MULTIMEDIA DAN ANIMASI BAB 7

TRANSISI, SOUND, DAN DIGITAL VIDEO

Suatu animasi tentu akan terasa agak gersang jika tidak disertai dengan

suara latar yang mendukung animasi tersebut. Misal, kita membuat

animasi orang yang sedang menangis, tentu akan lebih hidup jika

ditambah suara orang menangis. Begitu juga dengan perubahan dari slide

satu ke slide yang lain. Agar lebih halus dan menarik bisa ditambah

dengan efek transisi. Disamping itu, dengan Director kita juga bisa

mengimpor file video dalam format yang paling banyak dipakai,

misalnya Quicktime dan AVI.

Pada bab ini akan dibahas Efek transisi dan penggunaannya,

Implementasi suara ke dalam movie serta cara mengimpor file video,

memainkannya pada stage dan mengatur agar file video tersebut bisa

dimainkan seluruhnya sesuai dengan frame yang telah ditentukan.

 

7.1. Transisi

Pada Director terdapat 52 efek transisi dan dengan transisi kita bisa

menciptakan animasi singkat yang dimainkan di antara frame untuk

menghasilkan perubahan halus saat sprite berpindah, muncul, atau

menghilang.

 

7.1.1. Menambahkan Transisi

Transisi mempunyai channel-nya sendiri yang terletak pada Effect

Channel pada score. Transisi selalu terjadi setelah akhir

frame sprite pertama dan sebelum awal frame sprite kedua tempat

transisi tersebut ditempatkan.

 

Untuk menambah transisi pada movie ikuti langkah berikut:

1. Pada channel transisi, pilih frame pertama dari sprite kedua tempat

kita ingin efek transisi itu terjadi.

2. Pilih Modify > Frame > Transition, atau klik ganda frame pada

channel transisi, akan muncul kotak dialog Frame properties:

Transition.

• Categories: berisi pengelompokan efek-efek transisi ke dalam

kategori-kategori sehingga mempermudah pencarian.

• Transitions: daftar seluruh efek transisi Director.

• Duration: durasi lamanya efek itu akan dimainkan, default rata-rata

transisi adalah 2 detik, Anda bisa mengubahnya dengan mengatur

slider.

• Smoothness: kehalusan efek transisi itu dimainkan. Semakin ke

kiri slider tersebut, efek transisi akan semakin halus, begitu juga

sebaliknya.

• Affects: tidak semua efek mempunyai opsi ini, digunakan untuk

menentukan efek transisi yang ditimbulkan, ada dua pilihan.

– Entire Stage: efek transisi itu berlaku untuk seluruh stage.

– Changing Area Only: efek transisi hanya berlaku pada areal

kita meletakkan efek transisi.

3. Pada kotak dialog Frame properties transition, pilih Category

yang diinginkan.

4. Tentukan Duration, Smoothness dan Affect, jika perlu.

5. Klik OK, Director akan menampilkan nomor cast member sama

dengan nomor cast member transisi yang ada pada cast window.

Contoh 59: Memberi efek transisi.

Berilah transisi pada file Transisi.Dir agar setiap terjadi pertukaran

gambar terdapat efek transisinya.

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan seperti berikut:

1. Bukalah file Transisi_Mulai.Dir, dan simpan kembali dengan

nama Transisi.Dir.

2. Pada score telah terdapat tiga sprite dengan panjang masing-masing

10 frame. Sekarang, aktifkan cast window, klik pada cast member

slot ke-4.

3. Aktifkan effect channel dengan mengklik Hide/Show Effect

Channel.

4. Klik ganda pada frame 10, akan muncul parameter untuk frame

properties: Transition.

5. Kita akan memberi efek transisi, untuk itu klik pada kategori

Wipe, lalu pilih Center Out, Horizontal, klik OK.

6. Mainkan movie, playback head akan bertahan pada frame 10

tersebut selama 2 detik lalu dilanjutkan frame berikutnya, tetapi

tidak ada efek transisi. Mengapa?

7. Sekarang, klik pada efek transisi tersebut lalu sambil menekan

tombol mouse seret ke frame 11

8. Mainkan kembali movie, maka kita akan melihat perubahan dari

gambar pertama ke gambar kedua.

9. Berilah juga efek Other > Random Columns pada frame ke-21,

agar ada perubahan efek transisi dari gambar kedua ke gambar

ketiga.

10. Mainkan movie, dan simpan kembali.

 

7.1.2. Tip Menggunakan Transisi

Berikut beberapa tip untuk diingat ketika menggunakan transisi.

