KEWIRAUSAHAAN : BAB 7

BAB VII.

Mengembangkan Inovasi dan Menciptakan Produk
dan Layanan yang unggul

Untuk berwirausaha, inovasi dan kreatifitas adalah hal yang perlu dimiliki dan
dikembangkan dalam diri wirausaha demi perkembangan dan kesuksesan sebuah usaha.

Keduanya sering kali dipandang hampir serupa. Inovasi dan kreatifitas adalah inti dari
kewirausahaan. Pada dasarnya sebuah inovasi dalam berusaha adalah kemampuan untuk
menerapkan solusi kreatif terhadap masalah dan peluang untuk meningkatkan atau untuk
memperbaiki kinerja usaha. Sedangkan kreatifitas dapat dipandang sebagai kemampuan
untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam melihat
masalah dan peluang.

Kemampuan yang dihasilkan oleh kreativitas merupakan kemampuan dalam membuat
sesuatu menjadi baru dalam keberadaannya dan merupakan pembentukan ide-ide baru
yang original dan tidak biasa atau unik. Pola pikir dari orang kreatif adalah berpikir out of
the box, serta memiliki pikiran yang terbuka dan bebas untuk mendekati sesuatu dengan
cara baru. Sedangkan, inovasi adalah mengimplementasikan kreatifitas terhadap sesuatu
menjadi satu kombinasi baru yang dapat menghasilkan. Definisi baru disini tidak selalu
berarti original, melainkan kebaruan atau diperbaharui, yang berarti juga adalah
improvement, karena inovasi tidak harus selalu barang atau jasa baru, melainkan perbaikan
atau pengembangan dari barang atau jasa yang telah ada.

Pengembangan usaha membutuhkan kemampuan inovasi dan kreatifitas untuk
menghadapi tantangan dalam usaha, khususnya untuk menemukan produk dan layanan
yang unggul. Banyak produk dan layanan yang dihasilkan oleh pebisnis sukses merupakan
hasil inovasi dan kreatifitas yang dikembangkan dalam usaha. Oleh karena itu, untuk
menjadi wirausaha yang unggul diperlukan kemampuan melakukan inovasi dan kreatifitas.
“Creativity is thinking up new things. Innovation is doing new things.” – Theodore Levitt.

KREATIFITAS DAN INOVASI

8.1. Peranan Inovasi dan Kreativitas dalam Pengembangan Produk dan Jasa
Inovasi memegang peranan penting dalam mengembangkan produk dan jasa dalam
bisnis. Berbagai kesuksesan wirausaha di dunia disebabkan oleh kreatifitas dalam
mengembangkan produk. Persaingan yang ketat dalam berwirausaha mendorong wirausaha
untuk memiliki kreatifitas yang tinggi. Daya kreatifitas tersebut harus dilandasi cara berpikir
yang maju, gagasan-gagasan baru yang berbeda dibandingkan produk-produk yang telah
ada. Berbagai gagasan-gagasan yang kreatif umumnya tidak dapat dibatasi oleh ruang,
bentuk ataupun waktu dan memberikan terobosan-terobosan baru dalam dunia usaha yang
pada awalnya kelihatan mustahil.
Saat ini berbagai hasil inovasi yang didasarkan kreatifitas wirausaha menjadi produk
dan jasa yang unggul. Wirausaha melalui proses kreatif dan inovatif menciptakan nilai
tambah atas barang dan jasa yang kemudian menciptakan berbagai keunggulan termasuk
keunggulan bersaing. Perusahaan seperti Microsoft, Sony, dan Toyota Motor, merupakan
contoh perusahaan yang sukses dalam produknya karena memiliki kreativitas dan inovasi
dibidang teknologi. Berikut contoh-contoh di dalam dunia nyata.

A. Microsoft & Kreativitas
Bill Gates, pendiri dan CEO dari Microsoft, telah sering bebas menyatakan bahwa ia
tidak inovator dan tidak ingin menjadi pemimpin dalam pengembangan perangkat lunak,
bisnis yang berisiko tinggi dengan masa depan yang tidak dapat diprediksi. Dia lebih memilih
perusahaan lain untuk datang dengan ide-ide inovatif dan menguji pemasaran mereka. Jika
berhasil, Microsoft juga akan mencoba untuk mendapatkan teknologi mereka, atau
mengembangkan produk untuk aplikasi serupa.
Bill Gates mengklaim bahwa sebagai hasil dari pemikiran seperti ini, perusahaannya
mulai dari awal gaya yang sangat sederhana dan basement, dan telah berkembang menjadi
pengembang perangkat lunak yang dominan di dunia, sementara membuat dia orang
terkaya di dunia.
Bill Gates adalah orang yang sangat kreatif yang tahu bagaimana menerapkan
kreativitas untuk berbagai teknik pengembangan pasar. Kontrak yang terkenal dengan IBM
untuk mengembangkan MS DOS adalah apa yang membawa Microsoft dari perusahaan skala
kecil software biasa untuk menjadi pemain utama. Dalam kontrak itu, ia cukup kreatif untuk
menemukan cara untuk melayani IBM, sambil mempertahankan hak lisensi dari “sistem
operasi nya.
Di belakang, banyak analis mengklaim bahwa itu adalah kepicikan dari IBM untuk
membiarkan Bill Gates untuk pergi dengan kontrak tersebut. Mungkin kepicikan adalah
faktor. Tetapi jika kita memproyeksikan kembali ke awal 1980-an, sangat sedikit orang akan
memiliki visi untuk mengenali pentingnya perangkat lunak, dan bahkan lebih sedikit
pertumbuhan potensinya.
Bill Gates adalah cukup kreatif untuk mengusulkan semacam kontrak untuk IBM, dan
IBM adalah rabun cukup untuk menerimanya. Bill Gates adalah pemasar sangat kreatif.

B. Membongkar kode Perang Dunia II
Selama Perang Dunia II, badan intelijen Inggris bingung oleh torpedo kapal dagang di
lepas pantai Inggris dan Irlandia. Mereka mencegat pesan dipahami dari Jerman ke U-perahu
mereka komandan. Untuk mempercepat mengartikan dan efektivitas mencegat pesan,
lembaga menemukan apa yang disebut mesin Turret yang merupakan kelanjutan dari proses
pemecahan kode secara resmi dilakukan dengan tangan. Itu begitu sukses bahwa sekutu
yang tenggelam kapal selam Jerman di tingkat satu hari. Mesin Turret digunakan sampai
1944 ketika Jerman tertangkap pada kode menerobos agen ganda dan pada gilirannya
meningkatkan kemungkinan jawaban yang benar secara eksponensial dengan mesin baru.
Inggris kemudian pada gilirannya menciptakan apa yang tidak dikenal, komputer
diprogram pertama untuk memecahkan kode baru Jerman. The “komputer” diperintahkan
untuk dimusnahkan oleh Pemerintah Inggris setelah D-Day untuk melindungi operasi
intelijen mereka dan judul komputer pertama pada gilirannya pergi ke tahun “ENIAC” satu
nanti.

C. Kreativitas & DNA
James Watson, seorang ahli genetika Amerika, dan Francis Crick, seorang ahli fisika
Inggris, bekerja sama untuk beberapa waktu di University of Cambridge di Inggris,
menemukan struktur DNA. Peneliti lain telah mencoba banyak pendekatan, namun tidak
satupun dari mereka bisa datang dengan penjelasan yang memuaskan untuk struktur DNA.
Cerita berlanjut bahwa satu malam pada tahun 1953, salah satu dari dua ilmuwan
bermimpi. Dia bermimpi bahwa dua ular yang saling terkait satu sama lain dan menari. Dia
terbangun kaget dari mimpi. Saat itulah pekerjaan detektif intensif mereka datang ke
puncaknya dalam bentuk dua untai DNA yang diadakan bersama-sama dalam bentuk helix
ganda sekarang terkenal.

D. Kreatif kepicikan Xerox
Pada tahun 1970, Xerox Palo Alto Research Center (PARC) dibuka di Palo Alto,
California. Xerox menyiapkan laboratorium khusus ini, dengan sejumlah antar-disiplin tim
peneliti dan brainstormers. Tujuan mereka adalah untuk kembali defme masa depan Xerox,
jadi ketika kantor paperless mengambil alih, Xerox, perusahaan dokumen, masih akan
berada dalam bisnis.
Tim telah datang dengan ide-ide banyak dan prototipe perangkat keras dan perangkat
lunak untuk memfasilitasi pembangunan tersebut. Ini menciptakan prototipe dari komputer
pribadi (Alto), Area Network pertama Lokal untuk menghubungkan komputer kantor
(Ethernet) dan printer laser komersial pertama. Ada juga inovasi seperti icon komputasi
berbasis-sistem on-screen simbol dan “mouse” pointer ke perintah masalah – dan jendela
berbasis komputasi sendiri juga muncul menjadi di PARC untuk beberapa nama.
Xerox manajemen adalah cerdas dalam mengakui bahwa kantor paperless tidak bisa
dihindari. Alih-alih memerangi itu, mereka memutuskan untuk menjadi pelopor kreatif
dalam bidang tersebut. Namun kepicikan mereka adalah bahwa mereka tidak dapat melihat
masa depan sebagai tangan mereka memilih tim yang melihatnya.
Steven Jobs dari komputer Apple, dan Bill Gates dari Microsoftkeduanya mengakui
bahwa mereka membuat penuh penggunaan beberapa karya perintis dari pendekatan
laboratorium Xerox dan prototipe. Namun Xerox manajemen gagal untuk mengenali
kreativitas tim sendiri, sedangkan komputer dan industri perangkat lunak menjadi berkalikali
lebih besar dari teknologi fotokopi.

E. Kreativitas di Apple Computers
Komputer Apple adalah contoh yang baik dari pasang surut dari proses kreatif. Apple
memiliki ide-ide besar dan orang-orang menyukai komputer mereka yang sederhana dan
mudah digunakan. “Desktop” cara mereka mengorganisasikan materi pada komputer –
dengan sampah yang bisa untuk pembersihan – mengajukan banding ke non-teknisi. Tetapi
Apple punya masalah. Ide teknis yang jauh ke depan dari waktu, namun pendekatan
manajerial dan pemasaran adalah pelit, lebih cocok dengan pemikiran abad terakhir. Mereka
tidak membuat sistem operasi mereka tersedia secara luas sehingga orang lain bisa menulis
program yang akan dijalankan pada komputer mereka, sehingga meningkatkan penerapan
dan permintaan untuk komputer mereka. On dan off Apple memiliki gelombang kreativitas
yang membawanya kembali, tapi kemudian lagi akan terjerumus ke dalam tinta merah.
Melalui kompetisi, Apple terpaksa kembali ke papan gambar dan menciptakan sesuatu
yang baru dan lebih baik, dan kemudian seri Macintosh keluar dan memberi Apple
kebangkitan sangat dibutuhkan yang sedang mencari. Tapi sekali lagi, terutama melalui
pertempuran ego, kreativitas yang menahan di Apple, dan kehilangan pangsa pasarnya. Tinta
merah mengalir dengan bebas. Dengan penciptanya, Steven Jobs, kembali, perusahaan
tampaknya lagi akan siap untuk comeback.

8.2. Mengembangkan Produk dan Jasa Yang Unggul
Salah satu yang harus dilakukan oleh wirausaha adalah mengembangkan produk dan
jasa yang unggul. Secara umum proses ini adalah proses kreatif dan inovasi yang harus
dilakukan oleh wirausaha. Selain itu adanya perubahan yang cepat dalam selera, teknologi
dan persaingan yang ketat merupakan suatu kondisi yang menuntut banyak perusahaan
yang bersaing memperebutkan peluang pasar baik itu perusahaan yang menghasilkan
produk sejenis maupun perusahaan yang menghasilkan produk beragam.
Hal ini menuntut wirausaha untuk dapat melahirkan strategi dalam mensiasati pasar
dengan peluncuran produk inovasi baru (pioneer product). Seorang wirausaha dapat
mengembangkan produk mengikuti strategi umum yang dilakukan oleh perusahaan. Sebuah
perusahaan dapat memperoleh produk baru lewat dua cara yaitu :

1. Akuisisi yaitu dengan
membeli seluruh perusahaan, hak paten, atau lisensi untuk membuat produk perusahaan
lain

2. Lewat pengembangan produk baru dalam departemen litbang perusahaan sendiri
yang berupa pengembangan produk asli, perbaikan produk, modifikasi produk, dan merek.
(Kotler, 1987).

Para wirausaha khususnya wirausaha baru tentunya tidak diarahkan untuk membeli
perusahaan, paten dan lisensi, akan tetapi sesuai dengan teori tersebut, maka salah satu
proses dalam mengembangkan produk oleh wirausaha baru adalah mengembangkan produk
yang baru yang asli, memperbaiki produk, memodifikasi produk dan bahkan memperbaiki
merek.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 6

BAB VI.

Komunikasi dan Interpersonal Skill :

Kepemimpinan
Dalam kehidupan sehari-hari aktivitas wirausaha yang tidak terlepas dari sikap
kepemimpinan bahkan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Kepemimpinan dan
Kewirausahaan adalah kemampuan diri seseorang dalam menentukan dan mengevaluasi
peluang-peluang yang ada dengan mengelola sumber daya yang tersedia.
Kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dalam hal ini para
bawahan sedemikian rupa sehingga orang lain mau melakukan kehendak Pemimpin
meskipun secara pribadi hal ini mungkin tidak disenangi. Sukses tidaknya dalam mencapai
tujuan organisasi tergantung pada kemampuan pimpinan mempengaruhi bawahan dalam
mengajak dan menyakinkan mereka, sehingga para bawahan ikut berpartisipasi terhadap
apa yang telah dianjurkan dengan penuh semangat.

6.1. Pengertian Kepemimpinan
Menurut Griffin dan Ebert, kepemimpinan (leadership) adalah proses memotivasi
orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.1
Lindsay dan Patrick dalam membahas “Mutu Total dan Pembangunan Organisasi”
mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah suatu upaya merealisasikan tujuan
perusahaan dengan memadukan kebutuhan para individu untuk terus tumbuh berkembang
dengan tujuan organisasi. Perlu diketahui bahwa para individu merupakan anggota dari
perusahaan. Peterson at.all mengatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu kreasi
yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan internal dan
eksternal organisasi.

Dari ketiga definisi tersebut dapat dinyatakan bahwa kepemimpinan merupakan
suatu upaya dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan organisasi melalui
orang lain dengan cara memberikan motivasi agar orang lain tersebut mau
melaksanakannya, dan untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kebutuhan
individu para pelaksana dengan tujuan perusahaan. Lingkup kepemimpinan tidak hanya
terbatas pada permasalahan internal organisasi, melainkan juga mencakup permasalahan
eksternal.

Dalam konteks kelompok (tim) bisnis, secara internal seorang ketua tim harus dapat
menggerakkan anggota tim sedemikian rupa sehingga tujuan dapat dicapai. Seorang
ketua tim harus dapat memahami kelebihan dan kekurangan anggota timnya, sehingga
dapat menentukan penugasan yang harus diberikan kepada setiap anggota tim. Dilain pihak,
secara ekternal seorang ketua tim harus dapat mempengaruhi investor agar mau
menginvestasikan dananya kepada bisnisnya.

6.2. Peran Kepemimpinan dalam Manajemen
Kepemimpinan lebih erat kaitannya dengan fungsi penggerakan (actuating) dalam
manajemen. Fungsi penggerakan mencakup kegiatan memotivasi, kepemimpinan,
komunikasi, pelatihan, dan bentuk-bentuk pengaruh pribadi lainnya. Fungsi tersebut juga
dianggap sebagai tindakan mengambil inisiatif dan mengarahkan pekerjaan yang perlu
dilaksanakan dalam sebuah organisasi. Dengan demikian actuating sangat erat kaitannya
dengan fungsi- fungsi manajemen lainnya, yaitu: perencanaan, pengorganisasian, dan
pengawasan agar tujuan-tujuan organisasi dapat dicapai seperti yang diinginkan. Winardi
juga mengemukakan bahwa sekalipun terdapat banyak teori tentang fungsi-fungsi
manajemen, namun dapat disederhanakan bahwa fungsi manajemen setidaknya
meliputi: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan.

Dalam perencanaan telah ditetapkan arah tindakan yang mengarahkan sumber daya
manusia dan sumber daya alam untuk dapat direalisasikan. Rencana-rencana yang
ditetapkan telah menggariskan batas-batas di mana orang-orang mengambil keputusan dan
melaksanakan aktivitas-aktivitas. Hal ini berarti telah dilakukan antisipasi tentang kejadiankejadian,
masalah- masalah yang akan muncul, dan hubungan kausalitas antar pihak
terkait dalam suatu organisasi di masa mendatang. Mengingat bahwa di masa mendatang
terdapat penuh ketidakpastian, maka antisipasi yang telah ditetapkan pun sering tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Untuk ini para manajer harus siap menghadapi keadaan
darurat dengan mengembangkan rencana-rencara alternatif.

Dalam pengorganisasian, manajemen menggabungkan dan mengkombinasikan
berbagai macam sumber daya menjadi satu kesatuan untuk dapat memberikan manfaat
yang lebih berdaya guna. Sumber daya tersebut dikelompokkan sesuai dengan sifat dan
jenisnya, diberikan peran/fungsi, dan dijalin sedemikian rupa untuk dapat saling berinteraksi
menjadi suatu sistem. Sistem yang telah ditentukan diarahkan untuk dapat memproduksi
barang/jasa sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam perencanaan. Dalam organisasi,
yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan terdiri dari para manajer,
para supervisor, dan para pelaksana.

Dengan rencana yang telah ditetapkan, mereka yang terlibat akan merealisasikannya,
bahkan dalam proses mencapai manajemen mutu total. Kegiatan atau proyek suatu
organisasi merupakan hasil dari kreasi para manajer atau hasil dari gagasan yang
disampaikan oleh para pelaksana, tim, atau kelompok pekerja. Selanjutnya pihak-pihak
tersebut bekerja sebagai suatu tim

Kepemimpinan berperan sangat penting dalam manajemen karena unsur manusia
merupakan variabel yang teramat penting dalam organisasi. Seperti dikemukakan di atas
bahwa yang terlibat dan bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan organisasi terdiri dari
para manajer, para supervisor, dan para pelaksana. Manusia memiliki karakteristik yang
berbeda-beda mempunyai kepentingan masing-masing, yang bahkan saling berbeda dan
berakibat terjadi konflik. Perbedaan kepentingan tidak hanya antar individu di dalam
organisasi, tetapi juga antara individu dengan organisasi di mana individu tersebut berada.

Sangat mungkin bahwa perbedaan hanya dalam hal yang sederhana, namun ada
kalanya terjadi perbedaan yang cukup tajam. Tanpa kepemimpinan yang baik, hal-hal
yang telah ditetapkan dalam perencanaan dan pengorganisasian tidak akan dapat
direalisasikan. Kepemimpinan sangat diperlukan agar semua sumberdaya yang telah
diorganisasikan dapat digerakkan untuk merealisasikan tujuan organisasi.
Domingo, dalam membahas kepemimpinan kualitas (quality leadership)
mengemukakan bahwa manajemen tingkat puncak harus kokoh berinisiatif untuk
mengedepankan pentingnya kepemimpinan kualitas. Pimpinan puncak harus mendorong
seluruh pegawai dan harus menjadi teladan. Segala pikiran dan perkataannya harus
merefleksikan filosofi kualitas yang diterapkan perusahaan. Pimpinan puncak harus berpikir
dan bertindak demi kualitas dalam segala situasi dan bersedia mendengarkan siapa
pun, bahkan dari seseorang yang berada di tingkat paling bawah, yang mau
menyumbangkan pendapatnya untuk peningkatan kualitas.
Domingo (1997) mengartikan kualitas sebagai “melakukan sesuatu yang benar
secara benar sejak awal” (“doing the right thing right the first time”).8 Domingo juga
mengatakan bahwa “menghendaki kualitas berarti berbuat baik untuk melayani konsumen”.

Domingo mengemukakan tiga hal dari tujuh belas dasar kepemimpinan yang diterapkan di
General Douglas McArthur, yaitu selalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan berikut
dalam setiap tindakannya, sebagai berikut:
> Apakah seluruh kekuatan yang ada pada saya telah saya arahkan untuk mendorong,
memberikan insentif, dan membebaskan dari kelemahan dan kesalahan?
> Apakah setiap perbuatan saya telah membuat bawahan saya mau mengikutinya?
> Apakah saya secara konsisten dapat menjadi teladan dalam karakter, berpakaian,
sopan-santun?

Dari tiga hal yang dikemukakan Domingo tersebut dapat diketahui bahwa seorang
pemimpin harus selalu berorientasi pada keberhasilan kepemimpinannya. Seluruh
kekuatannya difokuskan pada upaya mendorong dan memotivasi bawahannya agar mau
melaksanakan kegiatan untuk mencapai tiujuan organisasi dan setiap langkah serta
penampilannya diharapkan menjadi suri teladan bagi bawahannya. Dengan demikian
pemimpin yang baik selalu memberikan pelayanan terbaik kepada bawahannya, bukan
sebaliknya, meminta dilayani oleh para bawahannya. Seorang pemimpin juga rela
mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kemajuan para bawahannya, yang sebenarnya
hal ini juga untuk keberhasilan organisasinya.

6.3. Gaya Kepemimpinan
Pada awal pemunculan teori kepemimpinan telah diidentifikasikan berbagai kondisi
para pemimpin hebat Penampilan fisik, inteligensia, dan kemampuan berbicara di kalangan
publik merupakan ciri khas yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Pada waktu itu banyak
diyakini bahwa orang bertubuh tinggi lebih baik kemampuan memimpinnya dibandingkan
dengan orang yang bertubuh pendek. Namun belakangan ini telah terjadi pergeseran, cara
pandang tidak lagi pada penampilan fisik, melainkan pada gaya kepemimpinan. Griffin dan
Ebert mengemukakan 3 gaya kepemimpinan, yaitu:

1. gaya otokratik (autocratic style)

2. gaya demokratik (democratic style)

3. gaya bebas terkendali (free-rein style).

