KEWIRAUSAHAAN : BAB 4

BAB IV
Karakter Wirausaha Sukses :

Menyelesaikan Masalah 2 :
Ketegasan
Merencanakan produksi merupakan salah satu tantangan bagi seorang wirausaha.
Diperlukan ketegasan dalam merencanakan. Hal ini sangat penting karena ketegasan
seorang wirausaha akan menentukan kemampuan dirinya untuk mencapai cita-citanya
secara SMART.

Ketegasan dalam Aspek Produksi
4.1. Pendahuluan
Sistem produksi yang baik harus mampu menghasilkan produk seperti yang
diharapkan. Umumnya suatu sistem diukur dengan kemampuan memproduksi dalam jumlah
dan kualitas yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan konsumen, kemampuan sumberdaya
perusahaan serta harapan dari wirausahawan sebagai pemilik dan mungkin juga sekaligus
sebagai manajer.
Tahap awal dalam pelaksanaan proses produksi adalah merencanakan produk yang
akan diproduksi. Pada pembelajaran sebelumnya (Aspek Pemasaran) telah dirumuskan jenis
produk yang akan dihasilkan sesuai dengan potensi diri yang dimiliki, tentunya produk
tersebut memiliki potensi/prospek pasar yang memadai. Gambaran mengenai karakteristik
produk yang akan dihasilkan, memberikan kemudahan dalam menyusun kebutuhan bahan,
tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi produksi dan biaya yang dibutuhkan dalam proses
produksi. Dengan gambaran produk ini, juga akan memudahkan dalam menetapkan sistem
produksi yang akan diterapkan dalam menghasilkan produk yang dimaksud. Olehnya itu,
dalam sistem produksi dikenal adanya 3 (tiga) komponen, yaitu masukan (input), proses dan
keluaran (output).

4.2. Definisi Produksi
Berbagai literatur tentang produksi mendefenisikan produksi dengan gaya
pengungkapan yang berbeda-beda. Istilah produksi sering digunakan dalam suatu organisasi
untuk menghasilkan suatu keluaran atau output, baik berupa barang maupun jasa. Produksi
dari sudut pandang kegiatan penciptaan produk seperti yang dikemukakan oleh Assauri
(1993) bahwa produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan
barang atau jasa. Demikian pula defenisi yang dikemukakan oleh Reksohadiprojo dan
Gitosudarmo (2003) bahwa produksi adalah kegiatan untuk menghasilkan barang-barang
dan jasa-jasa sesuai dengan kehendak konsumen dalam hal jumlah, kualitas, harga serta
waktu.
Produksi tidak hanya menciptakan produk sebagai keluaran (output), namun juga
menggunakan berbagai faktor produksi sebagai masukan (input). Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Prawirosentono (1997) bahwa produksi adalah membuat atau
menghasilkan produksi suatu barang dari berbagai bahan lain. Hal yang sama juga
dikemukakan oleh Sofyan (1999) bahwa produksi diartikan sebagai suatu kegiatan atau
proses yang mentransformasikan masukan menjadi keluaran atau dengan pengertian bahwa
produksi mencakup setiap proses yang mengubah masukan menjadi keluaran yang berupa
barang dan jasa.
Produksi sebagai suatu proses, diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik
bagaimana produksi itu dilaksanakan atau suatu kegiatan untuk menciptakan dan
menambah kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Ahyari (1990) mengemukakan bahwa
proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan suatu
barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat berbagai definisi yang telah diungkapkan di atas, maka dapat dirumuskan
bahwa proses produksi dalam konteks kewirausahaan adalah merupakan kegiatan untuk
menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan
faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana, agar menghasilkan
produk yang dibutuhkan dan sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen.

4.3. Kebutuhan Proses Produksi
Sebelum melaksanakan proses produksi terlebih dahulu perlu dirancang kebutuhan
sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam menghasilkan produk, sarana dan
prasarana inilah yang sering disebut sebagai input produksi yang meliputi bahan, tenaga
kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya (uang).