• Untuk memainkan sound ketika transisi terjadi, letakkan sound

pada frame sebelum transisi.

• Jika movie yang diekspor berisi transisi sebagai video digital atau

file gambar PICS, transisi tersebut mungkin tidak akan disertakan.

• Transisi yang terjadi pada sound atau video yang sedang dilakukan

dekompresi, mungkin membutuhkan resource komputer yang lebih

besar daripada yang tersedia pada sistem dengan spesifikasi rendah,

cobalah buat agar durasi transisi bisa lebih pendek dan hindari

transisi kompleks seperti dissolve, membuat movie dengan

spesifikasi rendah akan memastikan movie kita bisa dimainkan di

semua komputer dengan resource yang berbeda.

• Hindari looping pada frame yang mengandung transisi, memainkan

transisi secara terus-menerus bisa merusak perfomance.

 

7.2. Sound

Kita bisa memberikan sound pada movie yang kita buat. Seperti transisi,

sound dimasukkan pada channel khusus, yaitu Sound Channel, pada

Director terdapat dua sound channel (Gambar 7.5). Namun, sebenarnya

jumlah sound channel seluruhnya adalah delapan, yang enam lagi hanya

bisa dikontrol menggunakan behavior atau Lingo. Format file sound yang

didukung oleh Director adalah MP3, AIFF dan WAV.

 

7.2.1. Mengimpor Sound

Dalam Director, sound diimpor menggunakan dua cara, yaitu internal

(standar) dan link, lihat Gambar 7.6. Masing-masing mempunyai

kelebihan dan pemakaiannya bergantung pada kasus.

• Standard: file sound akan diimpor sebagai cast member internal.

Director akan menyimpan data sound ke movie atau file cast, dan

memasukkannya ke RAM seutuhnya sebelum sound ini dimainkan.

Cara ini sangat cocok untuk file sound berukuran kecil, kelebihan

cara ini adalah file sound akan langsung dimainkan begitu cast

member sound dimasukkan ke memori. Kekurangannya adalah

ukuran file movie membesar dan penggunaan file sound yang

berukuran terlalu besar akan banyak menghabiskan pemakaian

memori.

• Link To External File: file sound akan diimpor sebagai eksternal

cast member. Director hanya menyimpan alamat relatif yang

mereferensi ke lokasi file sound tersebut. Dengan demikian, setiap

kali file sound ini dimainkan, Director akan mengimpor data sound

berdasarkan alamat relatif tersebut, sehingga kita harus menyer-
takan file sound tersebut saat kita mendistribusikan movie kita.

Keuntungannya adalah penggunaan memori yang lebih efisien,

terutama untuk komputer yang mempunyai resourse RAM yang

kecil, dan file movie bisa tetap berukuran kecil. Kekurangannya

adalah oleh karena hanya sebagai link, maka perlu waktu untuk

mengimpor data sound setiap kali sound ini dimainkan sehingga

ada delay (keterlambatan) waktu. Besarnya delay ini juga ber-
gantung pada resource komputer yang digunakan untuk memain-
kan movie, biasanya dalam ukuran milidetik. Jika kita lupa

menyertakan file sound tersebut, sound tersebut tidak akan bisa

dimainkan.

Contoh 60: Mengimpor sound metode standar.

Impor sound Crowd laught dan kick ke file Animasi_Bola2.Dir yang

telah kita buat pada Bab 4 dan simpan kembali dengan nama

Animasi_Bola2_Sound.Dir menggunakan metode standar.

Jawab:

 

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut.

1. Buka kembali file Animasi_Bola2.Dir pada Bab 4, lalu klik File >

Save As Animasi_Bola2_Sound.Dir.

2. Klik pada icon Import, dan bukalah folder Sound pada CD penyerta.

3. Sorot file Crowd Laught.mp3 dan Kick.Wav, lihat Gambar 7.7.

4. Oleh karena file sound ini berukuran kecil, maka kita akan

menggunakan metode internal. Pada kolom Media, pastikan yang

dipilih adalah Standard Import.

5. Simpan kembali movie.

 

7.2.2. Memasukkan Sound ke Score

Seperti halnya video, cast member sound hanya akan dimainkan,

sepanjang frame yang telah ditetapkan untuk sprite sound tersebut.

Selanjutnya, pada contoh Animasi_Bola2_ Sound.Dir tersebut, kita

akan membuat suara setiap kali bola mengenai lantai, dan pada bagian

terakhir suara orang yang tertawa, bersamaan dengan keluarnya teks.