Pemimpin dengan gaya otokratik pada umumnya memberikan perintah- perintah dan
meminta bawahan untuk mematuhinya. Para komandan militer di medan perang umumnya
menerapkan gaya ini. Pemimpin yang menerapkan gaya ini tidak memberikan cukup waktu
kepada para bawahan untuk bertanya dan hal ini lebih sesuai pada situasi yang memerlukan
kecepatan dalam pengambilan keputusan. Gaya ini juga cocok untuk diterapkan pada situasi
di mana pimpinan harus cepat mengambil keputusan sehubungan adanya desakan para
pesaing. Gaya otokratik ini tidak selalu jelek seperti persepsi orang selama ini. Untuk
menghadapi anggota tim yang malas, tidak disiplin, susah diatur, dan selalu menjadi trouble
maker, gaya kepemimpinan otokratik sangat tepat untuk digunakan oleh seorang ketua tim.

Pemimpin dengan gaya demokratik pada umumnya meminta masukan kepada para
bawahan/stafnya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan, namun pada akhirnya
menggunakan kewenangannya dalam mengambil keputusan. Sebagai contoh, seorang
manajer teknik di bagian produksi melontarkan gagasannya terlebih dahulu kepada
kelompok yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut untuk mendapatkan tanggapan
dan atau masukan sebelum mengambil keputusan

Pemimpin dengan gaya bebas terkendali pada umumnya memposisikan dirinya
sebagai konsultan bagi para bawahannya dan cenderung memberikan kewenangan kepada
para bawahan untuk mengambil keputusan. Dengan gaya ini seorang pemimpin lebih
menekankan kepada unsur keyakinan bahwa kelompok pekerja telah dapat dipercaya
karena seringnya menyampaikan pendapat dan gagasannya, telah mengetahui apa yang
harus dikerjakan dan mengetahui bagaimanamengerjakannya sehingga pemimpin hanya tut
wuri handayani (broad based management).

Ketiga gaya kepemimpinan tersebut dapat digunakan oleh seorang ketua tim sesuai
dengan situasi yang dihadapinya. Situasi di sini meliputi waktu, tuntutan pekerjaan,
kemampuan bawahan, pimpinan, teman sekerja, kemampuan dan harapan-harapan
bawahan, serta kematangan bawahan. Beck dan Neil Yeager (2000) mengemukakan empat
gaya kepemimpinan yang lazim disebut kepemimpinan situasional (situational leadership)
berdasarkan interaksi antara pengarahan (direction) dengan pembantuan (support)

Secara universal, pola hubungan tersebut dapat dideskripsikan sebagai suatu pola
hubungan antara tinggi rendahnya hubungan perilaku (relationship behavior) manusia dengan
tinggi rendahnya perilaku pekerjaan (task behavior). Berdasarkan pola hubungan
tersebut, maka notasi gaya

kepemimpinan digambarkan sebagai berikut:
NOTASI                                                                          DESKRIPSI
>S1                                                                                    = Telling (Directing/Structuring)
>S2                                                                                    = Selling (Problem Solving/Coaching)
>S3                                                                                    = Participating (Developing/Encouraging)
>S4                                                                                    = Delegating

Keterangan :
S1. Telling (Directing/Structuring)
Seorang pemimpin yang senang mengambil keputusan sendiri dengan memberikan
instruksi yang jelas dan mengawasinya secara ketat serta memberikan penilaian kepada
mereka yang tidak melaksanakannya sesuai dengan yang apa anda harapkan. Kekuatan dari
gaya kepemimpinan ini adalah dalam kejelasan tentang apa yang diinginkan, kapan
keinginan itu harus dilaksanakan, dan bagaimana caranya.

Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah selalu ingin mendominasi semua
persoalan sehingga ide dan gagasan bawahan tidak berkembang. Semua persoalan akan
bermuara kepada sang pemimpin sehingga mengundang unsur ketergantungan yang tinggi
padanya.

Gunakanlah S1 apabila situasi dan bawahan adalah sebagai berikut:
> Orang baru yang mempunyai pengalaman terbatas untuk mengerjakan apa yang diminta
> Orang yang tidak memiliki motivasi dan kemauan untuk mengerjakan apa yang diharapkan.
> Orang yang merasa tidak yakin dan kurang percaya diri.
> Orang yang bekerja di bawah standar yang telah ditentukan.

S2. Selling (Coaching)
Seorang pemimpin yang mau melibatkan bawahan dalam pembuatan suatu
keputusan. Pemimpin bersedia membagi persoalan dengan bawahannya, dan sebaliknya
persoalan dari bawahan selalu didengarkan serta memberikan pengarahan mengenai apa
yang seharusnya dikerjakan. Kekuatan gaya kepemimpinan ini adalah adanya
keterlibatan bawahan dalam memecahkan suatu masalah sehingga mengurangi unsur
ketergantungan kepada pemimpin. Keputusan yang dibuat akan lebih mewakili Tim
daripada pribadi.

Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah tidak tercapainya efisiensi yang
tinggi dalam proses pengambilan keputusan. Gunakanlah S2 apabila situasi dan kondisi
bawahan sebagai berikut:
> Orang yang respek terhadap kemampuan dan posisi pemimpin.
> Orang yang mau berbagi tanggung jawab dan dekat dengan pemimpin.
> Orang yang belum dapat melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan standar yang
berlaku.
> Orang yang mempunyai motivasi untuk meminta semacam pelatihan atau training agar
dapat bekerja dengan lebih baik.

S3. Participating (Developing/Encouraging)
Salah satu ciri dari gaya kepemimpinan ini adalah adanya kesediaan dari pemimpin
untuk memberikan kesempatan bawahan agar dapat berkembang dan bertanggungjawab
serta memberikan dukungan sepenuhnya mengenai apa yang mereka perlukan. Kekuatan
gaya kepemimpinan ini adalah adanya kemampuan yang tinggi dari pemimpin untuk
menciptakan suasana yang menyenangkan sehingga bawahan merasa senang, baik dalam
menyampaikan masalah maupun hal- hal lain yang tidak dapat mereka putuskan. Pemimpin
selalu memberikan kesempatan kepada bawahan untuk dapat berkembang.

Kelemahan gaya kepemimpinan ini adalah diperlukannya waktu yang lebih banyak
dalam proses pengambilan keputusan. Pemimpin harus selalu menyediakan waktu yang
banyak untuk berdiskusi dengan bawahan. Gunakanlah S3 apabila situasi dan kondisi
bawahan sebagai berikut:
> Orang yang dapat bekerja di atas rata-rata kemampuan sebagian besar pekerja.
> Orang yang mempunyai motivasi yang kuat sekalipun pengalaman dan kemampuannya
masih harus ditingkatkan.
> Orang yang mempunyai keahlian dan pengalaman kerja yang sesuai dengan tugas yang
akan diberikan.

S4. Delegating
Dalam gaya ini, pemimpin memberikan banyak tanggung jawab kepada bawahan dan
memberikan kesempatan kepada mereka untuk memecahkan permasalahan. Kekuatan dari
gaya kepemimpinan ini adalah terciptanya sikap memiliki dari bawahan atas semua tugas
yang diberikan. Pemimpin lebih merasa santai sehingga mempunyai waktu yang cukup untuk
memikirkan hal-hal lain yang memerlukan perhatian lebih banyak.
Kelemahan dari gaya kepemimpinan ini adalah saat bawahan memerlukan keterlibatan
pemimpin, maka ada kecenderungan ia akan mengembalikan persoalannya kepada bawahan
meskipun sebenarnya itu tugas pimpinan.
Gunakanlah S4 jika situasi dan kondisi bawahan sebagai berikut:
> Orang yang mempunyai motivasi, rasa percaya diri yang tinggi dalam mengerjakan tugastugasnya.
> Orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai untuk mengerjakan tugas-tugas
yang sudah jelas dan rutin dilakukan.
> Orang yang berani menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan suatu tugas.
> Orang yang kinerjanya di atas rata-rata para pekerja pada umumnya

6.4. Syarat-syarat Kepemimpinan
Ada tiga hal penting dalam konsepsi kepemimpinan antara lain:
1. Kekuasaan
Kekuasaaan adalagh otorisasi dan legalitas yang memberikan wewenang kepada
pemimpin untuk mempengaruhi dan menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu
dalam rangka penyelesaian tugas tertentu.

2. Kewibawaan
Kewibawaan merupakan keunggulan, kelebihan, keutamaan sehingga pemimpin
mampu mengatur orang lain dan patuh padanya.

3. Kemampuan
Kemampuan adalah sumber daya kekuatan, kesanggupan dan kecakapan secara
teknis maupun social, yang melebihi dari anggota biasa.
Sementara itu Stodgill yang dikutip James A. Lee menyatakan pemimpin itu harus
mempunyai kelebihan sebagai persyaratan, antara lain:
1. Kepastian, kecerdasan, kewaspadaan, kemampuan berbicara, kemampuan menilai.
2. Prestasi, gelar kesarjanaan, ilmu pengetahuan dalam bidang tertentu.
3. Tangggung jawab, berani, tekun, mandiri, kreatif, ulet, percaya diri, agresif.
4. Partisipasi aktif, memiliki stabilitas tinmggi, kooperatif, mampu bergaul.
5. Status, kedudukan social ekonomi cukup tinggidan tenar.

6.5. Pemimpin Formal dan Informal
Dalam masyarakat kita mengenal jenis-jenis kepemimpinan antara lain pemimpin
negara, pemimpin agama, pemimpin seminar dan lain-lain. Sehingga dari berbagai jenis
kepemimpinan tersebut dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok besar yaitu pemimpin
formal dan pemimpin informal.

1. Pemimpin Formal
Pemimpin formal adalah orang yang dalam sebuah organisasi ditunjuk sebagai
pemimpin berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memangku suatu jabatan
dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajibannya untuk mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.

Ciri-ciri pemimpin formal
> Berstatus sebagai pemimpin formal yang ditunjuk oleh yang berwenang.
> Memperoleh dukungan dari organisasi formal dan mempunyai atasan.
> Harus memenuhi persyaratan formal
> Mendapat kenaikan pangkat
> Dapat dimutasikan
> Memperoleh imbalan akan balas jasa materiel imateriel.
> Bila melakukan kesalahan dapat dikenai sanksi atau hukuman.
> Selama menjadi pemimpin berhak mengatur sepenuhnya organisasi yang
dipimpinnya.

2. Pemimpin Informal
Pemimpin informal ialah seorang yang tidak secara resmi diangkat sebagai pemimpin,
tetapi merupakan kehormatan biasanya karena mempunyai kelebihan ditunjuk sebagai
pemimpin sehingga mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok.

Ciri-ciri pemimpin formal:
> Masyarakat/kelompok mengakui dirinya sebagai pemimpin.
> Tidak ada pengangkatan resmi sebagai pemimpin.
> Tidak dapat dimutasi
> Tidak punya atasan
> Jika melalukan kesalahan tidak dikenai hukuman hanya kurang kepercayaan
terhadap dirinya.
> Tidak mendapat balas jasa.

6.6. Kepala dan Pemimpin
Di tengah masyarakat terkadang sering terjadi bias pengertian antara kepala dan
pemimpin. Pada dasarnya istilah kepala dan pemimpin tidaklah sama. Kepala adalah seorang
yang diangkat menurut peraturan tertentu oleh atasan/instansi yang berwenang untuk
mengepalai suatu kantor jawatan dan bertanggungjawab tentang tugas yang dibebankan
kepadanya. Kepada bawahan memberikan perintah dan bertindak sebagai penguasa. Anak
buah mengerjakan pekerjaan yang diberikan oleh atasan dengan cara dan waktu yang
telah ditetapkan. Apabila seorang kepala ingin berhasil harus kerja yang baik, ia harus
menyakinkan anak buah agar mau menerima dan mengakuinya.

Pemimpin adalah seorang yang dipilih dari kelompoknya karena memiliki kelebihankelebihan
tertentu, selanjutnya diberi tugas untuk memimpin anak buahnya mencapai
tujuan yang telah ditetapkan oleh kelompok. Untuk kelancaran tugas diberikan hak-hak
istimewa dibandingkan dengan anggota kelompok lain. Pemimpin dapat diterima bawahan
karena dipilih diantara mereka.

Kepala dan pemimpin mempunyai persamaan dan perbedaan.
Persamaannya adalah:
> Kepala dan pemimpin membawahi anak buah.
> Kepala dan pemimpin diberi tugas pekerjaan dan mempertanggung- jawabkannya.
Perbedaannya adalah:
> Kepala diangkat oleh kekuasaan/instansi tertentu, pemimpin dipilih oleh anak
buahnya
> Kepala kekuasaannya berasal dari kekuatan peraturan dan kekuasaan atasannya,
sedangkan pemimpin kekuasaannya menurut peraturan dan berlandaskan
kepercayaan anak buah.
> Kepala bertanggung jawab kepada atasannya, sedang pemimpin bertanggung jawab
terhadap atasan juga bersedia bertanggung jawab kepada anak buah.
> Kepala bertindak sebagai penguasa, sedang pemimpin berperan sebagai pencetus
ide organisator dan koordinator.
> Kepala tidak merupakan merupakan bagian dari anak buah sedangkan pemimpin
merupakan bagian dari anak buah

6.7. Kasus Kepemimpinan Dalam Tim

6.7.1 Tim yang Kompak
Tim yang kompak adalah tim yang selalu mengerjakan kegiatan- kegiatannya secara
bersama-sama dan saling membantu, baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun di
luar pekerjaan. Tim demikian merasa terdapat persamaan dalam berbagai hal, antara lain
dalam hal pola pikir, filosofi kehidupan, nilai-nilai (values), cara penanganan kasus, dapat
dipercayainya karakter masing-masing anggota, dan sebagainya. Tim demikian tidak banyak
menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan persoalan.

Dengan kekompakan suatu tim, beban yang ada terasa ringan karena setiap persoalan
dapat dipecahkan bersama. Masing-masing anggota dalam tim dapat memberikan
andilnya untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jika dalam tim tersebut terdapat satu
atau dua orang yang tidak mempunyai gagasan atau andil untuk menyelesaikan masalah,
karena telah ada unsur kepercayaan kepada anggota yang lain, maka mereka cenderung
dapat menerima pandangan anggota lain sehingga kebijakan/keputusan yang diambil oleh
anggota yang lain tersebut dapat diterimanya. Unsur saling mempercayai merupakan
suatu hal yang sangat mewarnai dan menjadi ciri khas tim yang kompak.

Dalam hal telah terjadi kekompakan seperti ini, ketua tim menjadi sangat terbantu
dalam melaksanakan tugas-tugas yang ada. Jika terdapat kekurangan pada salah satu di
antaranya, anggota yang lain siap untuk melengkapinya tanpa melakukan berbagai
pertimbangan, seperti merasa dirugikan. Hal demikian dapat terjadi karena pada tim
yang kompak seperti ini para anggota yang ada menyadari bahwa setiap orang/anggota
pasti mempunyai masalah/kekurangan, yang untuk itu mereka bersedia saling membantu.

Mereka berpikir pada kesempatan lain dirinya akan mengalami hal yang sama, maka anggota
lain juga akan menolongnya.
Tim yang kompak cenderung menyadari bahwa tugas-tugas yang diembannya harus
diprioritaskan dalam penanganannya. Dengan demikian ketua tim tidak mendapatkan
kesulitan dalam mengarahkan tim untuk mau dan mampu melaksanakan tugas-tugas dengan
baik sesuai dengan standar yang ada. Ketua tim hanya perlu sedikit memberikan
pengarahan, dan memelihara suasana agar kekompakan dapat terjaga dengan baik.

6.7.2 Tim yang Kurang Kompak
Kekurangkompakan antar anggota tim dapat disebabkan oleh berbagai hal. Telah
dikemukakan di atas bahwa semua pihak dalam suatu tim adalah manusia yang masingmasing
mempunyai kepentingan pribadi yang berbeda-beda. Perbedaan kepentingan
pribadi dan keluarganya, kepentingan sosial, kepentingan politik, daya tahan fisik dalam
bekerja, perbedaan semangat pengabdian, perbedaan cara pandang atas suatu masalah,
perbedaan strategi dalam penanganan masalah, kurangnya komunikasi antar anggota tim,
dan sebagainya dapat menjadi penyebab terjadinya kekurangkompakan tersebut.
Pada kondisi demikian peran ketua tim dalam upaya untuk mengarahkan timnya
menjadi sangat besar. Namun peran yang besar tersebut belum tentu dapat dimanfaatkan
dengan baik. Para anggota yang telah berbeda pendapat, berbeda cara penanganan
masalah, dan perbedaan- perbedaan lainnya sampai pada tingkat perbedaan yang prinsip
akan menurunkan kepercayaan antar mereka. Dengan telah menurunnya kepercayaan di
antara mereka, apa pun yang dikerjakan oleh temannya akan menjadi bahan sorotan dan
bahan celaan. Jika ini terjadi, perbedaan yang ada akan menjadi semakin meruncing dan
menjadikan tim terpecah belah. Satu-satunya ikatan yang ada dalam tim tersebut hanya
penugasan secara formal dari instansi tempat mereka bekerja. Pada tim seperti ini ketua
tim kurang dapat berfungsi sebagai pemimpin yang disegani oleh para anggotanya. Ketua
tim kurang mampu menjadi perekat atas berbagai perbedaan yang ada.

Tim yang kurang kompak cenderung bekerja sendiri sendiri, mengabaikan pengarahan
yang diberikan oleh teman atau ketua timnya, dan masing-masing bekerja hanya sebatas
memenuhi segi-segi formal, kurang disertai dengan semangat pengabdian dan kurang ikhlas
dalam melakukan sesuatu. Dengan demikian mutu kerja tim ini cenderung kurang sesuai
dengan norma-norma dan standar yang ada.

6.7.3 Tim yang Tidak Kompak
Seperti halnya telah diuraikan pada tim yang kurang kompak, tim yang tidak kompak
pada dasarnya disebabkan oleh adanya berbagai perbedaan di antara mereka. Dibandingkan
dengan tim yang kurang kompak, tim yang tidak kompak ini memiliki tingkat perbedaan yang
lebih besar. Pada tim seperti ini perbedaan yang menonjol terdapat pada tingkat
intelektualitas, emosional, moralitas, dan karakter dari masing- masing anggota/ketua
timnya. Akibat dari tim yang tidak kompak dapat berupa kegagalan kerja dari tim yang
bersangkutan, bahkan bisa sampai terjadi pertentangan di antara mereka. Ketua tim tidak
dapat lagi mengendalikan para anggotanya dan para anggota tidak mau lagi mempercayai
ketua timnya.

Tim yang tidak kompak cenderung tidak dapat dipertahankan lagi dan masing-masing
anggota merasa lebih baik jika tim segera diakhiri. Atasan dari tim yang tidak kompak harus
segera mengetahuinya dan segera mengambil langkah-langkah perbaikan.

6.8. Keterampilan Dasar Kepemimpinan
Griffin dan Ebert mengemukakan bahwa manajer yang efektif perlu memiliki
keterampilan dasar kepemimpinan, setidaknya dalam 5 (lima) hal sebagai berikut:
> keterampilan teknis (technical skills),
> keterampilan hubungan insani (human relations skills),
> keterampilan konseptual (conceptual skills),
> keterampilan mengambil keputusan (decision-making skills), dan
> keterampilan manajemen waktu (time management skills).

Cocheu menyarankan agar ketua tim memiliki keterampilan dasar kepemimpinan yang
meliputi:
> mendemonstrasikan kepemimpinan,
> memfasilitasi interaksi di dalam tim,
> melakukan negosiasi dalam hal terjadi perbedaan dan konflik,
> melatih anggota tim,
> memberikan pengarahan untuk meningkatkan kinerja tim,
> mempresentasikan gagasan-gagasannya secara persuasif, dan
> membina hubungan dengan berbagai tingkatan manajemen
Seorang pemimpin perlu mendorong timnya untuk selalu berkreasi. Menurut

6.8.1 Membangun Visi Tim
Pada sesi sebelum ini telah dikemukakan bahwa kreativitas setiap anggota tim
diperlukan untuk dapat meraih kinerja yang lebih baik dalam melaksanakan tugas. Namun
kreativitas tim yang tidak terarah dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang bersifat positif
malah akan menjadi sarana penghancuran massal dan mengeksploitasi orang lain
sehingga potensi yang ada akan menjadi sia-sia, bahkan merusak. Dengan demikian
organisasi tempat tim berada tidak membawa berkah, sebaliknya malah menjadi ancaman
bagi masyarakat.

West mengemukakan bahwa agar kreativitas tim dapat memberikan manfaat secara
optimal, tim harus mempunyai visi untuk memberikan fokus dan pengarahan pada energi
yang ada. Visi bagi tim harus jelas, dianut bersama, dirundingkan, bisa dicapai, dan
memberikan harapan di masa depan. Visi tim hendaknya menjadi milik para anggotanya. Jika
para anggota tim tidak berbagi visi, kreativitas individual tidak dapat disatukan sehingga
tidak dapat membuahkan hasil-hasil yang diinginkan. Seballiknya jika terdapat kebersamaan
yang kuat dalam memiliki tujuan-tujuan tim, kreativitas yang ada dapat berfungsi sebagai
daya penggerak.

Visi tim selayaknya merupakan perpanjangan dari visi organisasi karena organisasi
pada dasarnya adalah suatu tim besar yang di dalamnya terdiri dari banyak tim. Visi adalah
cerminan dari nilai-nilai yang dianut, minat- minat, harapan-harapan, dan kepercayaankerpercayaan
manusia. Karena manusia terus berkembang dan berubah seiring dengan
perjalanan waktu, maka visi juga berevolusi , berubah mengikuti perjalanan waktu tersebut.