4.4. Bahan Baku
Dalam menyusun kebutuhan bahan baku untuk digunakan dalam proses produksi
harus mengacu pada karakteristik produk yang akan dihasilkan. Misalnya saja, jika
berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap pasar produk yang akan dihasilkan,
konsumen menginginkan produk yang rasanya manis dan berwarna merah, tentunya bahan
yang dibutuhkan dalam proses produksi adalah gula dan pewarna merah. Dengan demikian,
kualitas produk yang akan dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen, sangat
ditentukan oleh kualitas bahan baku yang digunakan. Ini yang menjadi alasan mengapa
perusahaan perlu melakukan penanganan bahan baku, terutama dalam mengendalikan
kualitas untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Pengendalian dalam pengadaan bahan baku terutama pada perusahaan perusahaan
yang memanfaatkan hasil-hasil pertanian primer sebagai bahan bakunya sangat penting
untuk dilakukan, karena hasil pertanian primer memiliki ciri yang apabila tidak dikendalikan
akan mendatangkan kerugian bagi perusahaan. Ciri-ciri produk hasil pertanian primer adalah
bersifat musiman, mudah rusak, banyak menggunakan tempat dan sumbernya terpencarpencar.
Hal ini yang perlu ditekankan dan dipahami, karena mengingat gagasan-gagasan
produk yang diajukan oleh peserta mata kuliah Kewirausahaan-1 di Fakultas Pertanian
umumnya berbahan baku hasil pertanian.
Jenis bahan yang digunakan oleh perusahaan dalam proses produksinya dapat
dibedakan menjadi bahan langsung dan bahan tak langsung. Bahan langsung adalah bahan
yang digunakan dalam proses produksi dan terikat atau menjadi bagian dalam produk.
Sedangkan bahan tak langsung adalah bahan yang bukan atau tidak menjadi bagian dalam
produk, namun sangat diperlukan untuk mendukung produksi.
Agar produksi dapat berjalan lancar, maka dalam pemilihan bahan baku yang akan
digunakan setidaknya memenuhi syarat:

