewujudkan mimpi tersebut dengan bertindak dan cari tema yang
tepat dan tulis misi / Langkah pencapaian dan tuangkan menjadi konsep usaha yang
jelas
4. Lakukan riset baik di internet maupun di kenyataan sehari-hari, Visi dan Misi yang kita
tulis harus terdefinisi dengan jelas, specific dan marketabel sesuai bidangnya.
5. Tuliskan dan rancang strategi yang akan dijalankan
6. Gunakan faktor pengungkit
OPM (Other People’s Money)
OPE (Other People’s Experience)
OPI (Other People Idea)
OPT (Other People’s Time)
OPW (other People’s Work)
7. Cari pembimbing (pilih yang sudah sukses di bidang tersebut), untuk pembanding dan
mengurangi resiko kegagalan dalam melakukan langkah-langkah pencapaian goal
tersebut.
8. Buatlah sebuah TEAM yang kompak untuk membantu mewujudkan goal tersebut
T = Together
E = Everybody
A = Achieve
M = Miracle
9. Optimalkan jaringan, relasi dan network yang kita punya untuk mencapai goal/visi kita
tersebut.
10. Buat jaringan baru yang tak terhingga dengan membuat relasi dan silaturahmi
sebanyak-banyaknya.
11. Gunakan alat bantu untuk mempercepat pencapaian misal website, jejaring sosial,
advertisement, promosi, dll
12. Buat system yang ideal untuak bisnis tersebut.
S=Save, Y=Your, S=Self, T=Timing, E=Energy, M=Money
Data membuktikan bahwa, 94% kegagalan usaha karena system bukan orangnya
perbanyak menggunakan 5W = Why Why Why Why Why dan 5H = How How How How
How.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s