6.8.2 Membangun Partisipasi Tim
Sebagai seorang pemimpin, ketua tim perlu membangun partisipasi tim. Partisipasi
merupakan sarana untuk mereduksi resistensi terhadap perubahan, mendorong komitmen,
dan menumbuhkan kultur yang lebih “berorientasi pada manusia”.

West mengemukakan bahwa partisipasi memadukan tiga konsep dasar, yaitu:
1. Pengaruh atas Pembuatan Keputusan
Jika para anggota tim mempunyai pengaruh atas pembuatan keputusan, mereka akan
lebih senang untuk menyumbangkan ide-ide kreatifnya. Partisipasi tim terjadi ketika proses
pembuatan keputusan ditentukan secara kolektif sehingga pandangan, pengalaman, dan
kemampuan semua orang dalam tim akan mewarnai masa depan.

2. Berbagi Informasi
Cara paling efektif dari berbagi informasi adalah melakukan komunikasi secara tatap
muka. Pesan-pesan tertulis seperti e-mail dan atau memo cenderung merupakan media
yang miskin untuk berbagi informasi. Dengan demikian tim harus mendorong komunikasi
tatap muka sehingga penggunaan media tertulis hanya untuk pesan-pesan yang sederhana.

3. Frekuensi Interaksi
Frekuensi interaksi yang cukup di antara para anggota tim sangat berperan dalam
pembentukan partisipasi tim. Dengan adanya interaksi yang cukup, tim akan terus dapat
bertukar ide, bertukar informasi, dan mampu mencari jalan keluar atas konflik atau
pandangan-pandangan yang saling bertentangan. Frekuensi interaksi yang cukup dapat
memperkaya perbendaharaan pengetahuan kolektif dan mengembangkan kreativitas. Ketika
anggota-anggota tim saling menghindari satu sama lain, niscaya tim akan menemukan
banyak kesulitan yang memunculkan berbagai konflik.

6.8.3 Pemimpin Yang Memotivasi
Kepemimpinan dan motivasi adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Sulit
membayangkan seorang pemimpin yang tidak memotivasi orang lain.

Berikut ini adalah delapan cara memotivasi:
1. Individu sendiri harus termotivasi. Seseorang tidak pernah mengilhami orang lain
kecuali dia sendiri terilhami. Hanya seorang pemimpin yang termotivasi yang dapat
memotivasi orang lain.

2. Pilih orang yang bermotivasi tinggi. Karena sulit memotivasi orang lain, masuk akal
bila kita memilih orang yang sudah termotivasi.

3. Perlakukan setiap orang sebagai individu. Bila kita tidak menanyakan motivasi
seseorang – keinginannya – kita tidak akan mengetahuinya. Kita semua adalah
individu. Apa yang memotivasi seseorang dalam sebuah tim, mungkin tidak
memotivasi orang lain. Lakukanlah semacam dialog dengan setiap individu anggota
tim.

4. Tetapkan sasaran yang realistis dan menantang.

5. Ingat, kemajuan akan memotivasi. Kita ingin menyelesaikan apa yang kita lakukan.
Semakin penting sebuah tugas, semakin kuat kebutuhan untuk menyelesaikannya
dengan memuaskan.

6. Ciptakan lingkungan yang memotivasi.

7. Berikan hadiah yang adil. Setiap pekerjaan menyiratkan unsur penyeimbang antara
apa yang kita berikan dengan apa yang kita harapkan. Keadilan di sini berarti apa
yang kita peroleh harus sepadan nilainya dengan apa yang kita berikan.

8. Berikan pengakuan. Sifat haus akan pengakuan adalah universal. Bagi orang
berbakat, hal ini setara dengan hasrat akan ketenaran atau kejayaan. Raih
setiap kesempatan untuk memberi pengakuan, meski hanya atas upaya yang
orang lain tunjukkan. Kita tidak bisa selalu mengatur hasil yang diharapkan. Lihatlah
nilai pekerjaan orang lain dan tunjukkan penghargaan kepadanya. Seseorang tidak
harus menjadi manajer untuk melakukan ini karena kepemimpinan sejati selalu
dapat dipraktikkan dari posisi paling bawah.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 4

BAB IV
Karakter Wirausaha Sukses :

Menyelesaikan Masalah 2 :
Ketegasan
Merencanakan produksi merupakan salah satu tantangan bagi seorang wirausaha.
Diperlukan ketegasan dalam merencanakan. Hal ini sangat penting karena ketegasan
seorang wirausaha akan menentukan kemampuan dirinya untuk mencapai cita-citanya
secara SMART.

Ketegasan dalam Aspek Produksi
4.1. Pendahuluan
Sistem produksi yang baik harus mampu menghasilkan produk seperti yang
diharapkan. Umumnya suatu sistem diukur dengan kemampuan memproduksi dalam jumlah
dan kualitas yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan konsumen, kemampuan sumberdaya
perusahaan serta harapan dari wirausahawan sebagai pemilik dan mungkin juga sekaligus
sebagai manajer.
Tahap awal dalam pelaksanaan proses produksi adalah merencanakan produk yang
akan diproduksi. Pada pembelajaran sebelumnya (Aspek Pemasaran) telah dirumuskan jenis
produk yang akan dihasilkan sesuai dengan potensi diri yang dimiliki, tentunya produk
tersebut memiliki potensi/prospek pasar yang memadai. Gambaran mengenai karakteristik
produk yang akan dihasilkan, memberikan kemudahan dalam menyusun kebutuhan bahan,
tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi produksi dan biaya yang dibutuhkan dalam proses
produksi. Dengan gambaran produk ini, juga akan memudahkan dalam menetapkan sistem
produksi yang akan diterapkan dalam menghasilkan produk yang dimaksud. Olehnya itu,
dalam sistem produksi dikenal adanya 3 (tiga) komponen, yaitu masukan (input), proses dan
keluaran (output).

4.2. Definisi Produksi
Berbagai literatur tentang produksi mendefenisikan produksi dengan gaya
pengungkapan yang berbeda-beda. Istilah produksi sering digunakan dalam suatu organisasi
untuk menghasilkan suatu keluaran atau output, baik berupa barang maupun jasa. Produksi
dari sudut pandang kegiatan penciptaan produk seperti yang dikemukakan oleh Assauri
(1993) bahwa produksi merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan
barang atau jasa. Demikian pula defenisi yang dikemukakan oleh Reksohadiprojo dan
Gitosudarmo (2003) bahwa produksi adalah kegiatan untuk menghasilkan barang-barang
dan jasa-jasa sesuai dengan kehendak konsumen dalam hal jumlah, kualitas, harga serta
waktu.
Produksi tidak hanya menciptakan produk sebagai keluaran (output), namun juga
menggunakan berbagai faktor produksi sebagai masukan (input). Sebagaimana yang
dikemukakan oleh Prawirosentono (1997) bahwa produksi adalah membuat atau
menghasilkan produksi suatu barang dari berbagai bahan lain. Hal yang sama juga
dikemukakan oleh Sofyan (1999) bahwa produksi diartikan sebagai suatu kegiatan atau
proses yang mentransformasikan masukan menjadi keluaran atau dengan pengertian bahwa
produksi mencakup setiap proses yang mengubah masukan menjadi keluaran yang berupa
barang dan jasa.
Produksi sebagai suatu proses, diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik
bagaimana produksi itu dilaksanakan atau suatu kegiatan untuk menciptakan dan
menambah kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Ahyari (1990) mengemukakan bahwa
proses produksi adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah kegunaan suatu
barang dan jasa dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat berbagai definisi yang telah diungkapkan di atas, maka dapat dirumuskan
bahwa proses produksi dalam konteks kewirausahaan adalah merupakan kegiatan untuk
menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan menggunakan
faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja, mesin, bahan baku dan dana, agar menghasilkan
produk yang dibutuhkan dan sesuai dengan yang diharapkan oleh konsumen.

4.3. Kebutuhan Proses Produksi
Sebelum melaksanakan proses produksi terlebih dahulu perlu dirancang kebutuhan
sarana dan prasarana yang akan digunakan dalam menghasilkan produk, sarana dan
prasarana inilah yang sering disebut sebagai input produksi yang meliputi bahan, tenaga
kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya (uang).

4.4. Bahan Baku
Dalam menyusun kebutuhan bahan baku untuk digunakan dalam proses produksi
harus mengacu pada karakteristik produk yang akan dihasilkan. Misalnya saja, jika
berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap pasar produk yang akan dihasilkan,
konsumen menginginkan produk yang rasanya manis dan berwarna merah, tentunya bahan
yang dibutuhkan dalam proses produksi adalah gula dan pewarna merah. Dengan demikian,
kualitas produk yang akan dihasilkan sesuai dengan permintaan konsumen, sangat
ditentukan oleh kualitas bahan baku yang digunakan. Ini yang menjadi alasan mengapa
perusahaan perlu melakukan penanganan bahan baku, terutama dalam mengendalikan
kualitas untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
Pengendalian dalam pengadaan bahan baku terutama pada perusahaan perusahaan
yang memanfaatkan hasil-hasil pertanian primer sebagai bahan bakunya sangat penting
untuk dilakukan, karena hasil pertanian primer memiliki ciri yang apabila tidak dikendalikan
akan mendatangkan kerugian bagi perusahaan. Ciri-ciri produk hasil pertanian primer adalah
bersifat musiman, mudah rusak, banyak menggunakan tempat dan sumbernya terpencarpencar.
Hal ini yang perlu ditekankan dan dipahami, karena mengingat gagasan-gagasan
produk yang diajukan oleh peserta mata kuliah Kewirausahaan-1 di Fakultas Pertanian
umumnya berbahan baku hasil pertanian.
Jenis bahan yang digunakan oleh perusahaan dalam proses produksinya dapat
dibedakan menjadi bahan langsung dan bahan tak langsung. Bahan langsung adalah bahan
yang digunakan dalam proses produksi dan terikat atau menjadi bagian dalam produk.
Sedangkan bahan tak langsung adalah bahan yang bukan atau tidak menjadi bagian dalam
produk, namun sangat diperlukan untuk mendukung produksi.
Agar produksi dapat berjalan lancar, maka dalam pemilihan bahan baku yang akan
digunakan setidaknya memenuhi syarat:

a. Kualitasnya Baik
Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa untuk memperoleh kualitas produk yang
baik, diperlukan bahan yang juga berkualitas baik. Selain itu, penggunaan bahan baku yang
berkualitas memungkinkan untuk melakukan penyimpanan dalam jangka waktu yang lama.
Dengan demikian, perusahaan dapat melakukan pembelian dalam yang besar, sehingga
interval pembelian dapat diperjarang yang berarti dapat menekan biaya pengangkutan.
Selain itu biasanya perusahaan akan harga bahan yang relatif rendah dari pemasok jika
pembelian dilakukan dalam jumlah yang besar. Ini berarti perusahaan dapat menekan biaya
pembelian.
Agar kualitas bahan baku yang dipasok oleh perusahaan dapat terjamin, maka
beberapa hal yang perlu dilakukan, antara lain penyeleksian sumber bahan baku,
pemeriksaan saat proses pembelian, penanganan saat pengangkutan, pemeriksaan saat
penerimaan di perusahaan, penanganan dalam penyimpanan dan tentunya pemeriksaan
sebelum diproses. Dengan upaya-upaya ini, perusahaan dapat menghindari penggunaan
bahan baku yang kurang berkualitas, sehingga proses produksi akan dapat dipertahankan
pada tingkat tertentu sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
b. Mudah diperoleh
Selain aspek kualitas, kelancaran proses produksi juga sangat ditentukan oleh
ketersediaan bahan baku dari aspek kuantitas dan kontinyuitasnya. Ini berartibahwa bahan
baku yang dibutuhkan dalam berproduksi harus dapat diperoleh setiap saat dalam jumlah
yang sesuai dengan kebutuhan.
Perusahaan yang menggunakan bahan baku dari hasil pertanian primer sering
menghadapi kendala dalam perolehan bahan baku karena produksinya bersifat musiman
dan sumbernya terpencar-pencar. Malah tidak jarang kita temui, proses produksi menjadi
terhenti hanya karena keterbatasan atau malah ketiadaan bahan baku yang dapat diolah.
Keterbatasan bahan baku karena produksinya yang bersifat musiman dan sumbernya
terpencar-pencar dapat diantisipasi dengan pembelian dalam jumlah yang besar yang
ditindaklanjuti dengan penggunaan teknologi penyimpanan dan/atau pengolahan agar dapat
disimpan selama di luar musim.
c. Mudah diolah
Bahan baku yang digunakan sedapat mungkin mudah diolah, karena bahan baku yang
sulit diolah biasanya memiliki konsekuensi terhadap biaya produksi dan pada akhirnya juga
akan berpengaruh pada harga jual produk. Apabila bahan baku dapat diolah dengan mudah,
kemungkinan besar biaya produksi akan lebih ringan ketimbang pengolahan bahan baku
tersebut dilakukan dengan peralatan yang sulit dicari atau harganya mahal atau harus diolah
di tempat/perusahaan lain.
Sebagai contoh, apabila perusahaan menggunakan bahan baku tepung beras, maka
lebih baik perusahaan membeli bahan yang telah berbentuk tepung beras daripada membeli
beras yang kemudian diolah sendiri menjadi tepung beras. Jika dengan pertimbangan tingkat
kebutuhan bahan yang cukup besar dalam sekali proses produksi serta kontinyuitas proses
produksi, perusahaan dapat mengadakan mesin pengolahan (mesin penepungan, misalnya).
Tentunya dalam hal ini diperlukan biaya investasi untuk pengadaannya, namun sebelumnya
perlu dipertimbangkan apakah mengolah sendiri bahan baku lebih menguntungkan
dibandingkan dengan pengolahan diserahkan kepada tempat/perusahaan lain.
d. Harga yang relatif murah
Bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi sedapat mungkin juga harus
relatif murah. Dalam artian bahwa bahan baku yang dibutuhkan harganya tidak melebihi
harga yang berlaku di pasaran secara umum. Konsekuensi dari tingkat harga bahan baku
yang murah tentunya pada tingkat biaya produksi yang rendah dan pada akhirnya harga jual
dapat lebih rendah dibandingkan dengan pesaing.
Sebagaimana yang telah dikemukakan bahwa salah satu hal yang perlu
dipertimbangkan dalam pengadaan bahan baku adalah kemudahan dalam perolehannya. Hal
ini berarti bahwa penentuan sumber (pemasok) bahan tersebut menjadi hal yang penting
untuk dipikirkan. Sumber bahan akan berpengaruh terhadap biaya pengangkutan dan pada
akhirnya akan berpengaruh pula pada biaya produksi dan harga jual produk. Semakin dekat
sumber bahan akan semakin baik. Namun apabila dalam keadaan tertentu, sumber bahan
berada jauh dari lokasi, tentunya harus mencari alternatif lain agar dapat menekan biaya,
seperti membeli dalam jumlah yang besar untuk memotong intensitas pembelian tetapi
dengan syarat bahan tersebut dapat disimpan dalam waktu yang relatif lama tanpa
mengurangi kualitas.
Perlu diingat bahwa persaingan juga terdapat dalam pembelian bahan baku.
Perusahaan tidak hanya sendiri sebagai pengguna bahan baku tertentu, ada pula perusahaan
lain yang memproduksi produk yang sama atau berbahan baku yang sama. Dalam
menghadapi persaingan memperoleh bahan baku yang dibutuhkan agar ketersediaan bahan
baku yang dibutuhkan dapat terjamin baik kuantitas, kualitas maupun kuantitasnya,
perusahaan dituntut untuk mencari sumber bahan baku yang dapat diandalkan. Salah satu
cara yang dapat ditempuh untuk menjamin ketersediaan bahan baku adalah
mengembangkan hubungan baik dengan pemasok dengan senantiasa menjalin komunikasi
yang intensif.
Pengenalan terhadap pemasok secara pribadi akan dapat membantu perolehan bahan
yang dibutuhkan di saat-saat kondisi ketersediaan bahan dalam kekurangan. Hubungan baik
dengan pemasok perlu pula senantiasa dipelihara, karena pemasok bahan juga dapat
menjadi sumber informasi penting mengenai pesaing (yang juga memasok bahan dari
pemasok), harga, perkembangan desain produk, teknologi dan sebagainya. Jika perusahaan
kekurangan dana untuk pengadaan bahan baku, hubungan yang telah dijalin dapat
membantu pembelian dengan sistem kredit yang mungkin tanpa batas.
Dalam pengadaan bahan baku perlu pula diusahakan menetapkan dua atau lebih
pemasok untuk setiap bahan yang dibutuhkan. Selain untuk menjamin ketersediaan, ada
kecenderungan pemasok akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan tingkat harga
yang sesuai kepada perusahaan, karena mereka tahu bahwa perusahaan tidak hanya
membeli bahan dari satu pemasok. Diantara pemasok juga terdapat persaingan dalam
merebut pelanggan, dan tentunya mereka juga ingin unggul dalam persaingan dengan
memberikan pelayanan yang terbaik pada pelanggannya.
Selain mengandalkan pemasok, perusahaan dapat pula menyediakan sendiri bahanbahan
tertentu yang merupakan bagian yang tebesar dari komponen produk yang dihasilkan.
Dengan menyediakan sendiri bahan akan memudahkan perusahaan dalam memenuhi
persyaratan yang diperlukan dalam pengadaan bahan baku, sebagaimana yang telah
diungkapkan di atas. Sebagai contoh, jika perusahaan menghasilkan produk keripik pisang,
mungkin perlu dipertimbangkan mengusahakan kebun pisang yang dapat berfungsi sebagai
kebun inti. Fungsinya tidak hanya sebagai pemasok utama bahan baku, tetapi juga dapat
berfungsi sebagai penyelamat di saat bahan baku sulit diperoleh dari pemasok.

Sebelum mengambil keputusan untuk menghasilkan sendiri bahan baku yang
dibutuhkan, mungkin perlu dipertimbangkan berbagai aspek dengan mempertanyakan
berbagai hal, sebagai berikut:
>Bahan-bahan apa saja yang merupakan bagian dari komponen terbesar produk yang
dihasilkan?
>Sampai sejauh mana ketersediaan bahan tersebut di pasaran dalam setiap saat dan
bagaimana keterandalam pemasok dalam menyediakannya?
>Bagaimana ketersediaan bahan tersebut di masa yang akan datang?
>Apakah dengan menyediakan sendiri bahan yang dibutuhkan lebih efisien
dibandingkan dengan pengadaan bahan yang bersumber dari pemasok?
>Apakah perusahaan memiliki sumberdaya yang cukup untuk menyediakan sendiri
bahan tersebut?

4.4.1 Tenaga Kerja
Tenaga kerja atau sumberdaya manusia merupakan asset penting perusahaan. Dalam
proses produksi, tenaga kerja merupakan penggerak berjalannya proses produksi. Meskipun
bahan baku yang digunakan telah memenuhi standar kualitas, peralatan yang digunakan
telah memadai, jika tenaga kerja yang menjalankan operasional produksi tidak sesuai dalam
hal jumlah dan kualifikasi yang diharapkan, maka mustahil perusahaan dapat menghasilkan
produk yang berkualitas sebagaimana yang diharapkan oleh konsumen dan perusahaan.
Meskipun tenaga kerja dianggap sebagai salah satu faktor penting dalam aktifitas
proses produksi perusahaan, namun kadang dalam operasional perusahaan, hal ini sering
dikesampingkan, terutama yang terkait dengan kualifikasi yang dibutuhkan. Pertimbangan
yang sering digunakan adalah mudahnya untuk mendapatkan tenaga kerja dengan alasan
bahwa setiap orang dianggap membutuhkan pekerjaan. Kondisi yang demikian
menyebabkan banyaknya tenaga kerja produksi yang dipekerjakan pada pekerjaan yang
tidak sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Akibatnya harapan untuk
menghasilkan produk yang berkualitas tidak tercapai.

Jenis tenaga kerja yang digunakan pada perusahaan pada dasarnya terdiri dari tenaga
kerja upahan dan tenaga kerja keluarga. Kedua jenis tenaga kerja ini memiliki karakteristik
masing-masing, sebagaimana diuraikan berikut ini.
>Tenaga kerja upahan
Tenaga kerja yang terikat hubungan kerja dengan perusahaan, dimana masing-masing
pihak memiliki hak dan kewajiban. Tenaga kerja upahan dapat digolongkan atas:
>Tenaga kerja tetap,
Merupakan tenaga kerja yang secara teratur memperoleh hak-haknya seperti upah
dan cuti, meskipun mereka tidak bekerja karena sesuatu hal yang tidak melanggar
ketentuan dalam perusahaan. Tenaga kerja golongan ini secara hukum memiliki
kekuatan, olehnya itu perusahaan tidak dapat berlaku sewenang-wenang
terhadapnya, misalnya dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara
sepihak.
>Tenaga kerja tidak tetap
Adalah tenaga kerja yang tidak memiliki hak dan kewajiban secara teratur, umumnya
mereka akan kehilangan hak tertentu apabila tidak bekerja.
>Tenaga kerja borongan
Adalah tenaga kerja yang menjalankan pekerjaan tertentu atas perjanjian dengan
ketentuan yang jelas mengenai volume, waktu dan harga pekerjaan.
>Tenaga kerja keluarga
Merupakan tenaga kerja yang berasal dari lingkungan keluarga yang umumnya dalam
melaksanakan pekerjaannya tidak diupah. Tenaga kerja jenis ini banyak digunakan
pada perusahaan-perusahaan kecil atau perusahaan yang masih berskala usaha rumah
tangga. Umumnya tenaga kerja keluarga bekerja hanya sebatas tanggung jawab dalam
membantu keluarga. Namun banyak juga dijumpai anggota keluarga yang bekerja di
perusahaan mendapat upah, meskipun upah yang diberikan tidak sama dengan tenaga
kerja yang bukan anggota keluarga.
Kebutuhan tenaga kerja yang memiliki kemampuan, pengetahuan dan keahlian yang
kompeten adalah kebutuhan yang fundamental bagi perusahaan. Kebutuhan ini akan selalu
berubah sejalan dengan perubahan kebutuhan perusahaan. Oleh sebab itu, perusahaan
senantiasa dituntut untuk selalu mencari, mengembangkan dan mempertahankan tenaga
kerja yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangannya. Hal yang mungkin perlu
diantisipasi adalah munculnya berbagai kendala yang pada dasarnya disebabkan oleh 1)
Belum adanya standar kemampuan tenaga kerja karena informasi menyangkut kemampuan
tenaga kerja hanya berdasarkan prediksi yang umumnya bersifat subjektif, 2) Tenaga kerja
adalah manusia yang tidak dapat diperlakukan secara mekanistik seperti mesin yang dapat
diatur semaunya dan 3) ketersediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan sangat
terbatas.
Itulah sebabnya perusahaan perlu melakukan perencanaan tenaga kerja, agar
kebutuhan tenaga kerja perusahaan di masa sekarang dan masa yang akan datang sesuai
dengan beban kerja yang ada. Perencanaan yang kurang cermat akan berakibat fatal bagi
perusahaan. Jika tenaga kerja yang ada melebihi beban kerja yang ada, maka akan berakibat
banyak tenaga kerja yang menganggur atau tidak bekerja secara optimal.