a. Kualitasnya Baik
Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa untuk memperoleh kualitas produk yang
baik, diperlukan bahan yang juga berkualitas baik. Selain itu, penggunaan bahan baku yang
berkualitas memungkinkan untuk melakukan penyimpanan dalam jangka waktu yang lama.
Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan pembelian dalam yang besar, sehingga
interval pembelian dapat diperjarang yang berarti dapat menekan biaya pengangkutan.
Selain itu biasanya perusahaan akan harga bahan yang relatif rendah dari pemasok jika
pembelian dilakukan dalam jumlah yang besar. Ini berarti perusahaan dapat menekan biaya
pembelian.
Agar kualitas bahan baku yang dipasok oleh perusahaan dapat terjamin, maka
beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain penyeleksian sumber bahan baku,
pemeriksaan saat proses pembelian, penanganan saat pengangkutan, pemeriksaan saat
penerimaan di perusahaan, penanganan dalam penyimpanan dan tentunya pemeriksaan
sebelum diproses. Dengan upaya-upaya ini, perusahaan dapat menghindari penggunaan
bahan baku yang kurang berkualitas, sehingga proses produksi akan dapat dipertahankan
pada tingkat tertentu sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
b. Mudah diperoleh
Selain aspek kualitas, kelancaran proses produksi juga sangat ditentukan oleh
ketersediaan bahan baku dari aspek kuantitas dan kontinyuitasnya. Ini berartibahwa bahan
baku yang dibutuhkan dalam berproduksi harus dapat diperoleh setiap saat dalam jumlah
yang sesuai dengan kebutuhan.
Perusahaan yang menggunakan bahan baku dari hasil pertanian primer sering
menghadapi kendala dalam perolehan bahan baku karena produksinya bersifat musiman
dan sumbernya terpencar-pencar. Malah tidak jarang kita temui, proses produksi menjadi
terhenti hanya karena keterbatasan atau malah ketiadaan bahan baku yang dapat diolah.
Keterbatasan bahan baku karena produksinya yang bersifat musiman dan sumbernya
terpencar-pencar dapat diantisipasi dengan pembelian dalam jumlah yang besar yang
ditindaklanjuti dengan penggunaan teknologi penyimpanan dan/atau pengolahan agar dapat
disimpan selama di luar musim.
c. Mudah diolah
Bahan baku yang digunakan sedapat mungkin mudah diolah, karena bahan baku yang
sulit diolah biasanya memiliki konsekuensi terhadap biaya produksi dan pada akhirnya juga
akan berpengaruh pada harga jual produk. Apabila bahan baku dapat diolah dengan mudah,
kemungkinan besar biaya produksi akan lebih ringan ketimbang pengolahan bahan baku
tersebut dilakukan dengan peralatan yang sulit dicari atau harganya mahal atau harus diolah
di tempat/perusahaan lain.
Sebagai contoh, apabila perusahaan menggunakan bahan baku tepung beras, maka
lebih baik perusahaan membeli bahan yang telah berbentuk tepung beras daripada membeli
beras yang kemudian diolah sendiri menjadi tepung beras. Jika dengan pertimbangan tingkat
kebutuhan bahan yang cukup besar dalam sekali proses produksi serta kontinyuitas proses
produksi, perusahaan dapat mengadakan mesin pengolahan (mesin penepungan, misalnya).
Tentunya dalam hal ini diperlukan biaya investasi untuk pengadaannya, namun sebelumnya
perlu dipertimbangkan apakah mengolah sendiri bahan baku lebih menguntungkan
dibandingkan dengan pengolahan diserahkan kepada tempat/perusahaan lain.
d. Harga yang relatif murah
Bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi sedapat mungkin juga harus
relatif murah. Dalam artian bahwa bahan baku yang dibutuhkan harganya tidak melebihi
harga yang berlaku di pasaran secara umum. Konsekuensi dari tingkat harga bahan baku
yang murah tentunya pada tingkat biaya produksi yang rendah dan pada akhirnya harga jual
dapat lebih rendah dibandingkan dengan pesaing.
Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa salah satu hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pengadaan bahan baku adalah kemudahan dalam perolehannya. Hal
ini berarti bahwa penentuan sumber (pemasok) bahan tersebut menjadi hal yang penting
untuk dipikirkan. Sumber bahan akan berpengaruh terhadap biaya pengangkutan dan pada
akhirnya akan berpengaruh pula pada biaya produksi dan harga jual produk. Semakin dekat
sumber bahan akan semakin baik. Namun apabila dalam keadaan tertentu, sumber bahan
berada jauh dari lokasi, tentunya harus mencari alternatif lain agar dapat menekan biaya,
seperti membeli dalam jumlah yang besar untuk memotong intensitas pembelian tetapi
dengan syarat bahan tersebut dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama tanpa
mengurangi kualitas.
Perlu diingat bahwa persaingan juga terdapat dalam pembelian bahan baku.
Perusahaan tidak hanya sendiri sebagai pengguna bahan baku tertentu, ada pula perusahaan
lain yang memproduksi produk yang sama atau berbahan baku yang sama. Dalam
menghadapi persaingan memperoleh bahan baku yang dibutuhkan agar ketersediaan bahan
baku yang dibutuhkan dapat terjamin baik kuantitas, kualitas maupun kuantitasnya,
perusahaan dituntut untuk mencari sumber bahan baku yang dapat diandalkan. Salah satu
cara yang dapat ditempuh untuk menjamin ketersediaan bahan baku adalah
mengembangkan hubungan baik dengan pemasok dengan senantiasa menjalin komunikasi
yang intensif.
Pengenalan terhadap pemasok secara pribadi akan dapat membantu perolehan bahan
yang dibutuhkan di saat-saat kondisi ketersediaan bahan dalam kekurangan. Hubungan baik
dengan pemasok perlu pula senantiasa dipelihara, karena pemasok bahan juga dapat
menjadi sumber informasi penting mengenai pesaing (yang juga memasok bahan dari
pemasok), harga, perkembangan desain produk, teknologi dan sebagainya. Jika perusahaan
kekurangan dana untuk pengadaan bahan baku, hubungan yang telah dijalin dapat
membantu pembelian dengan sistem kredit yang mungkin tanpa batas.
Dalam pengadaan bahan baku perlu pula diusahakan menetapkan dua atau lebih
pemasok untuk setiap bahan yang dibutuhkan. Selain untuk menjamin ketersediaan, ada
kecenderungan pemasok akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan tingkat harga
yang sesuai kepada perusahaan, karena mereka tahu bahwa perusahaan tidak hanya
membeli bahan dari satu pemasok. Diantara pemasok juga terdapat persaingan dalam
merebut pelanggan, dan tentunya mereka juga ingin unggul dalam persaingan dengan
memberikan pelayanan yang terbaik pada pelanggannya.
Selain mengandalkan pemasok, perusahaan dapat pula menyediakan sendiri bahanbahan
tertentu yang merupakan bagian yang tebesar dari komponen produk yang dihasilkan.
Dengan menyediakan sendiri bahan akan memudahkan perusahaan dalam memenuhi
persyaratan yang diperlukan dalam pengadaan bahan baku, sebagaimana yang telah
diungkapkan di atas. Sebagai contoh, jika perusahaan menghasilkan produk keripik pisang,
mungkin perlu dipertimbangkan mengusahakan kebun pisang yang dapat berfungsi sebagai
kebun inti. Fungsinya tidak hanya sebagai pemasok utama bahan baku, tetapi juga dapat
berfungsi sebagai penyelamat di saat bahan baku sulit diperoleh dari pemasok.