Contoh 61: Memasukkan sound ke sound channel.

Modifikasi contoh 60 dengan memasukkan sound kick ke sound channel

1 frame 55,80,105,138 dan 157, masukkan pula sound Crowd ke frame

158-245.

 

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Pastikan movie Animasi_Bola2_Sound.Dir, masih dalam keadaan

terbuka.

2. Kita akan membuat suara kick sepanjang 6 frame, untuk setiap kali

bola mengenai lantai. Untuk itu, seret cast member kick ke sound

channel 1, pada frame 20-24.?

3. Selanjutnya, kita akan menggandakan sprite ini. Masih pada sound

channel 1, klik di antara frame 20-24, klik Ctrl+C, klik kanan pada

frame 55, lalu klik Paste.

4. Ulangi untuk setiap kali bola menyentuh lantai, yaitu pada frame 80,

105, 138 dan 157.

5. Seret cast member crowd ke sound channel 2, frame 158.

6. Pada property inspector ubah, End Frame menjadi 245.

7. Mainkan movie, setiap kali bola menyentuh lantai akan terdengar

suara dug, dan pada bagian akhir ada suara orang tertawa bersamaan

keluarnya teks, simpan kembali movie ini.

Contoh 62: Mengimpor sound metode link.

Impor sound Crowd laught dan kick ke file Animasi_Bola2.Dir yang

telah kita buat pada Bab 4 dan simpan kembali dengan nama

Animasi_Bola2_Sound_Link.Dir, menggunakan metode link to

external file.

 

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Buka kembali file Animasi_Bola2.Dir pada Bab 4, lalu klik File >

Save As Animasi_Bola2_Sound_Link.Dir.

2. Klik pada icon Import, dan bukalah folder Sound pada CD penyerta.

3. Sorot file Crowd Laught.mp3 dan Kick.Wav.

4. Pada kolom Media, pastikan yang dipilih adalah Link to External

File.

5. Simpan kembali movie.

Contoh 63: Memasukkan sound ke sound channel.

Modifikasi Contoh 62 dengan memasukkan sound kick ke sound channel

1 frame 55,80,105,138 dan 157, masukkan pula sound Crowd ke frame

158-245.

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Pastikan movie Animasi_Bola2_Sound_Link.Dir, masih dalam

keadaan terbuka.

2. Seret cast member kick ke sound channel 1, pada frame 20-24.

3. Selanjutnya, kita akan menggandakan, sprite ini, masih pada sound

channel 1, klik di antara frame 20-24, lalu klik Ctrl+C, lalu klik

kanan pada frame 55, lalu klik paste.

4. Ulangi untuk frame 80, 105, 138 dan 157.

5. Seret cast member crowd ke sound channel 2, frame 158.

6. Pada property inspector ubah, End Frame menjadi 245.

7. Mainkan movie, dapat kita simpulkan bahwa cara memasukkan

sound yang diimpor dengan cara standar dan link adalah sama.

 

7.2.3. Sound Properties

Untuk melihat properties sound, ikuti langkah berikut:

1. Klik pada cast kick yang ada di cast window atau pada sprite kick

yang ada sound channel 1.

2. Aktifkan property inspector, kita akan bisa melihat tambahan tab

dengan icon Sound, klik tab tersebut. Lihat Gambar 7.9.

Untuk membuat sound ini dimainkan berulang-ulang, klik kotak cek

loop, selain itu kita juga bisa melihat informasi yang tidak bisa diubah

seperti Duration, Sample Rate, Bit Depth dan Channel. Untuk

memainkan sound secara langsung, klik pada tombol Play.

 

7.3. Digital Video dalam Director

Dengan Director, kita juga bisa memainkan file-file Video, namun perlu

diperhatikan bahwa Director hanya bisa memainkan file Video tetapi

tidak bisa mengedit file video tersebut. Format Video yang paling sering

dipakai oleh Director adalah Quicktime Movie (dengan extension MOV)

dan Video for Windows (dengan extension AVI), namun Director juga

mendukung format RealMedia dan MPEG, pada bab ini kita hanya akan

memfokuskan pembahasan pada format yang sering dipakai saja, yaitu

MOV dan AVI.

 

7.3.1. Mengimpor Video

File video diimpor sebagai media eksternal, yang berarti bahwa Director

hanya memasukkan referensi lokasi file video saat diimpor. Ini bisa

dimengerti, karena file video biasanya berukuran besar, sehingga dengan

diimpor secara eksternal bisa memperkecil file movie tersebut. Oleh

karena itu, kita harus menyertakan file video bersama dengan movie

Director.