Sebaliknya jika jumlah tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan dengan beban kerja
yang ada, akan berakibat pada adanya pekerjaan yang tidak terselesaikan secara optimal dan
tentunya tenaga kerja akan bekerja melebihi kemampuannya. Tenaga kerja akan mengalami
kelelahan, mudah stres dan pada akhirnya tidak akan betah bekerja dan memilih mencari
pekerjaan lain. Artinya kelebihan dan kekurangan beban kerja bagi tenaga kerja perusahaan
akan berdampak pada biaya dan pada akhirnya akan berdampak pula pada pendapatan atau
laba yang diperoleh perusahaan.

4.4.2 Mesin/Peralatan
Mesin dan peralatan yang digunakan dalam suatu proses produksi memiliki peran yang
cukup besar di dalam keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan produksi, baik dalam hal
kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya.
Kebutuhan mesin dan peralatan produksi baik jumlah, jenis, kapasitas dan spesifikasi
lainnya seharusnya telah diidentifikasi saat gambaran produk yang akan dihasilkan telah
ditetapkan. Apabila perusahaan mengadakan mesin/peralatan produksi yang tidak
bermanfaat untuk menghasilkan produk sesuai dengan yang direncanakan, maka sudah
dapat dipastikan mesin/peralatan produksi tersebut akan kurang berfungsi atau malah tidak
berfungsi.
Konsekuensi yang harus ditanggung oleh perusahaan adalah adanya beban biaya
(penyusutan) yang harus ditanggung oleh perusahaan sedangkan mesin/peralatan tersebut
kurang/tidak mendukung dalam menghasilkan produksi. Disamping itu pula, mesin/peralatan
produksi yang jarang dimanfaatkan akan cepat mengalami kerusakan dan tentunya
membutuhkan perawatan. Ini berarti bahwa perusahaan melakukan investasi yang sia-sia,
malah akan menambah beban biaya produksi dan akan berpengaruh pula pada
meningkatnya harga jual produk.

Setelah dilakukan pengadaan mesin/peralatan produksi, maka selanjutnya yang perlu
diperhatikan adalah penempatan atau tata letaknya pada ruangan produksi. Dalam
penempatan mesin/peralatan produksi di ruangan produksi terdapat beberapa prinsip dasar
yang perlu dipertimbangkan oleh perusahaan, yaitu:

1. Prinsip integrasi, dalam artian bahwa penempatan mesin/peralatan produksi dapat
mengitegrasikan seluruh faktor produksi (bahan, tenaga kerja, mesin/peralatan, dan
sebagainya) sehingga menghasilkan kerjasama yang harmonis.

2. Prinsip memperpendek gerak, dalam artian bahwa penempatan mesin/peralatan
produksi tidak membuat tenaga kerja lebih banyak bergerak dari satu
mesin/peralatan ke mesin/peralatan yang lain.

3. Prinsip memperlancar arus pekerjaan, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi dapat menjamin kelancaran arus bahan dalam proses tanpa
adanya hambatan.

4. Prinsip penggunaan ruangan produksi yang efisien dan efektif, dalam artian bahwa
penempatan mesin/peralatan produksi ditempatkan sesuai dengan luas ruangan
produksi yang dimiliki perusahaan.

5. Prinsip keselamatan dan kepuasan kerja, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi pada ruangan produksi dapat menjamin keselamatan dan
kenyamanan kerja dari tenaga kerja.

6. Prinsip keluwesan, dalam artian penempatan mesin/peralatan produksi sewaktuwaktu
dapat disesuaikan jika sewaktu-waktu dibutuhkan adanya perubahan.

7. Prinsip proses produksi yang berkesinambungan, dalam artian bahwa penempatan
mesin/peralatan produksi tidak menghambat kesinambungan proses produksi.
Mesin/peralatan produksi yang digunakan perlu senantiasa dilakukan perawatan agar
proses produksi dapat berjalan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Mesin/peralatan
produksi yang sering mengalami kerusakan akan menyulitkan untuk menghasilkan produk
yang sesuai baik dari sisi kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya. Selain itu tingginya
tingkat kerusakan yang diakibatkan kurangnya upaya perawatan akan berdampak pada
tingginya biaya produksi yang akan berdampak langsung pula pada tingginya harga jual
produk.

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam upaya
pemeliharaan mesin/peralatan produksi, yaitu:

1. Pemeliharaan breakdown, yakni pemeliharaan yang dilakukan setelah mesin/peralatan
produksi mengalami kerusakan.

2. Pemeliharaan terencana, yakni pemeliharaan yang dilakukan secara terjadwal.

3. Pemeliharaan pencegahan, yakni pemeliharaan yang dilakukan dengan
mempertimbangkan masa pakai dari komponen pada mesin/peralatan produksi.

Selain perencanaan dalam kebutuhan, penyusunan tata letak dan pemeliharaan
mesin/peralatan produksi, perusahaan juga harus senantiasa memperhatikan dan mengikuti
perkembangan teknologi terkait dengan penggunaan mesin/peralatan produksi.

Perkembangan teknologi saat ini memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap sistem
produksi untuk menghasilkan suatu produk. Penggunaan mesin/peralatan produksi dengan
teknologi terkini akan menghasilkan kualitas produk yang lebih baik dan proses produksi
lebih cepat dengan kapasitas yang lebih besar, jikia dibanding dengan menggunakan
mesin/peralatan produksi yang telah ketinggalan jaman. Perusahaan yang tidak mengikuti
perkembangan teknologi akan cenderung mengalami kesulitan dalam bersaing dengan
perusahaan pesaingnya yang telah menggunakan teknologi terkini.

4.5. Biaya Produksi
Biaya dapat didefenisikan sebagai pengorbanan ekonomis yang diperlukan untuk
memperoleh produk (barang dan /atau jasa). Atau pengeluaran yang dilakukan di masa
sekarang untuk mendapatkan manfaat pada masa yang akan datang, dimana pengeluaran
atau pengorbanan tersebut dapat diduga serta dapat dihitung secara kuantitatif dan tidak
dapat dihindarkan.

Biaya produksi terdiri atas 2 (dua) bagian besar dengan penggolongan biayanya
masing-masing diuraikan, sebagai berikut:
1. Biaya menurut perilaku yang terdiri dari:
>Biaya tetap, merupakan biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar
kecilnya produksi dan dalam periode tertentu jumlahnya tetap. Misalnya biaya
untuk gaji tenaga kerja tetap, penyusutan alat, pajak lahan dan sebagainya.
>Biaya tidak tetap, merupakan biaya yang besar kecilnya berhubungan langsung
dengan besarnya produksi atau dengan kata lain biaya yang dalam periode tertentu
jumlahnya dapat berubah tergantung pada tingkat produksi yang dihasilkan.
Misalnya biaya untuk pembelian bahan baku, biaya upah tenaga kerja borongan,
dan sebagainya.

2. Biaya menurut jenis yang terdiri dari:
>Biaya langsung (pokok), merupakan biaya yang langsung terikat atau menjadi
bagian pokok dari produk yang dihasilkan. Biaya yang digolongkan dalam jenis ini
adalah biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
>Biaya tidak langsung, merupakan biaya yang secara tidak digunakan untuk
menghasilkan produk atau biaya yang terikat bukan pada bagian pokok dari produk
yang dihasilkan. Biaya yang digolongkan dalam jenis ini adalah biaya bahan tidak
langsung dan tenaga kerja tidak langsung.
>Biaya administrasi/umum, merupakan biaya yang dikeluarkan untuk keperluan
administrasi kantor perusahaan dan umum. Misalnya biaya untuk menggaji
pimpinan dan pegawai, sewa kantor, perlengkapan kantor dan sebagainya.

4.6. Proses Produksi
Dihasilkannya produk sesuai dengan jumlah dan mutu yang diharapkan oleh pasar dan
perusahaan, selain ditentukan oleh input sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya,
juga sangat ditentukan oleh kegiatan yang dilaksanakan selama proses pembuatan produk
berlangsung yang dikenal dengan istilah proses produksi. Proses produksi melalui beberapa
tahapan yang merupakan aktifitas menyeluruh yang dilakukan oleh tenaga kerja produksi
yang membuat produk, tahapan-tahapan ini disebut tahapan produksi. Tahapan-tahapan
produksi yang tersusun secara teratur disebut aliran produksi.

Penggolongan proses produksi berkaitan dengan sifat dan jenis masukan yang
digunakan dan produk yang akan dihasilkan. Olehnya itu, proses produksi dapat dibedakan
atas:

1. Proses produksi berdasarkan wujudnya, terdiri atas:
>Proses kimiawi, yaitu proses pengolahan bahan menjadi produk dengan
mendasarkan pada sifat kimiawi bahan yang diolah.
>Proses mengubah bentuk, yaitu proses pengolahan bahan menjadi produk jadi atau
setengah jadi dengan cara mengubah bentuk bahan menjadi bentuk yang lebih
bermanfaat.
>Proses perakitan, yaitu proses menggabungkan komponen-komponen produk
menjadi produk yang lebih bermanfaat.
>Proses transportasi, yaitu proses memindahkan sumber atau produk dari tempat asal
ke tempat dimana produk tersebut dibutuhkan.

2. Proses produksi berdasarkan tipenya, terdiri atas:
>Proses berkesinambungan, dimana arus masukan berlangsung terus melalui sistem
produksi yang telah distandarisasi untuk menghasilkan produk yang homogen.
Bentuk produk yang dihasilkan bersifat standar dan tidak tergantung pada spesifikasi
pemesan. Tujuan produksi umumnya untuk persediaan kemudian dipasarkan.
>Proses terputus-putus, proses yang biasanya menghasilkan produk yang berbeda
beda, prosedur yang berbeda-beda dan bahkan kadang dengan masukan yang
berbeda-beda. Bentuk produknya disesuaikan dengan pesanan konsumen. Tujuan
produksi adalah untuk melayani pesanan konsumen.

4.7. Pengendalian Produksi
Setelah menentukan spesifikasi produk yang akan dihasilkan, merancang proses dan
sistem produksi, maka perlu mengorganisasikan seluruh sumberdaya yang dimiliki oleh
perusahaan untuk pengendalian produksi. Pengendalian produksi, meliputi:

1. Pengendalian pembelian, agar pembelian yang dilakukan oleh perusahaan terkait
dengan proses produksi lebih efisien (hemat biaya). Dalam pengendalian pembelian ini
melibatkan beberapa faktor yang saling terkait, yaitu kuantitas, kualitas, harga, waktu
dan pelayanan.

2. Pengendalian Persediaan, perlu dilakukan agar biaya yang dikeluarkan untuk
penyimpanan dapat dikendalikan.

3. Pengendalian produksi, agar proses produksi dapat berjalan lancar, tepat waktu dan
menghasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas yang sesuai dengan yang
direncanakan.

4. Pengendalian Kualitas, yang dilakukan pada setiap tahapan proses yang bertujuan
untuk mencegah adanya penyimpangan terhadap standar kualitas produk yang telah
ditetapkan (quality control).

4.8. Penutup
Komponen-komponen dalam sistem produksi yang terdiri dari input, proses dan
output. Dengan demikian, dalam merancang sistem produksi perusahaan, ketiga komponen
ini dijadikan sebagai pedoman. Langkah awal yang dilakukan dalam merancang suatu sistem
produksi adalah perumusan tujuan secara jelas yang menuntut perusahaan telah
menetapkan spesifikasi produk sesuai keinginan konsumen pasar sasaran. Selanjutnya
menentukan input yang meliputi bahan, tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya
yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk sesuai yang ditetapkan pada langkah awal tadi.

Dan langkah berikutnya adalah menentukan proses produksi yang akan digunakan untuk
menghasilkan produk. Upaya-upaya yang dilakukan dengan melibatkan komponenkomponen
sistem produksi tersebut perlu senantiasa dikendalikan agar apa yang diharapkan
dalam proses produksi dapat tercapai.

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan input seperti
bahan baku, tenaga kerja, mesin/peralatan, lokasi dan biaya hanya dapat dibuat
perencanaannya ketika jenis produk yang akan dihasilkan beserta spesifikasinya telah
ditetapkan.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 5

BAB V
Komunikasi dan Interpersonal Skill :

KOMUNIKASI

Seorang wirausaha sangat memerlukan kemampuan komunikasi. Komunikasi merupakan
dasar bagi seorang wirausaha untuk menyampaikan pesan, mendekati pelanggan,
memimpin karyawan dan memotivasi. Seorang wirausaha sekalipun memiliki produk
unggulan, konsep layanan prima dan gagasan-gagasan kreatif, tetapi tidak dikomunikasikan
kepada orang lain, maka hal tersebut menjadi tidak berguna. Menurut Ilik (2011),
komunikasi menjadi salah satu elemen terpenting dalam menjalankan kewirausahaan. Hal
tersebut dikarenakan seorang wirausahawan adalah seorang leader dan seorang leader
mutlak harus mampu mendirect bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.

5.1. Pengertian Komunikasi
Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis
atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini
bersumber pada kata communis. Kata communis memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi
milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan
makna.

Komunikasi adalah proses penyampaian suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain
untuk memberitahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung
secara lisan maupun tidak langsung melalui media; proses penyampaian bentuk interaksi
gagasan kepada orang lain dan proses penciptaan arti terhadap gagasan atau ide yang
disampaikan, baik sengaja maupun tidak disengaja.

Pengertian komunikasi sudah banyak didefinisikan oleh banyak orang, yaitu jumlahnya
sebanyak orang yang mendefinisikannya. Dari banyak pengertian tersebut jika dianalisis
pada prinsipnya dapat disimpulkan bahwa komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu
orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan yang terdistorsi oleh gangguan
(noise), terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu dan ada
kesempatan untuk melakukan umpan balik.

5.2. Komponen Komunikasi
1. Lingkungan komunikasi
Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki 3 (tiga) dimensi di
antaranya :
a. Fisik, adalah ruang di mana komunikasi berlangsung nyata atau berwujud.
b. Sosial-psikologis, misalnya tata hubungan status di antara pihak yang terlibat, peran
yang dijalankan orang dan aturan budaya masyarakat di mana orang-orang
berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini mencakup rasa persahabatan atau
permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau.
c. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah di mana
komunikasi berlangsung.
Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi : yaitu masing-masing
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi
janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana
persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat
menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan

1. Lingkungan komunikasi
Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki 3 dimensi di
antaranya :
a. Fisik, adalah ruang di mana komunikasi berlangsung nyata atau berwujud.
b. Sosial-psikologis, misalnya tata hubungan status di antara pihak yang terlibat, peran
yang dijalankan orang dan aturan budaya masyarakat di mana orang-orang
berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini mencakup rasa persahabatan atau
permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau.
c. Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah di mana
komunikasi berlangsung.
Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; yaitu masing-masing
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi
janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana
persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat
menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan
malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak
perubahan lain. sehingga proses komunikasi tidak pernah statis.

2. Sumber-Penerima
Kita menggunakan istilah sumber (komunikator)-penerima (komunikan) sebagai
satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat
dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara), sekaligus penerima (atau
pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan
isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan
sebagainya.
Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda
menerima pesan anda sendiri (mendengar diri sendiri, merasakan gerakan sendiri, dan
melihat banyak isyarat tubuh sendiri) serta anda menerima pesan dari orang lain (secara
visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda
berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan
(untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya).
Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.

3. Enkoding-Dekoding
Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya,
berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding atau penyandian). Dengan
menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar
kertas, maka kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu.
Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau
membaca) sebagai dekoding (decoding atau pemecahan sandi). Dengan
menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan,
sehingga dapat diuraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.
Oleh karenanya, kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder)
dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumberpenerima,
kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak
terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara
simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari
pendengar (dekoding).

4. Kompetensi Komunikasi
Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk
berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup
hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi
kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa
suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan
tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain).
Pengetahuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya, kepatutan sentuhan, suara
yang keras, kedekatan fisik) merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.
Dengan meningkatkan kompetensi, anda akan mempunyai banyak pilihan
berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi
kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan
komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan
kata yaitu semakin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi
perbendaharaan kata anda), maka makin banyak cara yang anda miliki untuk
mengungkapkan diri.

5. Pesan
Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan
menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra.
Walaupun kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini
bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa
kata atau isyarat, gerak dan mimik). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti
juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut,
duduk dan tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan
komunikasi.

6. Saluran
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi
berlangsung melalui hanya satu saluran, yaitu umumnya kita menggunakan dua, tiga,
atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi
tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga
memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita
juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling
menyentuh, inipun merupakan komunikasi (saluran taktil).

7. Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik
dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal
komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain
dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan, misalnya
dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri.

Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa
yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.
Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan
balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan
atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk
umpan balik.

8. Gangguan
Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan.
Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam
mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi, hal ini
membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.
Gangguan ini dapat berupa gangguan fisik (ada orang lain berbicara), psikologis
(pemikiran yang sudah ada di kepala kita), atau semantik (salah mengartikan makna).

Gangguan dalam komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung
gangguan dan walaupun tidak dapat meniadakannya samasekali, kita dapat mengurangi
gangguan dan dampaknya. Untuk itu menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari
keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan keterampilan
mendengarkan dan menerima, serta mengirimkan umpan balik adalah beberapa cara untuk
menanggulangi gangguan.

5.3. Tujuan Dan Fungsi Komunikasi

1. Agar menjadi tahu dan memberitahukan, misalnya antar hubungan pergaulan seharihari,
surat edaran, pengumuman, pemberitahuan dan sebagainya.
2. Menilai masukan (input) atau hasil (output) atau suatu pola pemikiran, misalnya
umpan balik, tanggapan atas pendapatan, evaluasi anggaran, penilaian rencana dan
sebagainya.
3. Mengarahkan atau diarahkan, misalnya manajer mengarahkan sumber tenaga,
material, uang, mesin (kepada suatu tujuan), rapat kerja, seminar, penataran latihan
kerja, juklak (petunjuk pelaksanaan), juknis (petunjuk teknis) dan sebagainya.
4. Mempengaruhi dan dipengaruhi, misalnya motivasi, persuasi, stimulasi dan
sebagainya.
5. Mengandung beberapa fungsi insidental, atau netral : yang tidak langsung
mempengaruhi tercapainya tujuan dan hubungan dalam pergaulan sosial.
Dari paparan tersebut, terlihat bahwa komunikasi dapat menciptakan rasa
pemahaman, tingkat penerimaan dan motivasi, terutama untuk menjawab hal terkait Who
says, What, in Which channel, to Whom dan in Which effect.

5.4. Kegunaan Mempelajari Iimu Komunikasi

Ruben and Steward (2005) menyatakan bahwa alasan mempelajari ilmu komunikasi
adalah :

1. Komunikasi adalah fundamental dalam kehidupan kita.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, komunikasi memegang peranan yang sangat
penting. Kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Tidak ada aktifitas yang dilakukan tanpa
komunikasi, dikarenakan kita dapat membuat beberapa perbedaan esensial, manakala kita
berkomunikasi dengan orang lain. Demikian pula sebaliknya, orang lain akan berkomunikasi
dengan kita, baik dalam jangka pendek ataupun jangka panjang. Cara kita berhubungan satu
dengan lainnya, bagimana suatu hubungan kita bentuk, bagaimana cara kita memberikan
kontribusi sebagai anggota keluarga, kelompok, komunitas, organisasi dan masyarakat
secara luas membutuhkan suatu komunikasi. Hal ini menjadikan komunikasi tersebut
menjadi hal sangat fundamental dalam kehidupan kita.

2. Komunikasi adalah merupakan suatu aktifitas kompleks.
Komunikasi adalah suatu aktifitas kompleks dan menantang. Dalam hal ini ternyata
aktifitas komunikasi bukanlah suatu aktifitas yang mudah. Untuk mencapai kompetensi
komunikasi diperlulkan understanding dan suatu keterampilan sehingga komunikasi yang
dilakukan menjadi efektif. Ellen langer dalam Ruben and Steward (2005) menyebut konsep
mindfulness akan terjadi ketika kita memberikan perhatian pada situasi dan konteks, kita
terbuka dengan informasi baru dan kita menyadari bahwa ada banyak perspektif tidak hanya
satu persepektif di kehidupan manusia.