Sebelum mengambil keputusan untuk menghasilkan sendiri bahan baku yang
dibutuhkan, mungkin perlu dipertimbangkan berbagai aspek dengan mempertanyakan
berbagai hal, sebagai berikut:
>Bahan-bahan apa saja yang merupakan bagian dari komponen terbesar produk yang
dihasilkan?
>Sampai sejauh mana ketersediaan bahan tersebut di pasaran dalam setiap saat dan
bagaimana keterandalam pemasok dalam menyediakannya?
>Bagaimana ketersediaan bahan tersebut di masa yang akan datang?
>Apakah dengan menyediakan sendiri bahan yang dibutuhkan lebih efisien
dibandingkan dengan pengadaan bahan yang bersumber dari pemasok?
>Apakah perusahaan memiliki sumberdaya yang cukup untuk menyediakan sendiri
bahan tersebut?

4.4.1 Tenaga Kerja
Tenaga kerja atau sumberdaya manusia merupakan asset penting perusahaan. Dalam
proses produksi, tenaga kerja merupakan penggerak berjalannya proses produksi. Meskipun
bahan baku yang digunakan telah memenuhi standar kualitas, peralatan yang digunakan
telah memadai, jika tenaga kerja yang menjalankan operasional produksi tidak sesuai dalam
hal jumlah dan kualifikasi yang diharapkan, maka mustahil perusahaan dapat menghasilkan
produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan oleh konsumen dan perusahaan.
Meskipun tenaga kerja dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam aktifitas
proses produksi perusahaan, namun kadang dalam operasional perusahaan, hal ini sering
dikesampingkan, terutama yang terkait dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Pertimbangan
yang sering digunakan adalah mudahnya untuk mendapatkan tenaga kerja dengan alasan
bahwa setiap orang dianggap membutuhkan pekerjaan. Kondisi yang demikian
menyebabkan banyaknya tenaga kerja produksi yang dipekerjakan pada pekerjaan yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Akibatnya harapan untuk
menghasilkan produk yang berkualitas tidak tercapai.