 

Untuk mengimpor file video ikuti langkah berikut:

1. Klik icon Import pada toolbar.

2. Pilih file video (MOV atau AVI) yang diinginkan lalu klik Import.

Ketika movie dimainkan, Director akan mencari alamat relatif yang sama

dengan alamat ketika kita mengimpor file tersebut. Umpama, kita

menyimpan file video pada folder E:\Presentasi\Video\, dan file Director

pada folder E:\Presentasi\, dan jika folder video tersebut dipindah ke

tempat lain, misalnya C:\Video\, maka Director tidak akan bisa

memainkan file video tersebut, dan akan muncul kotak dialog yang

menanyakan lokasi file video tersebut. Lihat Gambar 7.10.

 

7.3.2. QuickTime Movie (MOV)

Format ini paling banyak digunakan karena file quicktime bisa dibuka

baik pada komputer Macintosh maupun Windows. Namun, tidak seperti

file AVI, untuk memainkan video quicktime kita harus memastikan

QuickTime Player sudah terinstal. QuickTime Player terbaru bisa

didapat secara gratis pada situs http://www.quicktime.com.

Contoh 64: Mengimpor Video QuickTime (MOV).

Buka sebuah movie baru lalu impor sebuah file video quicktime lalu

mainkan dengan quicktime window. Simpan dengan nama

contoh_videoMov.Dir.

 

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Buat sebuah movie baru dengan stage size = 500 x 330 dan simpan

dengan nama contoh_videoMov.Dir.

2. Klik icon Import pada toolbar, masuk pada folder C:\Program

Files\Macromedia\Director 8.5\Learning\ Lingo_Examples dan

pilihlah Vid.MOV, lalu klik Import.

3. Klik Window > Quicktime untuk membuka Quicktime Window,

tekan tombol Play untuk memainkan video tersebut. Simpan

kembali movie ini. Lihat Gambar 7.11.

 

7.3.3. Memainkan Cast Member Video Digital

File video akan dimainkan sepanjang jumlah frame cast member video

tersebut. Umpama, jika kecepatan movie anda adalah 15 frame per detik

dan panjang sprite Anda adalah 28 frame, file video tersebut akan

dimainkan tidak sampai 2 detik. Untuk bisa memainkan seluruh file

video digital atau sound, kita bisa menggunakan tiga cara berikut:

• Memperpanjang durasi sprite pada score. Video akan tetap

dimainkan selama playback head bergerak sepanjang frame sprite

tersebut. Cara ini biasanya kurang praktis, karena agak sulit untuk

mencocokkan panjang video dengan panjang sprite pada score.

• Menggunakan Lingo (akan dibahas pada Bab 9) dan/atau behavior

Hold On Current Frame untuk membuat playback head tetap

melakukan looping pada frame yang berisi video digital, sehingga

panjang sprite pada score tidak akan berpengaruh, kita tetap bisa

memainkan video dengan panjang sprite 5 frame atau lebih, asalkan

frame terakhir tetap melakukan looping.

• Menggunakan Cue Point yang terdapat pada Tempo Channel,

untuk memainkan video tersebut sampai selesai, baru playback head

menuju frame berikutnya.

Contoh 65: Memasukkan dan mengatur durasi video QuickTime ke

Stage.

Modifikasi Contoh 64 dengan menyeret file video tersebut ke stage dan

atur agar panjang frame agar video bisa dimainkan sampai selesai

menggunakan ketiga cara seperti yang telah dibahas di atas.

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Pastikan file Contoh_VideoMOV.Dir masih terbuka. Seret cast

member Vid.mov tersebut ke sprite channel 1, frame 1-28. Lihat

2. Mainkan video tersebut, kita akan melihat bahwa video tersebut

telah berhenti padahal baru dimainkan, sehingga kita tidak bisa

melihat keseluruhan video tersebut.

 

Gambar 7.12. Hasil sementara

3. Klik pada sprite Vid, lalu aktifkan property inspector dan ganti end

frame menjadi 100. Coba mainkan lagi, masih belum selesai.

4. Ganti kembali end frame dengan 300, lalu mainkan lagi movie. Kali

ini berlebih, jadi untuk menggunakan teknik ini kita perlu

mengetahui dengan jelas durasi file video tersebut, baru disesuaikan

dengan panjang sprite.