3. Komunikasi adalah vital untuk suatu kedudukan/posisi efektif.
Karir dalam bisnis, pemerintah, atau pendidikan memerlukan kemampuan dalam
memahami situasi komunikasi, mengembangkan strategi komunikasi efektif, memerlukan
kerjasama antara satu dengan yang lain dan dapat menerima atas kehadiran ide-ide efektif
melalui saluran saluran komunikasi. Untuk mencapai kesuksesan dari suatu
kedudukan/posisi tertentu dalam mencapai kompetensi komunikasi antara lain melalui
kemampuan secara personal dan sikap, kemampuan interpersonal, kemampuan dalam
melakukan komunikasi oral dan tulisan, serta lain sebagainya.

4. Suatu pendidikan tinggi tidak menjamin kompetensi komunikasi yang baik.
Kadang-kadang kita menganggap bahwa komunikasi itu hanyalah suatu yang bersifat
common sense dan setiap orang pasti mengetahui bagaimana berkomunikasi. Padahal
sesungguhnya banyak yang tidak memilki keterampilan berkomunikasi yang baik, karena
ternyata banyak pesan-pesan dalam komunikasi manusia itu yang disampaikan tidak hanya
dalam bentuk verbal, tetapi nonverbal, ada keterampilan komunikasi dalam bentuk tulisan
dan oral, ada ketrampilan berkomunikasi secara interpersonal, ataupun secara kelompok,
sehingga kita dapat berkolaborasi sebagai anggota dengan baik, dan lain-lain. Kadangkadang
kita juga mengalami kegagalan dalam berkomunikasi. Banyak yang berpendidikan
tinggi, tetapi tidak memilki keterampilan berkomunikasi secara baik dan memadai sehingga
mengakibatkan kegagalan dalam berinteraksi dengan manusia lainnya, maka komunikasi itu
perlu kita pelajari.

5. Komunikasi adalah populer.
Komunikasi adalah suatu bidang yang dikatakan sebagai populer. Banyak bidangbidang
komunikasi modern sekarang ini yang memfokuskan pada studi tentang pesan, ada
juga tentang hubungan antara komunikasi dengan bidang profesional lainnya, termasuk
hukum, bisnis, informasi, pendidikan, ilmu komputer, dan lain-lain.Saat ini komunikasi
sebagai ilmu sosial/perilaku dan suatu seni yang diaplikasikan. Disiplin ini bersifat
multidisiplin, berkaitan dengan ilmu-ilmu lain seperti psikologi, sosiologi, antroplogi, politik,
dan lain sebagainya.

5.5. Komunikasi Dalam Organisasi
Dalam dunia kerja, komunikasi merupakan satu hal yang paling penting dan menjadi
bagian dari tuntutan profesi (keahlian). Kadang-kadang penyebab rusaknya hubungan antar
individu dalam suatu organisasi, misalnya antara manajer atau supervisor dengan karyawan
atau di antara karyawan itu sendiri adalah terjadinya miskomunikasi. Untuk berkomunikasi
dengan baik dibutuhkan tidak hanya bakat, tetapi terutama kemauan melakukan proses
belajar yang kontinu. Keterampilan berkomunikasi yang baik meliputi kemampuan dasar
untuk mengirim dan menguraikan pesan secara akurat dan efektif untuk memperlancar
pertemuan, untuk memahami cara terbaik dalam penyebaran informasi dalam sebuah
organisasi, serta memahami makna simbolis tindakan-tindakan seseorang sebagai manajer.
Komunikasi adalah suatu pertukaran sebuah konsep yang sederhana, tetapi vital.
Walaupun demikian, terlalu sering kita melakukan pendekatan dengan suatu pertukaran
tanpa mempertimbangkan bagaimana pihak lain bereaksi. Pesan yang kita sampaikan
seringkali terlalu berorientasi kepada diri sendiri, sehingga apa yang terjadi dengan pihak lain
menjadi sesuatu yang terabaikan. Dalam organisasi, ada 2 (dua) komunikasi yang terjadi,
yaitu komunikasi organisasi secara makro dan secara mikro. Komunikasi makro terjadi antara
organisasi tersebut dengan lingkungannya, atau dengan organisasi lainnya. Komunikasi
mikro terjadi di dalam organisasi, yaitu komunikasi yang terjadi diantara para anggota
organisasi, antara atasan dan bawahan, antar para pemimpin, dan antar kelompok kerja
atau antar divisi. Jadi, komunikasi organisasi secara mikro merupakan komunikasi
interpersonal di dalam organisasi.

Dalam konteks organisasi dikenal proses komunikasi dua arah, yaitu

1. Pemberi pesan

>media

>penerima pesan

2.pemberi pesan

>media

>penerima pesan.

Bila hanya salah satu yang terjadi (no.(1) atau no.(2)), dikatakan terjadi komunikasi satu arah.

Media disini berupa gerak atau pesan itu sendiri dan pesan sebagai dialog.

5.5.1. Komunikasi formal dan informal
Komunikasi formal ialah komunikasi resmi yang menempuh jaringan organisasi
struktur formal dimana , informasi ini tampaknya mengalir dengan arah yang tidak dapat
diduga dan jaringannya digolongkan sebagai selentingan. Informasi yang mengalir sepanjang
jaringan kerja selentingan terlihat berubah-ubah dan tersembunyi.
Komunikasi informal ialah komunikasi yang menempuh saluran yang sering disebut
“selentingan”, yaitu suatu jaringan yang biasanya jauh lebih cepat dibandingkan dengan
saluran-saluran resmi. Informasi informal/personal ini muncul dari interaksi diantara orangorang.
Dalam istilah komunikasi selentingan digambarkan sebagai metode penyampaian
laporan rahasia tentang orang-orang dan peristiwa yang tidak mengalir melalui saluran
perusahaan yang formal. Informasi yang diperoleh melalui selentingan lebih memperhatikan
apa yang dikatakan atau didengar oleh seseorang daripada apa yang dikeluarkan oleh
pemegang kekuasaan.

5.5.2. Komunikasi ke atas, ke bawah, horisontal dan silang

A. Komunikasi ke atas (upward communication)
Komunikasi dari bawahan ke atasan yang mencakup sistem-sistem saran,
kebijaksanaan pintu terbuka, mendengarkan keluhan-keluhan karyawan dan survei
semangat. Komunikasi ke atas dalam sebuah organisasi dapat diartikan bahwa informasi
mengalir dari tingkat yang lebih rendah ke tingkat lebih tinggi.

Beberapa alasan pentingnya arus komunikasi ke atas didasarkan pada :
1) Aliran informasi ke atas memberi informasi berharga untuk pembuatan keputusan
oleh yang mengarahkan organisasi dan mengawasi kegiatan orang-orang lainnya.
2) Komunikasi ke atas memberitahukan kepada penyelia kapan bawahannya siap
menerima apa yang dikatakan kepadanya.
3) Komunikasi ke atas memungkinkan, bahkan mendorong, omelan dan keluh kesah
muncul kepermukaan, sehingga penyelia tahu apa yang mengganggu orang-orang
yang paling dekat dengan operasi-operasi sebenarnya.
4) Komunikasi ke atas menumbuhkan apresiasi dan loyalitas kepada organisasi dengan
memberi kesempatan kepada pegawai untuk menentukan, apakah bawahan
memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
5) Komunikasi ke atas membantu pegawai mengatasi masalah pekerjaannya dan
dengan organisasi tersebut.
6) Komunikasi ke atas mengizinkan penyelia untuk menentukan, apakah bawahan
memahami apa yang diharapkan dari aliran informasi ke bawah.
Kebanyakan analisis dan penelitian dalam komunikasi ke atas menyatakan bahwa
penyelia dan manajer harus menerima informasi berupa : informasi yang memberitahukan
apa yang dilakukan bawahan, menjelaskan persoalan-persoalan kerja, memberi saran atau
gagasan untuk perbaikan dalam unit-unitnya, mengungkapkan bagaimana pikiran dan
perasaan bawahan tentang pekerjaan, rekan kerja dan organisasi.
Komunikasi ke atas dapat menjadi terlalu rumit, menyita waktu dan mungkin hanya
segelintir manajer organisasi yang mengetahui bagaimana cara memperoleh informasi dari
bawah.

Sharma (1979) memberikan alasan mengapa komunikasi ke atas terlihat amat sulit :
1) Kecenderungan bagi pegawai untuk menyembunyikan pikirannya.
2) Perasaan bahwa penyelia dan manajer tidak tertarik kepada masalah pegawai.
3) Kurangnya penghargaan bagi komunikasi ke atas yang dilakukan pegawai.
4) Perasaan bahwa penyelia dan manajer tidak dapat dihubungi dan tidak tanggap
pada apa yang disampaikan pegawai.

B. Komunikasi ke bawah (downward communication)
Komunikasi dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang lebih rendah dari suatu
organisasi, mencakup pedoman perusahaan, publikasi ke dalam, memo, papan buletin dan
rak informasi. Komunikasi ke bawah dalam sebuah organisasi berarti bahwa informasi
mengalir dari jabatan berotoritas lebih tinggi kepada yang berotoritas lebih rendah.

Informasi yang dikomunikasikan dari atasan kepada bawahan, antara lain :
1) Informasi mengenai bagaimana melakukan pekerjaan
2) Informasi mengenai dasar pemikiran untuk melakukan pekerjaan
3) Informasi mengenai kebijakan dan praktik-praktik organisasi
4) Informasi mengenai kinerja pegawai
5) Informasi untuk mengembangkan rasa memiliki tugas
Informasi yang disampaikan dari seorang atasan kepada bawahan tidaklah begitu saja
disampaikan, utamanya harus melewati pemilihan metode dan media informasi. Ada 6
(enam) kriteria yang sering digunakan untuk memilih metode penyampaian informasi
kepada para pegawai, antara lain :
1) Ketersediaan
2) Biaya
3) Pengaruh
4) Relevansi
5) Respons
6) Keahlian

C. Komunikasi horizontal (horizontal communication)
Tipe komunikasi ini memungkinkan para manajer pada tingkat sama dalam satu
organisasi mengkoordinasikan kegiatannya lebih efektif, misalnya rapat staf dan konferensi
tatap muka.

Komunikasi horizontal terdiri dari penyampaian informasi diantara rekan sejawat
dalam unit kerja yang sama. Unit kerja meliputi individu-individu yang ditempatkan pada
tingkat otoritas yang sama dalam organisasi dan mempunyai atasan yang sama. Tujuan dari
komunikasi horizontal adalah :
1) Untuk mengkordinasikan penugasan kerja
2) Berbagi informasi mengenai rencana dan kegiatan
3) Untuk memecahkan masalah
4) Untuk memperoleh pemahaman bersama
5) Untuk mendamaikan, berunding dan menengahi perbedaan
6) Untuk menumbuhkan dukungan antar personal
Bentuk komunikasi horizontal yang paling umum mencakup semua jenis kontak antar
personal. Bahkan bentuk komunikasi horizontal tertulis cenderung menjadi lebih lazim.
Komunikasi horizontal paling sering terjadi dalam rapat komisi, interaksi pribadi, selama
waktu istirahat, obrolan di telepon, memo dan catatan, kegiatan sosial dan lingkaran
kualitas.
D. Komunikasi silang (across communication)
Komunikasi ini merupakan penyampaian informasi rekan sejawat yang melewati batasbatas
fungsional dengan individu yang tidak menduduki posisi atasan maupun bawahannya.

Mereka melintasi jalur fungsional dan berkomunikasi dengan orang-orang yang diawasi dan
yang mengawasi, tetapi bukan atasan ataupun bawahannya. Mereka tidak melewati otoritas
lini untuk mengarahkan orang-orang yang berkomunikasi dengannya dan terutama harus
mempromosikan gagasan-gagasannya, namun memiliki mobilitas tinggi dalam organisasi
dapat mengunjungi bagian lain atau meninggalkan kantornya hanya untuk terlibat dalam
komunikasi informal.

Komunikasi silang menciptakan :
1) perasaan “kita/kami”, guna menumbuhkan kebersamaan
2) pengertian yang simpatik
3) mengamankan koordinasi pada beberapa sektor
4) kerjasama yang berhasil
5) iklim yang sehat dan menguntungkan

1. Komunikasi lisan dan tertulis
Pesan-pesan lisan memungkinkan menerima umpan balik segera. Komunikasi tertulis :
memberi catatan atau referensi permanen, membantu memberikan dokumentasi dari suatu
pesan yang disampaikan, yang dapat menjadi penting bila pembuktian diperlukan kembali
2. Komunikasi non verbal
Komunikasi yang berdasarkan faktor-faktor lain daripada lambang verbal :
a. bahasa tubuh
b. lambang-lambang non verbal
c. ketidakaktifan
d. pernyataan-pernyataan yang dinyatakan oleh suara
e. jabatan tangan
f. penggunaan waktu

Dalam komunikasi verbal terdapat beberapa hal yang termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi wajah
Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah
adalah cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan
kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat
dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan
sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata dapat memberikan kesempatan pada
orang lain untuk mengamati hal yang lainnya.
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat
spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang
sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan
melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan
bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan
merefleksikan emosi, konsep diri dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik napas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan
perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi. Bila
dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi non verbal lainnya sampai desis
atau suara dapat menjadi pesan yang sangat jelas.
f. Gerak isyarat adalah hal yang dapat mempertegas pembicaraan . Menggunakan
isyarat sebagai bagian total dari komunikasi seperti mengetukan kaki atau
mengerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan
stress/bingung, atau sebagai upaya untuk menghilangkan stress.

5.5.3. Lima Kaidah Komunikasi

Telah dikenal 5 (lima) Kaidah Komunikasi efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective
Communication), dirangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari komunikasi itu
sendiri, yaitu REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble), yang berarti
merengkuh atau meraih. Ada keyakinan bahwa komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya
bagaimana meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun
respon positif dari orang lain. Berikut ini uraian dari kelima kaidah komunikasi efektif
tersebut dalam konteks dan berfungsi sebagai fondasi untuk mengembangkan kemampuan
berbicara di depan publik.

a. Respect
Kaidah pertama dalam berkomunikasi secara efektif, khususnya dalam berbicara di
depan publik adalah sikap hormat dan sikap menghargai terhadap khalayak atau hadirin.
Hal ini merupakan kaidah pertama dalam berkomunikasi dengan orang lain, termasuk
berbicara di depan publik. Pembicara atau presenter harus memiliki sikap (attitude)
menghormati dan menghargai hadirin. Harus diingat bahwa pada prinsipnya manusia
ingin dihargai dan dianggap penting diakui. Jika dalam presentasi harus mengkritik
seseorang, lakukanlah dengan penuh respect terhadap harga diri dan kebanggaan orang
tersebut.

b. Empathy
Kaidah kedua adalah empati, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada
situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Rasa empati akan memberi kemampuan
untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan
memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu, dalam berbicara di
depan publik, pembicara harus terlebih dulu memahami latar belakang, golongan, lapisan
sosial, tingkatan umur, pendidikan, kebutuhan, minat, harapan dan sebagainya, dari calon
hadirin (audiences). Jadi sebelum membangun komunikasi atau mengirimkan pesan,
pembicara perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan, sehingga
nantinya pesan akan dapat tersampaikan dengan tanpa ada halangan psikologis atau
penolakan dari penerima. Empati berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap
perseptif atau siap menerima masukan ataupun umpan balik apapun dengan sikap yang
positif. Banyak sekali dari orang yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik
dari orang lain. Padahal esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah
tidak akan efektif, manakala tidak ada umpan balik (feedback) yang merupakan arus balik
dari penerima pesan. Oleh karena itu, dalam berbicara di depan publik, pembicara harus siap
untuk menerima masukan atau umpan balik dengan sikap positif.

c. Audible
Kaidah ketiga adalah audible, yaitu dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik.
Audible dalam hal ini berarti pesan yang disampaikan dapat diterima oleh penerima pesan.
Kaidah ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui medium atau delivery
channel, sedemikian dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu
pada kemampuan untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat
bantu audio visual yang akan membantu, agar pesan yang disampaikan dapat diterima
dengan baik.

d. Clarity
Kaidah keempat adalah kejelasan dari pesan yang disampaikan (clarity). Selain bahwa
pesan harus dapat diterima dengan baik, maka kaidah keempat yang terkait dengan itu
adalah kejelasan dari pesan itu sendiri, sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau
berbagai penafsiran yang berlainan. Clarity juga sangat tergantung pada mutu suara dan
bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa yang tidak dimengerti oleh hadirin, akan
membuat pidato atau presentasi tidak dapat mencapai tujuannya. Seringkali orang
menganggap remeh pentingnya Clarity dalam public speaking, sehingga tidak menaruh
perhatian pada suara (voice) dan kata-kata yang dipilih untuk digunakan dalam presentasi
atau pembicaraannya.

e. Humble
Kaidah kelima dalam komunikasi yang efektif adalah sikap rendah hati. Sikap ini
merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai
orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah hati yang dimiliki. Kerendahan hati juga
berarti tidak sombong dan menganggap diri penting ketika berbicara di depan publik. Justru
dengan kerendahan hatilah, pembicara atau presenter dapat menangkap perhatian dan
respon positif dari publik pendengarnya. Kelima hukum komunikasi tersebut sangat penting
untuk menjadi dasar dalam melakukan pembicaraan di depan publik.
Dari pemahaman terhadap prinsip komunikasi, diharapkan seseorang dapat
berkomunikasi lebih baik, terutama berkomunikasi dengan efektif dengan pihak lain, yaitu
memahami hakikat komunikasi, proses terjadinya komunikasi, syarat-syarat terjadinya
komunikasi dan komunikasi antar pribadi secara efektif

5.6. Teknik Presentasi

Salah satu hal yang paling ditakuti dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan
profesional adalah ketika harus berbicara atau berkomunikasi di depan banyak orang, baik
untuk acara sosial, seminar, kuliah, presentasi bisnis, pidato perpisahan, bahkan dalam acara
apa saja, dimana sebagian besar hadirin adalah orang yang telah dikenal dengan baik.

Berbicara di depan publik bagi sebagian besar orang adalah sesuatu yang menegangkan dan
menakutkan, seakan seluruh mata para hadirin sedang menghakimi dan seakan-akan
menjadi terdakwa yang sedang diadili oleh para hadirin.

Riset yang dilakukan oleh Malouf dalam Macnamara (1998) menyatakan bahwa indera
pendengaran manusia hanya bisa menerima pesan 11%, sedangkan 75% diterima secara
visual. Berbicara di depan publik, merupakan keterampilan yang harus dikuasai, karena pada
suatu saat, pastilah seseorang harus berbicara dihadapan sejumlah orang untuk
menyampaikan pesan, pertanyaan, tanggapan atau pendapat tentang sesuatu hal yang
diyakini. Hal yang sederhana misalnya harus berbicara di depan para tamu dalam suatu
acara keluarga atau pada momen yang menentukan karir seseorang seperti
mempresentasikan proposal proyek atau tentang produk yang ditawarkan di hadapan
sejumlah mitra bisnis atau calon pembeli.

Menurut Hart et al, dalam Tubbs dan Moss (2000), terdapat 3 (tiga) aspek pengalaman
dalam komunikasi publik, yakni :

1) Terjadi di tempat yang dianggap sebagai tempat publik, seperti auditorium, kelas, dan
lain sebagainya,

2) Cenderung mengemukakan masalah sosial daripada masalah informal dan tidak
terstruktur, sehingga biasanya direncanakan terlebih dahulu atau agenda acara lain
yang mendahului atau mengikuti penampilan pembicara,

3) Menggunakan norma perilaku yang relatif jelas.
Dari sisi isi pembicaraan, sedikitnya pembicara memiliki satu dari tiga tujuan berikut,
yaitu memberi informasi, menghibur, dan membujuk (meyakinkan) pendengar.
Menginformasikan lebih terpusat kepada hasil perolehan informasi, menghibur diarahkan
kepada kesenangan, sedangkan membujuk (meyakinkan) mengarahkan pada perubahan
sikap. Perubahan sikap adalah tujuan antara yang harus dicapai sebelum mewujudkan
tindakan.

Presentasi adalah komunikasi lisan, atau pidato yang telah dipersiapkan dan
disampaikan dengan cara formal. Presentasi dapat berupa laporan kemajuan, penjelasan
produk/jasa baru pada klien, kuliah, pelatihan, wawancara pekerjaan, seminar ilmiah, bisnis
dan sebagainya dihadapan khalayak yang lebih khusus. Selanjutnya menurut Macnamara
(1998), presentasi cenderung menggunakan sarana pendukung seperti audiovisual dan
berbagai teknik penyampaian pesan seperti demonstrasi, partisipatif interaktif, drama,
humor dan teknik khusus lainnya. Hal inilah yang membedakan presentasi dari public
speaking secara umum. Dengan menggunakan sarana pendukung dan teknik khusus dalam
penyampaian, maka presentasi dapat mengubah pidato yang cenderung rumit menjadi hal
yang menarik/sederhana.

5.7. Persiapan Presentasi

Menurut Macnamara (1996), persiapan adalah kunci dari suatu presentasi sukses.
Presentasi sukses adalah ibarat gunung es, dimana puncak gunung es dan keindahan yang
terlihat di atas permukaan air, hanyalah ujung dari gunung es tersebut. Lebih dari 90%
gunung es tersebut, berada di bawah permukaan air dan merupakan basis yang kuat dari
gunung es tersebut. Artinya, bahwa sebuah presentasi yang sukses, 90% bergantung pada
persiapan. Abraham Lincoln pernah mengatakan : “Jika saya memiliki 8 (delapan) jam untuk
merobohkan sebatang pohon, maka saya akan menghabiskan 6 (enam) jam untuk mengasah
kapak“. Dale Carnegie mengatakan : “Pidato yang telah dipersiapkan, 9/10 (sembilan per
sepuluhnya) akan tersampaikan”.