Jenis tenaga kerja yang digunakan pada perusahaan pada dasarnya terdiri dari tenaga
kerja upahan dan tenaga kerja keluarga. Kedua jenis tenaga kerja ini memiliki karakteristik
masing-masing, sebagaimana diuraikan berikut ini.
>Tenaga kerja upahan
Tenaga kerja yang terikat hubungan kerja dengan perusahaan, dimana masing-masing
pihak memiliki hak dan kewajiban. Tenaga kerja upahan dapat digolongkan atas:
>Tenaga kerja tetap,
Merupakan tenaga kerja yang secara teratur memperoleh hak-haknya seperti upah
dan cuti, meskipun mereka tidak bekerja karena sesuatu hal yang tidak melanggar
ketentuan dalam perusahaan. Tenaga kerja golongan ini secara hukum memiliki
kekuatan, olehnya itu perusahaan tidak dapat berlaku sewenang-wenang
terhadapnya, misalnya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara
sepihak.
>Tenaga kerja tidak tetap
Adalah tenaga kerja yang tidak memiliki hak dan kewajiban secara teratur, umumnya
mereka akan kehilangan hak tertentu apabila tidak bekerja.
>Tenaga kerja borongan
Adalah tenaga kerja yang menjalankan pekerjaan tertentu atas perjanjian dengan
ketentuan yang jelas mengenai volume, waktu dan harga pekerjaan.
>Tenaga kerja keluarga
Merupakan tenaga kerja yang berasal dari lingkungan keluarga yang umumnya dalam
melaksanakan pekerjaannya tidak diupah. Tenaga kerja jenis ini banyak digunakan
pada perusahaan-perusahaan kecil atau perusahaan yang masih berskala usaha rumah
tangga. Umumnya tenaga kerja keluarga bekerja hanya sebatas tanggung jawab dalam
membantu keluarga. Namun banyak juga dijumpai anggota keluarga yang bekerja di
perusahaan mendapat upah, meskipun upah yang diberikan tidak sama dengan tenaga
kerja yang bukan anggota keluarga.
Kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang
kompeten adalah kebutuhan yang fundamental bagi perusahaan. Kebutuhan ini akan selalu
berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan
senantiasa dituntut untuk selalu mencari, mengembangkan dan mempertahankan tenaga
kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Hal yang mungkin perlu
diantisipasi adalah munculnya berbagai kendala yang pada dasarnya disebabkan oleh 1)
Belum adanya standar kemampuan tenaga kerja karena informasi menyangkut kemampuan
tenaga kerja hanya berdasarkan prediksi yang umumnya bersifat subjektif, 2) Tenaga kerja
adalah manusia yang tidak dapat diperlakukan secara mekanistik seperti mesin yang dapat
diatur semaunya dan 3) ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan sangat
terbatas.
Itulah sebabnya perusahaan perlu melakukan perencanaan tenaga kerja, agar
kebutuhan tenaga kerja perusahaan di masa sekarang dan masa yang akan datang sesuai
dengan beban kerja yang ada. Perencanaan yang kurang cermat akan berakibat fatal bagi
perusahaan. Jika tenaga kerja yang ada melebihi beban kerja yang ada, maka akan berakibat
banyak tenaga kerja yang menganggur atau tidak bekerja secara optimal.

Sebaliknya jika jumlah tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan dengan beban kerja
yang ada, akan berakibat pada adanya pekerjaan yang tidak terselesaikan secara optimal dan
tentunya tenaga kerja akan bekerja melebihi kemampuannya. Tenaga kerja akan mengalami
kelelahan, mudah stres dan pada akhirnya tidak akan betah bekerja dan memilih mencari
pekerjaan lain. Artinya kelebihan dan kekurangan beban kerja bagi tenaga kerja perusahaan
akan berdampak pada biaya dan pada akhirnya akan berdampak pula pada pendapatan atau
laba yang diperoleh perusahaan.