5. Sekarang, ganti End Frame menjadi 10 , lalu aktifkan

Library Palette, seret behavior Hold On Current Frame ke frame

10, lalu mainkan video tersebut. Kita bisa melihat video digital

tersebut dimainkan sampai selesai.

6. Selanjutnya, kita akan mencoba menggunakan teknik que, hapus

hold on current frame tersebut, lalu klik icon show or hide effect

channel.

7. Klik ganda pada frame 10, pada channel tempo,

sehingga akan muncul frame properties, klik pada Wait For Cue

Point, dan pastikan channel diisi dengn MOV1. Biarkan pengaturan

yang lainnya. Klik OK.

8. Sekarang, mainkan kembali movie, seperti Hold On Current Frame,

file video akan dimainkan sampai selesai. Bedanya, jika pada Hold

On Current Frame playback head akan tetap di sana sampai ada

perintah untuk memindahkan playback head tersebut ke frame

selanjutnya. Sedangkan dengan teknik que, setelah video selesai

dimainkan, playback head akan melanjutkan ke frame berikutnya.

9. Simpan kembali movie.

 

7.3.4. Properties QuickTime Video

Untuk melihat property dari video MOV, aktifkan property inspector.

Lalu, kita akan melihat tab tambahan, yaitu tab QuickTime dengan icon

logo QuickTime.

Property Inspector MOV

• Paused: jika opsi ini diberi tamda centang, saat movie dimainkan

file video ini tidak akan dimainkan sampai ada perintah untuk

memainkan file video ini (biasanya dengan behavior atau script

Lingo).

• Loop: aktifkan pilihan ini jika Anda ingin file video dimainkan

berulang-ulang.

• Streaming: aktifkan pilihan ini jika movie yang kita buat akan

didistribusikan ke Internet. Pilihan ini akan mempercepat proses

download, karena movie akan dimainkan sambil sisanya di-
download.

 

7.3.5. Microsoft Video for Windows (AVI)

Seperti telah disebutkan sebelumnya bahwa Director juga mendukung

file video AVI. Perbedaan penggunaan video dengan format AVI dan

MOV, yaitu dengan menggunakan file AVI kita tidak perlu menginstal

QuickTime Player, selain itu saat diimpor Director akan menanyakan

apakah file AVI ini akan diimpor sebagai Quicktime atau AVI.

Contoh 66: Mengimpor Video AVI sebagai AVI.

Buka sebuah movie baru dan impor sebuah video avi, lalu seret ke score

berikan behavior Hold On Current Frame agar movie bisa dimainkan

sampai selesai dan simpanlah dengan nama contoh_VideoAVI.Dir.

Jawab:

1. Buka sebuah movie baru dan simpan dengan nama

contoh_VideoAVI.Dir.

2. Klik icon Import yang ada pada toolbar untuk mengimpor video.

Masuk ke folder video, lalu klik AVI. Klik icon Import, maka akan

keluar kotak dialog Select Format (Gambar 7.18) yang menanyakan

apakah akan mengimpor file AVI ini dalam format QuickTime atau

AVI. Klik pada AVI lalu klik OK.

3. Pada cast window akan bertambah 1 cast member dengan icon video

camera , simpan kembali movie.

4. Seret cast video avi tersebut ke score channel 1, frame 1-28.

5. Seret behavior Hold On Current Frame ke script channel pada frame

6. Mainkan dan simpan kembali movie, kita akan melihat bahwa

tidak ada perbedaan cara memasukkan video QuickTime dan AVI.

Contoh 67: Mengimpor Video AVI sebagai QuickTime.

Buka sebuah movie baru dan import sebuah video avi. Import video avi

sebagai video quicktime.

 

Jawab:

Ikuti langkah-langkah pengerjaan berikut:

1. Buka sebuah movie baru.

2. Klik icon Import yang ada pada toolbar untuk mengimpor video,

masuk ke folder video, lalu klik AVI, lalu klik icon Import.

3. Pada kotak dialog Select format (Gambar 7.18), pilih format

QuickTime.

4. Klik OK, pada cast window akan bertambah 1 cast member dengan

icon quicktime. Ini menunjukkan bahwa video avi telah diimpor

sebagai video quicktime.

 

7.3.6. Properti Video AVI

Kita bisa melihat bahwa properti untuk MOV dan AVI tidak banyak

berbeda. Perbedaannya hanya terletak pada ada tidaknya controller dan

preload. Pada Video AVI, terdapat tambahan preload yang digunakan

untuk memasukkan file video terlebih dahulu ke memori sebelum

dimainkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s