Dengan adanya persiapan yang cermat, pembicara dan pendengar akan mendapatkan
keuntungan utama, yakni hemat waktu dan pembicara akan terhindar dari kegugupan dan
demam panggung yang terjadi sebelum presentasi. Kegugupan tersebut biasanya bukan
disebabkan oleh karena adanya pendengar yang cukup banyak di depan mata pembicara,
melainkan disebabkan oleh suatu ketakutan terhadap kemampuan diri pembicara yang tidak
tahu harus mengatakan apa di depan pendengar. Memberikan presentasi tanpa
persiapan/perencanaan yang memadai, ibarat menembak tanpa memiliki sasaran. Mungkin
saja peluru ditembakkan tetapi tidak mengenai apapun (misal : penembak senapan mesin vs
penembak jitu).

Subyek pengetahuan adalah pondasi atau prasyarat, bahkan sebagai tulang punggung dari
suatu presentasi yang sukses. Bila pembicara tidak memiliki banyak informasi, maka
sebaiknya jangan melakukan presentasi (Macnamara, 1996).

Pengetahuan tentang subyek
yang hebat sekalipun atau menjadi pakar atas subyek pengetahuan tertentu, tidaklah cukup
menjamin kesuksesan suatu presentasi, karena pembicara perlu memahami cara
penyampaian informasi tersebut kepada pendengar.

Oleh karena itu, 8 (delapan) langkah
berikut ini, akan sangat membantu dalam memanfaatkan subyek pengetahuan secara
optimal.

1. Analisa Pendengar

Sebelum pembicara memikirkan judul presentasi, membuat slide bahkan menuliskan
garis besar, perlu diselami isi kepala para pendengar. Beberapa pertanyaan penting yang
biasanya digunakan wartawan untuk suatu reportase, adalah sangat membantu pembicara
untuk memahami para pendengar. Pertanyaan tersebut adalah :

a. Siapa pendengarnya ?
Pembicara harus mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya tentang siapa yang
menjadi pendengarnya. Beberapa hal menyangkut informasi tentang siapa para
pendengar, antara lain berkaitan dengan profesi, jenis kelamin, umur, jumlahnya dan
kehadirannya terpaksa/sukarela, serta harapan apa yang diinginkan.

b. Apa yang ingin diketahui para pendengar ?

William D. Wells mengatakan bahwa komunikasi yang baik seharusnya memenuhi rumus
ROI, yakni Relevance, Original dan Impact. Apabila presentasi tersebut tidak relevan,
maka tujuannya tidak jelas. Presentasi yang tidak orisinil, tidak akan menarik perhatian,
sedangkan presentasi yang tidak orisinal menimbulkan pengaruh yang kuat, tentunya
tidak akan menimbulkan kesan (impresi) yang tak berkesudahan.

2. Peninjauan Lokasi
Bagi seorang pembicara atau presenter, peninjauan lokasi sangat diperlukan sebelum
pelaksanaan presentasi bisnis. Peninjauan lokasi akan menjawab pertanyaan Dimana
presentasi akan dilaksanakan ? Yang dipertimbangkan dalam peninjauan lokasi, antara
lain Ketersediaan sound system, layout ruangan (pengaturan tempat duduk, posisi
podium, layar, dll), dan kondisi ruangan (ber-AC, tata lampu, dll).

3. Kerangka dan Susunan
Tetapkan terlebih dulu apa tujuan atau sasarannya. Apa yang menjadi presentasi ini ?
Apa yang menjadi harapan panitia, pembicara dan seluruh hadirin yang ada ? Penetapan
tujuan ini sangat berkaitan dengan informasi yang didapatkan mengenai pendengar atau
hadirin, apa yang menjadi tujuan dan harapannya ? Dapatkan umpan balik dari temanteman
atau yang ahli dalam bidang yang akan dipresentasikan. Setelah itu, susunlah peta
pemikiran dari topik yang dipilih. Ini merupakan cara untuk meringkas suatu tema, atau
pokok pikiran yang ada dalam buku. Pertama, awali dengan menuliskan tema pokok di
tengah-tengah halaman kertas kosong. Kemudian seperti pohon dengan cabang dan ranting,
kembangkan tema pokok menjadi sub-tema di sekelilingnya dengan dihubungkan memakai
garis seperti jari-jari roda. Setelah itu, buatlah agenda, outline atau catatan kecil tentang
urutan pembicaraan yang akan disampaikan. Sisipkan anekdot, kuis, cerita ilustrasi,
permainan dan latihan-latihan untuk menjaga agar audiens tidak bosan dan mengantuk.

4. Penelitian dan Penerapan
Bagian ini lebih mengarah kepada kajian pembicara atau presenter terhadap tiga langkah
sebelumnya, yaitu analisis pendengar, peninjauan lokasi dan kerangka presentasi.

5. Penulisan Naskah/ Catatan
Dalam persiapan ini adalah menyusun makalah atau teks lengkap, pokok-pokok pikiran
(bentuk powerpoint presentation, transparent sheets, handouts dan kertas berukuran
kartu pos), video presentation, dan sebagainya sebagai materi utama presentasi anda

6. Penyajian dengan Alat
Untuk meningkatkan penyampaian pesan (hukum ketiga audible), presenter harus
menguasai kegunaan dan penggunaan alat bantu visual seperti misalnya slide, overhead
projector, LCD (infocus) projector yang langsung dihubungkan dengan komputer atau
notebook. Sebagian besar orang lebih mudah menangkap informasi yang berupa
gambaran visual daripada mendengarkan. Apalagi jika menggunakan data numerikal,
akan lebih menarik jika disajikan dalam bentuk grafik, tabel atau bagan warna-warni,
atau menggunakan software tertentu, misalnya powerpoint, untuk menggabungkan
pointers dengan suara, foto, clip art, animasi dan video dalam satu file e-presentasi.
Kemampuan menggunakan alat bantu visual ini akan memberikan kesan pertama kepada
audience bahwa presenter siap melakukan presentasi. Tetapi sekali lagi jangan terfokus
pada alat bantu tersebut. Apalagi jika terjadi kesalahan atau gangguan teknis, presenter
harus selalu siap dengan cara presentasi langsung dengan tanpa alat bantu. Atau
sebaiknya ada teknisi yang siap untuk mengatasi gangguan teknis tersebut. Jangan
sampai gara-gara alat bantu visual, akan kehilangan momentum untuk menyampaikan
topik atau materi presentasi.

Dalam penyampaian pesan kepada publik, baik berupa pertanyaan, pidato, kuliah,
seminar, sepatah kata, dan sebagainya, yang paling penting adalah bahwa pesan dapat
tersampaikan kepada penerima pesan dengan baik dan jelas. Berbicara di depan publik
bukan ujian ataupun pengadilan untuk mengadili penampilan, kecerdasan, kecantikan
ataupun keluasan pengetahuan.

7. Praktek dan Latihan
Teknik-teknik yang harus diperhatikan dalam praktek dan latihan :

a. Suara
Perhatikanlah ucapan suara yang keluar. Aturlah irama dan tempo suara dengan
mengatur pernapasan dengan baik. Gunakan jeda suara secara jelas. Ucapan yang keluar
harus terdengar jelas, tetapi tidak terlalu cepat. Mutu suara merupakan faktor kunci
yang menentukan, apakah hadirin memperhatikan baik kepada presenter maupun pesan
yang disampaikan. Suara harus keras dan jelas terdengar, bahkan oleh hadirin yang
duduk paling jauh sekalipun. Jika tersedia, selalu gunakan pengeras suara (loudspeaker),
meskipun suara sudah cukup keras.
Cobalah dengan berlatih mendengarkan suara sendiri. Caranya dengan menutup mata,
berbicaralah, kemudian perhatikan mutu, kekuatan dan kejelasan suara. Suara
merupakan aset yang paling berharga dalam berkomunikasi secara lisan. Oleh karena itu,
memelihara mutu suara dan berlatih secara kontinu merupakan keharusan, jika ingin
menjadi pembicara publik sukses. Jika suara kurang bagus dan sumbang, hal yang perlu
dilakukan adalah mencari pelatih suara profesional atau mengikuti kursus/pendidikan
(misalnya, di Institut Kesenian Jakarta) untuk meningkatkan mutu suara. Apalagi, orang
yang bercita-cita jadi presenter, pembicara publik, Master of Ceremony (MC) dan
sebagainya.

b. Jarak Pandang
Saat berdiri di depan publik, pastikan bisa melihat ke segala arah. Arahkan pandangan
tiap saat ke tiap bagian posisi pendengar. Gunakan kontak mata dan fokuskan perhatian
pada orang yang memperhatikan presentasi anda. Tetapi dapat mungkin
memproyeksikan pembicaraan ke seluruh ruangan dan seluruh hadirin.

c. Perilaku
Hindarkan perilaku teatrikal, seperti bermain-main dengan ballpoint atau pensil, karena
selain mengganggu konsentrasi pendengar, juga mengurangi perhatian ke topik
pembicaraan dan juga akan dicap tidak mampu menguasai diri.

d. Menjadi Diri Sendiri
Ini merupakan hal penting dari sebuah presentasi. Jangan terjebak pada gaya, atau ciri
khas orang lain. Be your self, jadilah diri sendiri! Jangan meniru gaya orang lain atau
menciptakan gaya baru yang dianggap menarik perhatian. Cara-cara seperti itu justru
membuat kegiatan presentasi tidak berkembang secara wajar.

e. Percaya Diri
Dalam presentasi bisnis, sangat dibutuhkan keyakinan diri yang tinggi. Pembicara harus
yakin, apa yang disampaikan menarik bagi yang mendengarkannya. Ingat pada saat
presentasi jangan membacakan makalah atau terpaku pada bahan utama. Berbicaralah
seakan sedang berbicara dengan satu-dua orang saja. Ketidakpercayaan diri seorang
pembicara atau presenter, akan terekspresi dalam berbagai macam sikap atau perilaku
seperti gemetar, bicara terputus-putus, tangan berkeringat dingin, mulut kering dan
tenggorokan tersumbat.

f. Sasaran
Tentukan sasaran dan target yang ingin dicapai, sehingga pembicara dengan mudah
dapat menyusun pokok-pokok yang akan disampaikan dalam presentasi. Dengan sasaran
dan target yang jelas, audiens dapat lebih memahami isi pesan tersebut.

g. Jangan Terlalu Banyak Informasi
Berdasarkan pengalaman, pendengar lebih bisa memahami informasi yang singkat,
disertai contoh visual maupun suara. Menjejali dengan informasi sebanyak-banyaknya
kepada pendengar, sama artinya pembicara tidak memberikan informasi apa-apa. Sebab,
daya tahan dan daya ingat seseorang amat terbatas. Apalagi, jika hal itu diperolehnya
dari mendengarkan presentasi saja. Begitu pula, jargon dan statistik yang terlalu banyak,
justru memusingkan ketimbang menyenangkan pendengar.

h. Jangan Terlalu Lama
Berbicara terlalu lama akan membosankan pendengar. Selain itu, membuat pendengar
lupa apa yang telah disampaikan. Jadwalkan waktu presentasi sekitar 30 menit dan
tetapkan tema yang akan memberi identitas bagi presentasi.
Dari hal-hal yang telah dikemukakan, dapat dikatakan bahwa dalam praktek dan latihan
presentasi diperlukan tahapan seperti merencanakan dan mengorganisasi presentasi,
mengembangkan dan menggunakan alat bantu, bersiap dan menyampaikan presentasi.

8. Presentasi/ Penyampaian
Berbicara di depan publik merupakan suatu seni berkomunikasi. Dalam berkomunikasi,
pembicara atau presenter perlu memahami 5 (lima) komponen atau unsur penting yang
harus diperhatikan. Kelima (5) unsur tersebut adalah pengirim pesan (sender), pesan yang
dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau medium),
penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feedback).
Bagian ini merupakan tahapan akhir dari persiapan suatu presentasi. Oleh karena
itu, tahapan persiapan sebelumnya, harus benar-benar dipahami dan dikuasai sebelum
pembicara tiba di lokasi dan waktu untuk persentasi.

5.8. Presentasi

Menurut Guffey (1991), dalam melaksanakan suatu presentasi, setidak-tidaknya ada 9
(sembilan) hal penting yang harus dilaksanakan, yaitu :
1. Mulailah dengan sebuah pause. Bila pertemuan dengan audiens adalah yang pertama
kalinya, maka pembicara harus menciptakan rasa nyaman pada dirinya sendiri dan
membuat momen tersebut menjadi berkesan.

2. Menyajikan kalimat pertama yang ada dalam ingatan. Ingatan dalam kalimat
pembukaan tersebut dapat menjalin hubungan dengan audiens melalui kontak mata,
sehingga pembicara kelihatan tahu dan dapat mengontrol situasi.

3. Memelihara kontak mata. Tataplah audiens. Apabila banyaknya audiens membuat
pembicara merasa takut, maka sebaiknya pembicara mengambil dua orang audiens di
sisi kanan dan dua orang audiens di sisi kiri, kemudian pembicaraan diarahkan kepada
orang-orang tersebut.

4. Kontrol kosa kata dan suara. Berbicaralah dengan lembut dan cukup keras untuk
didengar. Hilangkan verbal static seperti ..eh…, ehm…..dan …oh…. Lebih baik sunyi
daripada diisi dengan verbal static pada saat pembicara berpikir atau mencari ide.

5. Pasanglah rem. Pembicara pemula biasanya berbicara dengan sangat cepat, seakan
memperlihatkan suatu kegelisahan, sehingga membuat audiens sulit untuk mengerti
maksud pembicaraan. Oleh karena itu, sebaiknya berbicara dengan perlahan dan
dengarkan apa yang terucap dari mulut.

6. Bergerak secara alami. Gunakanlah podium untuk meletakkan catatan agar dapat
dengan leluasa bergerak. Hindarilah kegelisahan akan catatan, pakaian atau materi
pembicaraan yang diletakkan dalam saku. Belajarlah untuk menggunakan gerakan tubuh
dalam mengekspresikan isi pembicaraan.

7. Menggunakan alat peraga visual secara efektif. Paparkan dan diskusikan materi
pembicaraan dengan alat peraga visual, dengan cara menggerakkan ke kiri atau ke kanan
agar terlihat utuh keseluruhan, kalau perlu dengan menggunakan pointer.

8. Hindarilah penyimpangan. Berpeganglah kepada garis besar dan catatan pembicaraan.
Jangan menyimpang kepada pembicaraan yang tidak sesuai dengan materi yang akan
dibawakan, karena pendengar mungkin tidak akan terpikat dengan topik yang
menyimpang tersebut.

9. Ringkaslah poin-poin utama. Simpulkan presentasi dengan menyatakan poin-poin
utama atau menekankan kepada apa yang harus didengarkan dan dipikirkan oleh
audiens.
Menurut Gumbira_Sa’id (2005) ada The Eight’s Be untuk melakukan presentasi prima, yaitu :
Be front : tepat waktu
Be presentable : hadir, menarik dan bermanfaat.
Be prepared : siap tempur
Be relevant : mutakhir dan sesuai janji/harapan
Be organized : teratur dan sistematik
Be receptive : menerima saran dan kritik dengan tulus
Be throught : tuntas, jelas dan menyeluruh
Be brief : optimal dan seringkas mungkin.
Pada intinya, didalam melakukan presentasi efektif diperlukan kemampuan mengatur
posisi postur tubuh (menyentuh atau mendekat) di depan audiens, kemampuan
menggunakan alat bantu, persiapan, menghadapi kecemasan, penyampaian dan teknik
tanya jawab.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 3

BAB III

Karakter Wirausaha Sukses

Menyelesaikan Masalah 1 :
Menjalankan usaha (problem solving)
Kewirausahaan dalam perspektif ekonomi dapat dijelaskan dari aspek peluang.
Sebagaimana beberapa ahli mendefinisikan kewirausahaan sebagai tanggapan yang
dilakukan seseorang terhadap peluang-peluang usaha yang diwujudkan dalam berbagai
tindakan dengan berdirinya sebuah unit usaha sebagai suatu hasil dari tindakannya. Dalam
perspektif sosiologi kemampuan menemukan peluang sangat tergantung pada interaksi
antar-manusia untuk memperoleh dan mengakses informasi yang dibutuhkan terkait
dengan luang yang ada. Sedangkan dalam perspektif psikologi kemampuan seseorang dalam
menemukan dan memanfaatkan peluang sangat tergantung dari karakter kepribadian yang
dimilikinya.
Jelas kiranya bahwa salah satu faktor keberhasilan seorang wirausahawan adalah
kemampuannya dalam jeli melihat peluang dan memanfaatkannya sebelum dimanfaatkan
oleh orang lain. Kemampuan melihat peluang adalah modal dalam memunculkan ide awal
untuk berwirausaha. Tidak semua orang mampu melihat peluang apalagi memanfaatkannya,
demikian halnya kemampuan melihat peluang tidaklah sama antar setiap orang. Seseorang
yang telah mengenal potensi diri yang dimilikinya lebih cenderung memiliki kemampuan
untuk melihat dan memanfaatkan peluang peluang yang ada.

MENENTUKAN PELUANG USAHA
3.1. Menemukan Peluang Usaha
Peluang usaha bersumber dari adanya kebutuhan dari individu atau masyarakat. Oleh
karena itu jika ingin mulai mewujudkan berwirausaha, hendaknya terlebih dahulu menjawab
pertanyaan” “Apakah yang menjadi kebutuhan masyarakat atau kebanyakan anggota
masyarakat saat ini atau di masa yang akan datang?”. Untuk memahami kebutuhan
masyarakat diperlukan suatu diagnosa terhadap lingkungan usaha secara keseluruhan, yang
meliputi faktor ekonomi, politik, pasar, persaingan, pemasok, teknologi, sosial dan geografi.
Lingkungan usaha senantiasa berubah setiap saat, bahkan perubahannya cukup pesat
dan seiring dengan itu terjadi pula perubahan kebutuhan masyarakat. Untuk menemukan
peluang usaha yang prospektif seharusnya kita sebagai wirausahawan senantiasa mencari
informasi yang terkait dengan perubahan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Sumber
informasi dapat diperoleh dari instansi/lembaga pemerintah, media massa, pasar atau
mungkin melalui wawancara dengan konsumen. Jadi, peluang senantiasa ada karena
perubahan-perubahan terus berlangsung baik di tingkat individu, maupun ditingkat
masyarakat. Kemampuan kita melihat peluang sangat tergantung dari informasi yang kita
peroleh tentang faktor lingkungan usaha.
Berangkat dari pertanyaan di atas dengan memanfaatkan potensi diri kita, maka dalam
menemukan peluang usaha yang cocok, kita dapat menggunakan dua pendekatan, yaitu:

a. Pendekatan in-side-out (dari dalam ke luar) bahwa keberhasilan akan dapat
diraih dengan memenuhi kebutuhan yang ada saat ini.

b. Pendekatan out-side-in (dari luar ke dalam) bahwa keberhasilan akan dapat
diraih dengan menciptakan kebutuhan

3.2. Memilih Lapangan Usaha dan Mengembangkan Gagasan
Usaha Setelah mengetahui kebutuhan masyarakat dan berhasil menemukan
berbagai lapangan usaha dan gagasan usaha, maka langkah berikutnya adalah menjawab
pertanyaan: “Manakah di antara lapangan usaha dan gagasan-gagasan usaha tersebut
yang paling tepat dan cocok untuk saya?” Pertanyaan ini sangat tepat, mengingat setiap
orang memiliki potensi diri yang berbeda-beda. Tentunya dalam memilih lapangan usaha
dan mengembangkan gagasan usaha, kita perlu menyesuaikan dengan potensi diri yang kita
miliki. Kekeliruan dalam memilih yang disebabkan karena ketidakcocokan atau
Ketidaksesuaian pada akhirnya akan mendatangkan kesulitan atau bahkan kegagalan di
kemudian hari.
Telah banyak fakta yang dapat dikemukakan, bahwa masih banyak wirausahawan yang
memulai usahanya dengan melihat keberhasilan orang lain dalam menjalankan usahanya
(latah atau ikut-ikutan). Pada hal belum tentu orang lain berhasil dalam suatu lapangan
usaha, kita juga dapat berhasil dengan lapangan usaha yang sama. Mungkin saja orang lain
berhasil karena potensi diri yang dimilikinya cocok dengan lapangan usaha tersebut dan
kemampuan dia untuk mengakses informasi terkait dengan usaha yang dijalankannya. Bisa
saja kita mengikuti orang yang telah berhasil dalam suatu lapangan usaha, namun kita perlu
memiliki nilai lebih dari aspek kualitas yang kita tawarkan kepada konsumen. Namun
kemampuan menawarkan aspek kualitas yang lebih tetap juga terkait dengan potensi diri
yang kita miliki.

Olehnya itu, dalam memilih lapangan usaha yang akan kita geluti, perlu
dipertimbangkan hal-hal berikut:
a. Lapangan usaha yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok bagi kita.
b. Lapangan usaha yang pada masa lalu menguntungkan, belum tentu pada saat ini
masih menguntungkan, atau lapangan usaha yang menguntungkan saat ini belum
tentu menguntungkan di masa yang akan datang.
c. Lapangan usaha yang berkembang baik di suatu daerah, belum tentu dapat
berkembang dengan baik pula di daerah lain, dan sebaliknya.
d. Berangkat dari pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka dalam memilih lapangan
usaha, kita perlu kembali melihat dan mengkaji kondisi internal kita dan kondisi
eksternal dimana usaha kita jalankan, karena faktor internal dan eksternal ini akan sangat menentukan kesuksesan kita dalam menjalankan usaha. Faktor internal yang dimaksud seperti penguasaan sumberdaya (lahan, bangunan, peralatan dan finansial), penguasaan teknis atau keterampilan, penguasaan manajemen dan jejaring sosial yang kita miliki. Sedangkan faktor eksternal seperti peraturan pemerintah, tingkat permintaan dan penawaran, persaingan, resiko dan prospek ekonomi baik lokal, regional, nasional maupun global. Berdasarkan uraian di atas, maka langkah awal yang perlu kita lakukan adalah menginventarisir berbagai jenis lapangan usaha dan gagasan produk yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Kehidupan manusia dapat berkualitas ketika semua komponen kebutuhannya terpenuhi.