4.4.2 Mesin/Peralatan
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam suatu proses produksi memiliki peran yang
cukup besar di dalam keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produksi, baik dalam hal
kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya.
Kebutuhan mesin dan peralatan produksi baik jumlah, jenis, kapasitas dan spesifikasi
lainnya seharusnya telah diidentifikasi saat gambaran produk yang akan dihasilkan telah
ditetapkan. Apabila perusahaan mengadakan mesin/peralatan produksi yang tidak
bermanfaat untuk menghasilkan produk sesuai dengan yang direncanakan, maka sudah
dapat dipastikan mesin/peralatan produksi tersebut akan kurang berfungsi atau malah tidak
berfungsi.
Konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah adanya beban biaya
(penyusutan) yang harus ditanggung oleh perusahaan sedangkan mesin/peralatan tersebut
kurang/tidak mendukung dalam menghasilkan produksi. Disamping itu pula, mesin/peralatan
produksi yang jarang dimanfaatkan akan cepat mengalami kerusakan dan tentunya
membutuhkan perawatan. Ini berarti bahwa perusahaan melakukan investasi yang sia-sia,
malah akan menambah beban biaya produksi dan akan berpengaruh pula pada
meningkatnya harga jual produk.

Setelah dilakukan pengadaan mesin/peralatan produksi, maka selanjutnya yang perlu
diperhatikan adalah penempatan atau tata letaknya pada ruangan produksi. Dalam
penempatan mesin/peralatan produksi di ruangan produksi terdapat beberapa prinsip dasar
yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan, yaitu:

1. Prinsip integrasi, dalam artian bahwa penempatan mesin/peralatan produksi dapat
mengitegrasikan seluruh faktor produksi (bahan, tenaga kerja, mesin/peralatan, dan
sebagainya) sehingga menghasilkan kerjasama yang harmonis.

2. Prinsip memperpendek gerak, dalam artian bahwa penempatan mesin/peralatan
produksi tidak membuat tenaga kerja lebih banyak bergerak dari satu
mesin/peralatan ke mesin/peralatan yang lain.

3. Prinsip memperlancar arus pekerjaan, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi dapat menjamin kelancaran arus bahan dalam proses tanpa
adanya hambatan.

4. Prinsip penggunaan ruangan produksi yang efisien dan efektif, dalam artian bahwa
penempatan mesin/peralatan produksi ditempatkan sesuai dengan luas ruangan
produksi yang dimiliki perusahaan.

5. Prinsip keselamatan dan kepuasan kerja, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi pada ruangan produksi dapat menjamin keselamatan dan
kenyamanan kerja dari tenaga kerja.

6. Prinsip keluwesan, dalam artian penempatan mesin/peralatan produksi sewaktuwaktu
dapat disesuaikan jika sewaktu-waktu dibutuhkan adanya perubahan.

7. Prinsip proses produksi yang berkesinambungan, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi tidak menghambat kesinambungan proses produksi.
Mesin/peralatan produksi yang digunakan perlu senantiasa dilakukan perawatan agar
proses produksi dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Mesin/peralatan
produksi yang sering mengalami kerusakan akan menyulitkan untuk menghasilkan produk
yang sesuai baik dari sisi kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya. Selain itu tingginya
tingkat kerusakan yang diakibatkan kurangnya upaya perawatan akan berdampak pada
tingginya biaya produksi yang akan berdampak langsung pula pada tingginya harga jual
produk.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam upaya
pemeliharaan mesin/peralatan produksi, yaitu:

1. Pemeliharaan breakdown, yakni pemeliharaan yang dilakukan setelah mesin/peralatan
produksi mengalami kerusakan.

2. Pemeliharaan terencana, yakni pemeliharaan yang dilakukan secara terjadwal.

3. Pemeliharaan pencegahan, yakni pemeliharaan yang dilakukan dengan
mempertimbangkan masa pakai dari komponen pada mesin/peralatan produksi.

Selain perencanaan dalam kebutuhan, penyusunan tata letak dan pemeliharaan
mesin/peralatan produksi, perusahaan juga harus senantiasa memperhatikan dan mengikuti
perkembangan teknologi terkait dengan penggunaan mesin/peralatan produksi.

Perkembangan teknologi saat ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap sistem
produksi untuk menghasilkan suatu produk. Penggunaan mesin/peralatan produksi dengan
teknologi terkini akan menghasilkan kualitas produk yang lebih baik dan proses produksi
lebih cepat dengan kapasitas yang lebih besar, jikia dibanding dengan menggunakan
mesin/peralatan produksi yang telah ketinggalan jaman. Perusahaan yang tidak mengikuti
perkembangan teknologi akan cenderung mengalami kesulitan dalam bersaing dengan
perusahaan pesaingnya yang telah menggunakan teknologi terkini.

4.5. Biaya Produksi
Biaya dapat didefenisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang diperlukan untuk
memperoleh produk (barang dan /atau jasa). Atau pengeluaran yang dilakukan di masa
sekarang untuk mendapatkan manfaat pada masa yang akan datang, dimana pengeluaran
atau pengorbanan tersebut dapat diduga serta dapat dihitung secara kuantitatif dan tidak
dapat dihindarkan.

Biaya produksi terdiri atas 2 (dua) bagian besar dengan penggolongan biayanya
masing-masing diuraikan, sebagai berikut:
1. Biaya menurut perilaku yang terdiri dari:
>Biaya tetap, merupakan biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar
kecilnya produksi dan dalam periode tertentu jumlahnya tetap. Misalnya biaya
untuk gaji tenaga kerja tetap, penyusutan alat, pajak lahan dan sebagainya.
>Biaya tidak tetap, merupakan biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung
dengan besarnya produksi atau dengan kata lain biaya yang dalam periode tertentu
jumlahnya dapat berubah tergantung pada tingkat produksi yang dihasilkan.
Misalnya biaya untuk pembelian bahan baku, biaya upah tenaga kerja borongan,
dan sebagainya.

2. Biaya menurut jenis yang terdiri dari:
>Biaya langsung (pokok), merupakan biaya yang langsung terikat atau menjadi
bagian pokok dari produk yang dihasilkan. Biaya yang digolongkan dalam jenis ini
adalah biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
>Biaya tidak langsung, merupakan biaya yang secara tidak digunakan untuk
menghasilkan produk atau biaya yang terikat bukan pada bagian pokok dari produk
yang dihasilkan. Biaya yang digolongkan dalam jenis ini adalah biaya bahan tidak
langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
>Biaya administrasi/umum, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
administrasi kantor perusahaan dan umum. Misalnya biaya untuk menggaji
pimpinan dan pegawai, sewa kantor, perlengkapan kantor dan sebagainya.

4.6. Proses Produksi
Dihasilkannya produk sesuai dengan jumlah dan mutu yang diharapkan oleh pasar dan
perusahaan, selain ditentukan oleh input sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya,
juga sangat ditentukan oleh kegiatan yang dilaksanakan selama proses pembuatan produk
berlangsung yang dikenal dengan istilah proses produksi. Proses produksi melalui beberapa
tahapan yang merupakan aktifitas menyeluruh yang dilakukan oleh tenaga kerja produksi
yang membuat produk, tahapan-tahapan ini disebut tahapan produksi. Tahapan-tahapan
produksi yang tersusun secara teratur disebut aliran produksi.