Mungkin dari langkah awal tadi, kita telah menemukan ratusan atau bahkan ribuan
gagasan usaha. Untuk memperkecil pilihan dalam melakukan analisis berikutnya, maka kita
harus menyeleksi berbagai jenis gagasan usaha yang telah kita lakukan pada langkah
pertama tadi. Gagasan usaha yang dipilih adalah gagasan yang memiliki prospek secara
ekonomi yang dapat berupa pertimbangan bahwa produk yang dihasilkan merupakan
kebutuhan vital bagi manusia dengan tingkat permintaan dan harga yang relatif memadai.

Selanjutnya alternatif pilihan lebih diperkecil lagi dengan memilih beberapa gagasan
usaha dengan mempertimbangkan potensi diri (faktor internal) kita. Hasil akhir dari langkahlangkah
yang telah kita lakukan akan diperoleh beberapa gagasan usaha yang telah terurut
berdasarkan prioritasnya. Agar pilihan kita lebih aman dan dapat dikuasai dengan baik, maka
perlu dilakukan.

Analisis. Kembali dengan mempertimbangkan faktor internal berupa kekuatan dan
kelemahan yang kita miliki jika kita memilih gagasan usaha yang bersangkutan, dan faktor
eksternal berupa peluang dan ancaman yang akan dihadapi jika kita menjatuhkan pilihan
pada gagasan usaha yang bersangkutan. Analisis ini sering dikenal dengan analisis SWOT.
Bukan tidak mungkin, setelah melakukan langkah analisis ini, kita akan menjatuhkan pilihan
pada gagasan usaha yang menjadi prioritas kedua atau ketiga dari hasil analisis sebelumnya.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 2

BAB II
Karakter Wirausaha Sukses :

Memotivasi Diri Sendiri (Self Motivated)
Kewirausahaan adalah proses kemanusiaan (human process) yang berkaitan dengan
kreativitas dan inovasi dalam memahami peluang, mengorganisasi sumber-sumber,
mengelola sehingga peluang itu terwujud menjadi suatu usaha yang mampu menghasilkan
laba atau nilai untuk jangka waktu yang lama. Definisi tersebut menitikberatkan kepada
aspek kreativitas dan inovasi, karena dengan sifat kreativitas dan inovatif seseorang dapat
menemukan peluang. Pada bab ini, akan dikemukakan lebih mendalam mengenai karakter
seorang wirausaha berdasarkan pendapat para pakar kewirausahaan maupun pebisnis itu
sendiri.

KARAKTER KEWIRAUSAHAAN
2.1. Karakter Wirausahawan
Menurut David (1996) karakteristik yang dimiliki oleh seorang wirausaha memenuhi
syarat- syarat keunggulan bersaing bagi suatu perusahaan/organisasi, seperti inovatif,
kreatif, adaptif, dinamik, kemampuan berintegrasi, kemampuan mengambil risiko atas
keputusan yang dibuat, integritas, daya-juang, dan kode etik niscaya mewujudkan efektivitas
perusahaan/organisasi.

Disamping itu, dalam suatu penelitian tentang Standarisasi Tes Potensi Kewirausahaan
Pemuda Versi Indonesia; Munawir Yusuf (1999) menemukan adanya 11 ciri atau indikator
kewirausahaan, yaitu:
1. Motivasi berprestasi
2. Kemandirian
3. Kreativitas
4. Pengambilan resiko (sedang)
5. Keuletan
6. Orientasi masa depan
7. Komunikatif dan reflektif
8. Kepemimpinan
9. Locus of Controll
10. Perilaku instrumental
11. Penghargaan terhadap uang.

Selain ciri-ciri yang telah dikemukakan di awal, berikut ini akan dijelaskan secara lebih
mendalam mengenai karakterisitik seorang wirausahawan yang disarikan dari berbagai
sumber.
2.1.1 Memiliki Kreatifitas Tinggi
Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan
berbeda. Menurut Levit, kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru (thinking new thing),
oleh karena itu menurutnya, kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang
baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer dalam
Suryana (2003 : 24) mengungkapkan bahwa, ide-ide kreativitas sering muncul ketika
wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda.
Oleh karena itu, kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada
(generating something from nothing). Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan
kreativitas dalam rangka memecahkan persolan-persolan dan peluang untuk meningkatkan
dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those
problems ang opportunities to enhance or to enrich people’s live

Dari definisi diatas, kreativitas mengandung pengertian, yaitu:
1. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
2. Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara baru.
3. menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik.
Rahasia kewirausahaan adalah dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa
terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih
peluang yang dihadapi tiap Berinisiatif ialah mengerjakan sesuatu tanpa menunggu perintah.
Kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah itu melahirkan inovasi.

2.1.2 Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang
bulat di dalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya,
didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad
yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan
usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja
keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. Tanpa usaha yang
sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti
menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang
wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya.

Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin
tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak
mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati
“bushido” (etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang disebut
oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.

Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :
1. Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika
harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,
2. Yu : berani, ksatria,
3. Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,
4. Re : bersikap santun, bertindak benar,
5. Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya, tanpa pamrih,
6. Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,
7. Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit

Dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.
Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa
kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam
menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Jansen H. Sinamo
(1999) mengembangkan 8 Etos Kerja Unggulan sebagai berikut :
6. Kerja itu suci, kerja adalah panggilanku, aku sanggup bekerja benar.
Suci berarti diabdikan, diuntukkan atau diorientasikan pada Yang Suci. Penghayatan
kerja semacam ini hanya mungkin terjadi jika seseorang merasa terpanggil. Bukan harus
dari Tuhan, tapi bisa juga dari idealisme, kebenaran, keadilan, dsb. Dengan kesadaran
bahwa kerja adalah sebuah panggilan suci, terbitlah perasaan untuk melakukannya secara
benar.
7. Kerja itu sehat, kerja adalah aktualisasiku, aku sanggup bekerja keras.
Maksudnya adalah bekerja membuat tubuh, roh dan jiwa menjadi sehat. Aktualisasi
berarti mengubah potensi menjadi kenyataan. Aktualisasi atau penggalian potensi ini
terlaksana melalui pekerjaan, karena kerja adalah pengerahan energi bio-psiko-sosial.
Akibatnya kita menjadi kuat, sehat lahir batin. Maka agar menjadi maksimal, kita akan
sanggup bekerja keras, bukan kerja asal-asalan atau setengah setengah.
8. Kerja itu rahmat, kerja adalah terimakasihku, aku sanggup bekerja tulus
Rahmat adalah karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Respon yang tepat
adalah bersyukur dan berterima kasih. Ada dua keuntungan dari bekerja sebagai rahmat,
1. Tuhan memelihara kita, dan

2. disamping secara finansial kita mendapat upah, juga ada
kesempatan belajar, menjalin relasi sosial, dsb. Pemahaman demikian akan mendorong
orang untuk bekerja secara tulus.
9. Kerja itu amanah, kerja adalah tanggung jawabku, aku sanggup bekerja tuntas
Melalui kerja kita menerima amanah. Sebagai pemegang amanah, kita dipercaya,
berkompeten dan wajib melaksanakannya sampai selesai. Jika terbukti mampu, akhlak
terpercaya dan tanggung jawab akan makin menguat. Di pihak lain hal ini akan menjadi
jaminan sukses pelaksanaan amanah yang akan menguklir prestasi kerja dan penghargaan.
Maka tidak ada pekerjaan yang tidak tuntas.
10. Kerja itu seni/permainan, kerja adalah kesukaanku, aku sanggup bekerja kreatif:
Apapun yang anda kerjakan pasti ada unsur keindahan, keteraturan, harmoni, artistik
seperti halnya seni. Untuk mencapai tingkat penghayatan seperti itu dibutuhkan suatu
kreativitas untuk mengembangkan dan menyelesaikan setiap masalah pekerjaan.Jadi
bekerja bukan hanya mencari uang, tetapi lebih pada mengaktualisasikan potensi kreatif
untuk mencapai kepuasan seperti halnya pekerjaan seni.
11. Kerja itu ibadah, kerja adalah pengabdianku, aku sanggup bekerja serius:
Tuhan mewajibkan manusia beribadah (dalam arti ritual) dan beribadah (dalam artian
kerja yang diabdikan pada Tuhan). Kerja merupakan lapangan konkrit melaksanakan
kebajikan seperti: untuk pembangunan bangsa, untuk kemakmuran, untuk demokrasi,
keadilan, mengatasi kemiskinan, memajukan agama, dsb. Jadi bekerja harus serius dan
sungguh-sungguh agar makna ibadah dapat teraktualisasikan secara nyata sebagai bentuk
pengabdian pada Tuhan.
12. Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja sempurna
Secara moral kemuliaan sejati datang dari pelayanan. Orang yang melayani adalah
orang yang mulia.Pekerjaan adalah wujud pelayanan nyata bagi institusi maupun orang lain.
Kita ada untuk orang lain dan orang lain ada untuk kita. Kita tidak seperti hewan yang hidup
untuk dirinya sendiri. Manusia moral seharusnya mampu proaktif memikirkan dan berbuat
bagi orang lain dan masyarakat. Maka kuncinya ia akan sanggup bekerja secara sempurna.
13. Kerja itu kehormatan, kerja adalah kewajibanku, aku sanggup bekerja unggul:
Sebagai kehormatan kerja memiliki lima dimensi : (1) pemberi kerja menghormati kita
karena memilih sebagai penerima kerja (2) kerja memberikan kesempatan berkarya dengan
kemampuan sendiri, (3) hasil karya yang baik memberi kita rasa hormat, (4) pendapatan
sebagai imbalan kerja memandirikan seseorang sehingga tak lagi jadi tanggungan atau beban
orang lain, (5) pendapatan bisa menanggung hidup orang lain. Semuanya adalah
kehormatan. Maka respon yang tepat adalah menjaga kehormatan itu dengan bekerja
semaksimal mungkin untuk menghasilkan mutu setinggi–tingginya. Dengan unggul di segala
bidang kita akan memenangkan persaingan.

2.1.3 Mandiri atau Tidak Ketergantungan
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan
seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan
bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka
seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif didalam mengembangkangkan ide
dan pikiranya terutama didalam menciptakan peluang usaha didalam dirinya, dia dapat
mandiri menjalankan usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain,
seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu menciptakan hal yang baru dengan
jalan mengkombinasikan sumber-sumber yang ada disekitarnya, mengembangkan teknologi
baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang
dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan
menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.

2.1.4 Berani Menghadapi Risiko
Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad
ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung risiko.Wirausaha
dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan
yang matang. Ia berani mengambil risiko terhadap pekerjaannya karena sudah
diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil risiko yang moderat,
artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian
menghadapi risiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus
berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan
objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran kegiatannya (Suryana, 2003
: 14-15).
Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai utama
dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar memulai atau
berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, “seorang wirausaha yang berani menanggung risiko
adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik”
(Yuyun Wirasasmita, dalam Suryana, 2003 : 21). Wirausaha adalah orang yang lebih
menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk lebih mencapai kesuksesan atau
kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang
menyukai risiko yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Keberanian untuk menanggung
risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan
perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam
melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis. Wirausaha menghindari situasi risiko yang
rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin
berhasil. Pilihan terhadap risiko ini sangat tergantung pada :
1. daya tarik setiap alternatif
2. kesediaan untuk rugi
3. kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal
Untuk bisa memilih, sangat ditentukan oleh kemampuan wirausaha untuk mengambil
risiko antara lain :
1. keyakinan pada diri sendiri
2. kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan
kemungkinan memperoleh keuntungan.
3. kemampuan untuk menilai situasi risiko secara realistis.
Pengambilan risiko berkaitan dengan berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri.
Artinya, semakin besar keyakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin besar
keyakinan orang tersebut akan kesanggupan mempengaruhi hasil dan keputusan, dan
semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menurut orang lain
sebagai risiko. Oleh karena itu, pengambil risiko ditemukan pada orang-orang yang inovatif
dan kreatif yang merupakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan (Suryana, 2003 :
22)

2.1.5 Motif Berprestasi Tinggi
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena
adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede Anggan
Suhanda (dalam Suryana, 2003 : 32) Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang
menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara
pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti yang dikemukakan
oleh Maslow (1934) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan
kebutuhan, sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological
needs), kebutuhan akan keamanan (security needs), kebutuhan harga diri (esteem needs),
dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualiazation needs).

Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan
sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang
memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryana, 2003 :
33-34)
1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan
kegagalan.
3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
5. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fifty- fifty). Jika tugas
yang diembannya sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia
selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian
keberhasilan sangat rendah.
Motivasi (Motivation) berasal dari bahasa latin “movere” yang berarti to move atau
menggerakkan, (Steers and Porter, 1991:5), sedangkan Suriasumantri (hal.92) berpendapat,
motivasi merupakan dorongan, hasrat, atau kebutuhan seseorang. Motif dan motivasi
berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan berperilaku tertentu untuk
mencapai tujuan. Motif menghasilkan mobilisasi energi (semangat) dan menguatkan
perilaku seseorang. Secara umum motif sama dengan drive. Beck (1990: 19), berdasarkan
pendekatan regulatoris, menyatakan “drive” sama seperti sebuah kendaraan yang
mempunyai suatu mekanisme untuk membawa dan mengarahkan perilaku seseorang.
Sejalan dengan itu, berdasarkan teori atribusi Weiner (Gredler,1991: 452) ada dua
lokus penyebab seseorang berhasil atau berprestasi. Lokus penyebab instrinsik mencakup (1)
kemampuan, (2) usaha, dan (3) suasana hati (mood), seperti kelelahan dan kesehatan. Lokus
penyebab ekstrinsik meliputi (1) sukar tidaknya tugas (2) nasib baik (keberuntungan), dan
(3) pertolongan orang lain.
Motivasi berprestasi mengandung dua aspek, yaitu (1) mencirikan ketahanan dan
suatu ketakutan akan kegagalan dan (2) meningkatkan usaha keras yang berguna dan
mengharapkan akan keberhasilan (McClelland, 1976: 74-75). Namun, Travers (1982:435)
mengatakan bahwa ada dua kategori penting dalam motivasi berprestasi, yaitu
mengharapkan akan sukses dan takut akan kegagalan.
Uraian di atas menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada dua indikator dalam motivasi
berprestasi (tinggi), yaitu kemampuan dan usaha. Namun, bila dibandingkan dengan
atribusi intrinsik dari Wainer, ada tiga indikator motivasi berprestasi tinggi yaitu:
kemampuan, usaha, dan suasana hati (kesehatan).

2.1.6 Selalu Perspektif
Seorang wirausahawan hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan
dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan
peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang
yang memiliki persepktif dan pandangan kemasa depan. Karena memiliki pandangan jauh
ke masa depan maka ia akan selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya (Suryana, 2003 :
23).
Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda
dengan yang sudah ada. Walaupun dengan risiko yang mungkin dapat terjadi, seorang yang
perspektif harus tetap tabah dalam mencari peluang tantangan demi pembaharuan masa
depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat wirausaha tidak cepat puas dengan karsa
dan karya yang sudah ada. Karena itu ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu
peluang.

2.1.7 Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menurut Poppy King (wirausaha muda dari Australia yang terjun ke bisnis sejak berusia
18 tahun), ada tiga hal yang selalu dihadapi seorang wirausaha di bidang apapun, yakni:
pertama, obstacle (hambatan); kedua, hardship (kesulitan); ketiga, very rewarding life
(imbalan atau hasil bagi kehidupan yang memukau). Sesungguhnya kewirausahaan dalam
batas tertentu adalah untuk semua orang. Mengapa? cukup banyak alasan untuk
mengatakan hal itu. Pertama, setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau sekurangkurangnya
harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai manusia. Hal ini
merupakan semacam “intuisi” yang mendorong manusia normal untuk bekerja dan
berusaha. “Intuisi” ini berkaitan dengan salah satu potensi kemanusiaan, yakni daya
imajinasi kreatif.
Karena manusia merupakan satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang, antara lain,
dianugerahi daya imajinasi kreatif, maka ia dapat menggunakannya untuk berpikir. Pikiran
itu dapat diarahkan ke masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berpikir, ia dapat
mencari jawaban- jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Dari manakah
aku berasal? Dimanakah aku saat ini? Dan kemanakah aku akan pergi? Serta apakah yang
akan aku wariskan kepada dunia ini?
Menelusuri sejarah pribadi di masa lalu dapat memberikan gambaran mengenai
kekuatan dan kelemahan seseorang. Di dalamnya terdapat sejumlah pengalaman hidup :
hambatan dan kesulitan yang pernah kita hadapi dan bagaimana kita mengatasinya,
kegagalan dan keberhasilan, kesenangan dan keperihan, dan lain sebagainya. Namun,
karena semuanya sudah berlalu, maka tidak banyak lagi yang dapat dilakukan untuk
mengubah semua itu. Kita harus menerimanya dan memberinya makna yang tepat serta
meletakkannya dalam suatu perspektif masa kini dan masa depan (Harefa : 1998).
Masa kini menceritakan situasi nyata dimana kita berada, apa yang telah kita miliki,
apa yang belum kita miliki, apa yang kita nikmati dan apa yang belum dapat kita nikmati, apa
yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dan apa yang menjadi hak asasi kita sebagai
manusia, dan lain sebagainya. Dengan menyadari keberadaan kita saat ini, kita dapat
bersyukur atau mengeluh, kita dapat berpuas diri atau menentukan sasaran berikutnya, dan
seterusnya. Masa depan memberikan harapan, paling tidak demikianlah seharusnya bagi
mereka yang beriman berkepercayaan.
Bila kita memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, dan masih berada pada situasi
dan kondisi yang belum sesuai dengan cita-cita atau impian kita, maka adalah wajar jika kita
mengharapkan masa depan yang lebih baik, lebih cerah, lebih menyenangkan. Sebab selama
masih ada hari esok, segala kemungkinan masih tetap terbuka lebar (terlepas dari pesimisme
atau optimisme mengenai hal itu).
Jelas bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan bertalian langsung dengan daya
imajinasi kita. Dan di dalam masa-masa itulah segala hambatan (obstacle), kesulitan
(hardship), dan kesenangan atau suka cita (very rewarding life) bercampur baur jadi satu.
Sehingga, jika Poppy King mengatakan bahwa ketiga hal itulah yang dihadapi oleh seorang
wirausaha dalam bidang apapun, maka bukankah itu berarti bahwa kewirausahaan adalah
untuk semua orang? Siapakah manusia di muka bumi ini yang tidak pernah menghadapi
hambatan dan kesulitan untuk mencapai cita-cita dan impiannya?
Alasan kedua yang membuat kewirausahaan itu pada dasarnya untuk semua orang
adalah karena hal itu dapat dipelajari. Peter F. Drucker, misalnya, pernah menulis dalam
Innovation and Entrepreneurship bahwa, “Setiap orang yang memiliki keberanian untuk
mengambil keputusan dapat belajar menjadi wirausaha, dan berperilaku seperti wirausaha.
Sebab (atau maka) kewirausahaan lebih merupakan perilaku daripada gejala kepribadian,
yang dasarnya terletak pada konsep dan teori, bukan pada intuisi”. Perilaku, konsep, dan
teori merupakan hal-hal yang dapat dipelajari oleh siapapun juga. Sepanjang kita bersedia
membuka hati dan pikiran untuk belajar, maka kesempatan untuk menjadi wirausaha tetap
terbuka. Sepanjang kita sadar bahwa belajar pada hakekatnya merupakan suatu proses
yang berkelanjutan, yang tidak selalu berarti dimulai dan berakhir di sekolah atau
universitas tertentu, tetapi dapat dilakukan seumur hidup, dimana saja dan kapan saja maka
belajar berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja, meski tak harus berarti menjadi
wirausaha “besar”.
Alasan yang ketiga adalah karena fakta sejarah menunjukkan kepada kita bahwa para
wirausaha yang paling berhasil sekalipun pada dasarnya adalah manusia biasa. Sabeer
Bathia, seorang digital entrepreneur yang meluncurkan hotmail.com tanggal 4 Juli 1996,
baru menyadari hal ini setelah ia berguru kepada orang-orang seperti Steve Jobs, penemu
komputer pribadi (Apple). Dan kesadaran itu membuatnya cukup percaya diri ketika
menetapkan harga penemuannya senilai 400 juta dollar AS kepada Bill Gates, pemilik
Microsoft, yang juga manusia biasa.

2.1.8 Selalu Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk
memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada
pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap
mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu juga
menampung wirausaha yang pengusaha, yang mengejar keuntungan secara etis serta
wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi nirlaba yang
bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/masyarakat.