Penggolongan proses produksi berkaitan dengan sifat dan jenis masukan yang
digunakan dan produk yang akan dihasilkan. Olehnya itu, proses produksi dapat dibedakan
atas:

1. Proses produksi berdasarkan wujudnya, terdiri atas:
>Proses kimiawi, yaitu proses pengolahan bahan menjadi produk dengan
mendasarkan pada sifat kimiawi bahan yang diolah.
>Proses mengubah bentuk, yaitu proses pengolahan bahan menjadi produk jadi atau
setengah jadi dengan cara mengubah bentuk bahan menjadi bentuk yang lebih
bermanfaat.
>Proses perakitan, yaitu proses menggabungkan komponen-komponen produk
menjadi produk yang lebih bermanfaat.
>Proses transportasi, yaitu proses memindahkan sumber atau produk dari tempat asal
ke tempat dimana produk tersebut dibutuhkan.

2. Proses produksi berdasarkan tipenya, terdiri atas:
>Proses berkesinambungan, dimana arus masukan berlangsung terus melalui sistem
produksi yang telah distandarisasi untuk menghasilkan produk yang homogen.
Bentuk produk yang dihasilkan bersifat standar dan tidak tergantung pada spesifikasi
pemesan. Tujuan produksi umumnya untuk persediaan kemudian dipasarkan.
>Proses terputus-putus, proses yang biasanya menghasilkan produk yang berbeda
beda, prosedur yang berbeda-beda dan bahkan kadang dengan masukan yang
berbeda-beda. Bentuk produknya disesuaikan dengan pesanan konsumen. Tujuan
produksi adalah untuk melayani pesanan konsumen.

4.7. Pengendalian Produksi
Setelah menentukan spesifikasi produk yang akan dihasilkan, merancang proses dan
sistem produksi, maka perlu mengorganisasikan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh
perusahaan untuk pengendalian produksi. Pengendalian produksi, meliputi:

1. Pengendalian pembelian, agar pembelian yang dilakukan oleh perusahaan terkait
dengan proses produksi lebih efisien (hemat biaya). Dalam pengendalian pembelian ini
melibatkan beberapa faktor yang saling terkait, yaitu kuantitas, kualitas, harga, waktu
dan pelayanan.

2. Pengendalian Persediaan, perlu dilakukan agar biaya yang dikeluarkan untuk
penyimpanan dapat dikendalikan.

3. Pengendalian produksi, agar proses produksi dapat berjalan lancar, tepat waktu dan
menghasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan yang
direncanakan.

4. Pengendalian Kualitas, yang dilakukan pada setiap tahapan proses yang bertujuan
untuk mencegah adanya penyimpangan terhadap standar kualitas produk yang telah
ditetapkan (quality control).

4.8. Penutup
Komponen-komponen dalam sistem produksi yang terdiri dari input, proses dan
output. Dengan demikian, dalam merancang sistem produksi perusahaan, ketiga komponen
ini dijadikan sebagai pedoman. Langkah awal yang dilakukan dalam merancang suatu sistem
produksi adalah perumusan tujuan secara jelas yang menuntut perusahaan telah
menetapkan spesifikasi produk sesuai keinginan konsumen pasar sasaran. Selanjutnya
menentukan input yang meliputi bahan, tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya
yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk sesuai yang ditetapkan pada langkah awal tadi.

Dan langkah berikutnya adalah menentukan proses produksi yang akan digunakan untuk
menghasilkan produk. Upaya-upaya yang dilakukan dengan melibatkan komponenkomponen
sistem produksi tersebut perlu senantiasa dikendalikan agar apa yang diharapkan
dalam proses produksi dapat tercapai.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan input seperti
bahan baku, tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya hanya dapat dibuat
perencanaannya ketika jenis produk yang akan dihasilkan beserta spesifikasinya telah
ditetapkan.

Iklan

2 thoughts on “KEWIRAUSAHAAN : BAB 4

    • karakter tegas dalam diri seorang wirausaha itu adalah modal kuat untuk kita agar menjadi wirausawan yang disiplin jujur dan mau bekerja keras .jika kita tidak mempunyai karakter seperti itu mustahil kita bisa mencapai tujuan yang telah kita harapkan ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s