2.1.9 Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan
keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, lebih menonjol. Dengan
menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasajasa
yang dihasilkanya lebih cepat, lebih dahulu dan segera berada dipasar. Ia selalu
menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda
sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun prmasaran. Ia
selalu memamfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu,
perbedaan bagi sesorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber
pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk mencari peluang,
terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang. Leadership
Ability adalah kemampuan dalam kepemimpinan. Wirausaha yang berhasil memiliki
kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan (power), seorang pemimpin
harus memiliki taktik mediator dan negotiator daripada diktaktor.
Semangat, perilaku dan kemampuan wirausaha tentunya bervariasi satu sama lain
dan atas dasar itu wirausaha dikelompokkan menjadi tiga tingkatan yaitu: Wirausaha andal,
Wirausaha tangguh, Wirausaha unggul. Wirausaha yang perilaku dan kemampuannya lebih
menonjol dalam memobilisasi sumber daya dan dana, serta mentransformasikannya
menjadi output dan memasarkannya secara efisien lazim disebut Administrative
Entrepreneur. Sebaliknya, wirausaha yang perilaku dan kemampuannya menonjol dalam
kreativitas, inovasi serta mengantisipasi dan menghadapi resiko lazim disebut Innovative
Entrepreneur.

2.1.10 Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah
kemampuan untuk memanagerial usaha yang sedang digelutinya, seorang wirausaha harus
memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha, visualisasikan usaha,
mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol usaha, maupun kemampuan
mengintergrasikan operasi perusahaanya yang kesemuanya itu adalah merupakan
kemampuan managerial yang wajib dimiliki dari seorang wirausaha, tanpa itu semua maka
bukan keberhasilan yang diperoleh tetapi kegagalan uasaha yang diperoleh.

2.1.11 Memiliki Kerampilan Personal
Wirausahawan andal memiliki ciri-ciri dan cara-cara sebagai berikut:
Pertama Percaya diri dan mandiri yang tinggi untuk mencari penghasilan dan keuntungan
melalui usaha yang dilaksanakannya.
Kedua, mau dan mampu mencari dan menangkap peluang yang menguntungkan dan
memanfaatkan peluang tersebut.
Ketiga, mau dan mampu bekerja keras dan tekun untuk menghasilkan barang dan jasa yang
lebih tepat dan effisien.
Keempat, mau dan mampu berkomunikasi, tawar menawar dan musyawarah dengan
berbagai pihak, terutama kepada pembeli.
Kelima, menghadapi hidup dan menangani usaha dengan terencana, jujur, hemat, dan
disiplin.
Keenam, mencintai kegiatan usahanya dan perusahaannya secara lugas dan tangguh tetapi
cukup luwes dalam melindunginnya.
Ketujuh, mau dan mampu meningkatkan kapasitas diri sendiri dan kapasitas perusahaan
dengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain (leadership/ managerialship) serta
melakukan perluasan dan pengembangan usaha dgn resiko yang moderat.
Bygrave menggambarkan wirausaha dengan konsep 10 D, yaitu :
1. Dream ; mempunyai visi terhadap masa depan dan mampu mewujudkannya
2. Decisiveness ; tidak bekerja lambat, membuat keputusan berdasar perhitungan yang
tepat.
3. Doers ; membuat keputusan dan melaksanakannya
4. Determination ; melaksanakan kegiatan dengan penuh perhatian
5. Dedication ; mempunyai dedikasi tinggi dalam berusaha
6. Devotion ; mencintai pekerjaan yang dimiliki
7. Details ; memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci
8. Destiny ; bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yanghendak dicapai
9. Dollars ; motivasi bukan hanya uang
10. Distribute ; mendistribusikan kepemilikannya terhadap orang yang dipercayai.
2.2. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Wirausaha
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang
menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
1. Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat
perusahaan kurang berhasil.
2. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan
mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi
perusahaan.
3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik,
faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur
pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas
akan menghambat operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
4. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali
gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang
menentukan keberhasilan usaha
6. kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan
efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan
tidak efektif.
7. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah
terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal.
Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang
kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang
berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan
perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.
Berikut ini ditampilkan mengenai karakteristik profil dari seorang wirausahawan yang
sukses dan gagal.
No Karakteristik Profil Ciri Wirausahawan Sukses yang
Menonjol
1. Percaya diri Mengendalikan tingkat percaya dirinya tinggi
dalam mencapai sukses
2 Pemecahan masalah Cepat mengenali dan memecahkan masalah
yang dapat menghalangi kemampuan
tujuannya
3 Berprestasi tinggi Bekerja keras dan bekerja sama dengan para
ahli untuk meperoleh prestasi
4 Pengambilan resiko Tidak takut mengambil resiko, tetapi akan
menghindari resiko tinggi jika dimungkinkan
5 Ikatan emosi Tidak akan memperbolehkan hubungan
emosional yang menggangu suksesnya usaha
6 Pencari status Tidak akan memperboilehkan hubungan
emosional yang mengganggu misi suksesnya
usahanya
7 Tingkat energi tinggi Berdedikasi tinggi dan bekerja tanpa
berhitung waktu untuk membangun
usahanya

No Karakteristik Profil Ciri Wirausahawan Gagal yang Menonjol
1. Dedikasi Meremehkan waktu dan dedikasi dalam
memulai usaha
2 Pengendalian usaha atau bisnis Gagal mengendalikan aspek utama usaha
atau bisnis
3 Pengamatan manajemen Pemahaman umum terhadap disiplin
manajemen rata-rata kurang
4 Pengelolaan piutang Menimbulkan masalah arus kas buruk mereka
dengan kurangnya perhatian akan piutang
5 Memperluas usaha berlebihan Memulai perluasan usaha yang belum siap
6 Perencanaan keuangan Meremehkan kebutuhan usaha
7 Lokasi usaha Lokasi yang buruk
Pembelanjaan besar Menimbulkan pengeluaran awal yang
tinggi.

KEWIRAUSAHAAN : BAB 1

BAB I
KARAKTER WIRAUSAHA SUKSES

Membangun Mimpi dan Mengejar Cita-cita (dream)
Lulusan berdaya saing, ditandai sejumlah kemampuan yang tinggi, baik hard skill
dan softskill serta pengetahuan dibidang spiritual, emosional, maupun kreativitas.
Perguruan tinggi juga menyadari bahwa dalam menghasilkan lulusan demikian dibutuhkan
kurikulum pendidikan yang mengintegrasikan aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik.
Selaras dengan pernyataan di atas, Godsell (2005) menyatakan bahwa salah satu orientasi
pendidikan adalah menjadikan peserta didik (mahasiswa) mandiri dalam arti memiliki
mental yang kuat untuk melakukan usaha sendiri, tidak lebih sebagai pencari kerja (job
seeker) akan tetapi sebagai pencipta lapangan pekerjaan (job creator).
Sebelum berbicara mengenai wirausaha, ada baiknya mahasiswa diperkenalkan dan
disadarkan tentang pentingnya mereka memiliki tujuan hidup/impian. Hal ini sangat penting
ditekankan di awal kuliah agar mahasiswa memiliki semangat untuk berprestasi dan
bersungguh-sungguh meraih impiannya. Sangat disayangkan bila seorang mahasiswa baru
menyadari untuk apa mereka sebenarnya kuliah, dan lain-lain setelah mereka lulus. Bahkan
hal ini ditegaskan oleh seorang pakar pendidikan Nasution (2009), yang menyatakan bahwa
kebanyakan lulusan pendidikan menjadi pengangguran adalah akibat mereka tidak memiliki
impian dan tidak bersungguh-sungguh untuk meraihnya. Oleh karena itu kegiatan awal
adalah mengenai urgensi impian dalam hidup.

WIRAUSAHA DAN IMPIAN

“kita adalah realita di masa kini..
Sejarah di masa lalu..
Dan di masa depan…kita bukanlah siapa-siapa tanpa mimpi-mimpi..”
(Ramdhan, 2010)
Masa depan hanyalah milik orang-orang yang percaya
akan keindahan mimpi-mimpi mereka.
If You can Dream it, You can Do it. (Walt Disney)

1.1. Impian menjadi wirausahawan
Kemana Anda setelah kuliah?? Pertanyaan ini sekilas singkat, namun berdasarkan riset
yang dilakukan oleh Asnadi (2005) terhadap 5 perguruan tinggi negeri di Indonesia
ditemukan bahwa hampir 75 persen responden (mahasiswa) tidak memiliki rencana yang
jelas setelah lulus. Hal ini tidaklah mengherankan jika setiap tahunnya akan selalu muncul
pengangguran terdidik di Indonesia yang angkanya semakin membludak. Sakernas (2010)
mengemukakan fenomena ironis yang muncul di dunia pendidikan Indonesia dimana
semakin tinggi pendidikan seseorang, probabilitas atau kemungkinan menjadi pengangguran
semakin tinggi.
Salah satu upaya dalam mengurangi tingkat pengangguran terdidik di Indonesia adalah
dengan menciptakan lulusan-lulusan yang tidak hanya memiliki orientasi sebagai job seeker
namun job maker atau yang kita sebut wirausaha. Penciptaan lulusan perguruan tinggi yang
menjadi seorang wirausahawan tidak serta merta mudah untuk dilaksanakan.
Kalangan terdidik cenderung menghindari pilihan profesi ini karena preferensi mereka
terhadap pekerjaan kantoran lebih tinggi Preferensi yang lebih tinggi didasarkan pada
perhitungan biaya yang telah mereka keluarkan selama menempuh pendidikan dan
mengharapkan tingkat pengembalian (rate of return) yang sebanding. Ernanie (2010), dalam
seminarnya mengungkapkan ada kecenderungan, semakin tinggi tingkat pendidikan semakin
besar keinginan mendapat pekerjaan yang aman. Mereka tak berani ambil pekerjaan
berisiko seperti berwirausaha. Pilihan status pekerjaan utama para lulusan perguruan tinggi
adalah sebagai karyawan atau buruh, dalam artian bekerja pada orang lain atau instansi atau
perusahaan secara tetap dengan menerima upah atau gaji secara rutin seperti Pegawai
Negeri Sipil (PNS), dan lainnya.
Meskipun setiap tahun pemerintah membuka pendaftaran menjadi PNS, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari mereka yang mendaftar mengalami
kekecewaan karena tidak berhasil lulus. Peluang untuk menjadi PNS semakin kecil lagi
setelah pemerintah memutuskan penundaan sementara (moratorium) tambahan formasi
untuk penerimaan PNS sejak 1 September 2011 hingga 31 Desember 2012. Keterbatasan
terserapnya lulusan perguruan tinggi di sektor pemerintah menyebabkan perhatian beralih
pada peluang bekerja pada sektor swasta, namun beratnya persyaratan yang ditetapkan
terkadang membuat peluang untuk bekerja di sektor swasta juga semakin terbatas.
Satu-satunya peluang yang masih sangat besar adalah bekerja dengan memulai usaha
mandiri. Hanya saja, jarang ditemukan seseorang sarjana yang ingin mengawali
kehidupannya setelah lulus dari perguruan tinggi dengan memulai mendirikan usaha.
Kecenderungan yang demikian, berakibat pada tingginya residu angkatan kerja berupa
pengangguran terdidik. Jumlah lulusan perguruan tinggi dalam setiap tahun semakin
meningkat. Kondisi ini tidak sebanding dengan peningkatan ketersediaan kesempatan kerja
yang akan menampung mereka.
Kecilnya minat berwirausaha di kalangan lulusan perguruan tinggi sangat disayangkan.
Syaefuddin (2003) mengatakan bahwa seharusnya para lulusan melihat kenyataan bahwa
lapangan kerja yang ada tidak memungkinkan untuk menyerap seluruh lulusan
perguruan tinggi di Indonesia, para lulusan perguruan tinggi mulai memilih berwirausaha
sebagai pilihan karirnya, mengingat potensi yang ada di negeri ini sangat kondusif untuk
melakukan wirausaha.
Ilik (2010) mengatakan bahwa, untuk memulai menjadi seorang wirausaha, setiap
mahasiswa harus memiliki impian yang kokoh yang dibangun tidak dalam waktu singkat.
Urgensi impian ini semakin penting mengingat resiko dari wirausaha ini tidaklah kecil, bila
mahasiswa tidak memiliki impian yang kokoh maka sangat mungkin baginya untuk cepat
menyerah. Berikut ini adalah beberapa motivasi yang bisa diberikan kepada mahasiswa
mengenai impian.

A. Motivasi Untuk Meraih Impian
Impian adalah ambisi dari dalam diri manusia yang menjadi penggerak untuk maju.
Impian merupakan hasrat yang akan menggerakkan manusia untuk mewujudkannya. Dunia
ini bertumbuh dengan peradaban yang lebih tinggi dan teknologi yang lebih hebat itu berkat
impian orang-orang besar. Orang-orang besar itu adalah para pemimpi.
Orang-orang yang tidak mempunyai impian, seperti orang yang naik angkot jurusan
kemana saja sehingga waktu hidup orang yang tidak memiliki impian sangat tidak efektif.
Orang yang tidak memiliki impian, memiliki hasrat atau kegigihan yang mudah sekali pudar,
sehingga mereka dengan mudah mengubah impian mereka menjadi sangat sederhana.
Padahal, impian yang besar mempunyai kekuatan yang besar pula. Orang-orang yang
berhasil mencatat nama dalam sejarah rata-rata mempunyai ciri khas yaitu selalu mampu
memperbarui impian mereka.

A.1. Impian Merupakan Sumber Motivasi
Impian akan mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang. Bahkan impian dapat
menjamin keberhasilan, karena senantiasa menjadi sumber motivasi hingga mencapai tujuan
atau menggapai tujuan selanjutnya. Dorongan motivasi itulah yang akan menggerakkan
tubuh dan mengatur strategi yang harus ditempuh, misalnya bagaimana mencari informasi
dan menjalin komunikasi maupun bekerjasama dengan orang lain.
Nelson Mandela, sebelum menjadi Presiden Afrika Selatan, ia harus berjuang untuk
sebuah impian negara Afrika Selatan yang berdaulat. Untuk itu ia menghadapi tantangan
teramat berat. Impian selalu memotivasi Nelson Mandela untuk tetap berjuang, meskipun ia
harus merelakan sebagian besar waktunya dibalik terali besi. Impian merupakan sumber
semangat bagi Nelson, hingga Afrika Selatan benar-benar merdeka.
Sebenarnya, setiap orang dapat memperbarui nilai dan menyempurnakan jati diri
dengan kekuatan impian. sehingga jangan takut untuk bermimpi akan hal-hal yang besar,
sebab impian menimbulkan hasrat yang kuat untuk meraihnya. Impian mampu berperan
sebagai sumber motivasi, yang membangkitkan ambisi dan optimisme, sehingga mampu
melampaui semua rintangan dan kesulitan.

A.2. Impian Menciptakan Energi Besar untuk Berprestasi
Impian menjadikan manusia penuh vitalitas dalam bekerja. Impian itu sendiri
sebenarnya merupakan sumber energi menghadapi tantangan yang tidak mudah. Menurut
Anais Nin, “Hidup ini mengerut atau berkembang sesuai dengan keteguhan hati seseorang”.
Terdapat empat tips sederhana dalam menjadikan impian sebagai sumber energi kita, yaitu
disingkat dengan kata PLUS, yaitu; percaya, loyalitas, ulet dan sikap mental positif.
Rasa percaya menjadikan seseorang pantang menyerah, meskipun mungkin orang lain
mengkritik atau menghalangi. Kepercayaan itu juga membentuk kesadaran bahwa manusia
diciptakan di dunia ini sebagai pemenang. Tips yang kedua adalah loyalitas atau fokus untuk
merealisasikan impian. Untuk mendapatkan daya dorong yang luar biasa, maka tentukan
pula target waktu.
Tips yang ketiga adalah ulet. Sebuah impian menjadikan seseorang bekerja lebih lama
dan keras. Sedangkan tips yang ke empat adalah sikap mental positif. Seseorang yang
mempunyai impian memahami bahwa keberhasilan memerlukan pengorbanan, kerja keras
dan komitmen, waktu serta dukungan dari orang lain. Oleh sebab itu, mereka selalu
bersemangat mengembangkan kemampuan tanpa henti dan mencapai kemajuan terus
menerus hingga tanpa batas. Impian yang sudah menjadi nafas kehidupan merupakan daya
dorong yang luar biasa.

A.3. Impian Menjadikan Kehidupan Manusia Lebih Mudah Dijalani
Impian menjadikan manusia lebih kuat menghadapi segala rintangan dan tantangan.
Sebab impian dapat menimbulkan kemauan keras untuk merealisasikannya. Para pencipta
puisi Belanda atau Dutch Poet’s Society mengatakan “Nothing is difficult to those who have
the will, -Tidak ada sesuatupun yang sulit selama masih ada kemauan.” Kunci kebahagiaan
adalah mempunyai impian. Sedangkan kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan
impian. George Lucas mengatakan, “Dreams are extremely important. You can’t do it unless
you imagine it, – Impian sangatlah penting. Kau tidak akan dapat melakukan apa-apa
sebelum kau membayangkannya.”
Kesimpulannya adalah jangan takut memimpikan sesuatu. Jadikan impian tersebut
sebagai nafas kehidupan. Sebab impian yang kuat justru menjadikan perjuangan yang berat
saat menggapainya sebagai sarana latihan mengoptimalkan kekuatan-kekuatan yang lain,
misalnya kekuatan emosi, fisik, maupun rohani.

A.4. Konsep Be – do – have
Be Do Have adalah suatu konsep yang terdapat dalam buku One Minute Millionaire
oleh Mark Victor Hansen dan Robert G. Allen. Uniknya konsep ini bukan diawali dari kerja
(do) menuju milyarder, tetapi diawali oleh menjadi (be). Langkah pertama yang harus
dilakukan adalah pikirkan Anda ingin menjadi apa?hal ini sejalan dengan konsep dasar
manajemen yaitu “think what u do and do what u think”. Setelah Anda sudah
mengetahuinya, maka lakukan hal (do) yang diperlukan untuk menuju be (menjadi apa yang
Anda inginkan).
Posisi be di awal Anda akan mampu menjadikan tindakan Anda lebih efektif, terlahirlah
tindakan efektif jika Anda sudah berpikir bahwa Anda sudah menjadi apa yang Anda inginkan
maka tindakan akan mengikutinya. Ketika Anda bertanggung jawab penuh atas keputusan
Anda maka have adalah efek samping dari tindakan efektif Anda yang sangat amat mungkin
untuk didapatkan.
Sebagai contoh : Ketika seseorang ingin menjadi programmer, maka lakukanlah
tindakan yang mendukung menjadi programmer. Belilah alat-alat atau hal-hal yang bisa
membantu menjadi programmer, temui para programmer-progammer, diskusikanlah
dengan mentor/pembimbing jika ada yang mengalami kesulitan, lakukanlah dengan teguh
dan pantang mengeluh, maka orang tersebut akan memiliki hasil yang luar biasa berupa
pengakuan dan tergantikannya harga yang telah dibayar berupa kerja keras, biaya, dan
himpitan pada masa sebelumnya.
Makna be – do have juga menunjukkan sikap perspektif jangka panjang. Sikap ini
berarti bahwa seseorang yang sukses dalam berencana dan bertindak selalu memiliki
perspektif jangka panjang. Segala keputusan yang dibuat selalu memperhatikan akibatnya
bagi masa depan dalam jangka panjang. Tidak ada istilah bagi mereka yang berbunyi
“bagaimana nanti saja”’ mereka lebih berpikir: “nanti bagaimana?”. Berpikir jauh ke depan
bukan berarti mengkhawatirkan masa depan. Tetapi lebih kepada mempersiapkan masa
depan. Segala keputusan, rencana dan tindakan akan dipertimbangkan bagaimana
dampaknya dimasa depan. Apakah keputusan yang anda saat ini akan membawa dampak
positif bagi masa depan anda?. Apakah rencana anda mendukung visi anda?. Apakah
tindakan anda akan mempengaruhi masa depan anda?.
Satu-satunya cara untuk membentuk perspektif jangka panjang ini ialah dengan
merumuskan visi anda saat ini. Jangan abaikan dengan langkah sukses ini. Jangan takut anda
gagal, lebih baik anda gagal meraih visi yang luar biasa, daripada berhasil tidak meraih
apapun.

1.2. Impian Harus Smart
Pernahkah Anda mendengar ketika ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepada
mahasiswa “apa impian kalian?” lalu mereka berkata “ingin menjadi orang sukses” atau
“ingin membahagiakan orang tua”. Sekilas nampak bahwa jawaban mahasiswa ini sangat
baik dan mulia, namun demikian impian ini sangatlah abstrak dan tidak jelas apa
ukuran/indikator kesuksesan tersebut sehingga sangat sulit untuk ditentukan bagaimana
langkah-langkah untuk mewujudkannya. Dengan kata lain, impian yang abstrak dan tidak
jelas ini sangat dimungkinkan hanya akan menjadi mimpi yang sulit untuk diwujudkan.
Bila mengacu kepada konsep manajemen tentang bagaimana sebuah impian/tujuan itu
seharusnya dirumuskan, maka kita akan merujuk kepada sebuah konsep yang bernama
SMART. Konsep dasar yang harus disadari terlebih dahulu adalah, sukses itu bukanlah
sebuah kebetulan, namun sukses adalah by Desig. Oleh karena itu impian yang kita buat
harus SMART “Cerdas”, Apakah impian yang SMART itu? Impian yang SMART adalah Impian
yang : Specific. Artinya Anda harus jelas mengenai apa yang anda inginkan, dengan demikian
anda akan lebih mudah dalam membuat perencanaan. Dengan demikian, istilah “Saya
memiliki impian menjadi orang sukses” diganti dengan misalnya ; “Saya memiliki impian
untuk menjadi seorang manajer pemasaran di PT X dengan penghasilan Rp X” atau “saya
ingin menjadi seorang wirausahawan di bidang X dengan penghasilan sebesar Rp X dan
lainnya.
Measurable : Artinya impian haruslah terukur. Dengan demikian, anda akan tahu kapan
impian anda telah tercapai.
Achieveble : Artinya Impian anda harus dapat anda raih. Jika impian itu terlalu besar,
anda perlu memecah impian itu menjadi impian yang lebih kecil dulu sebagai langkah
awal atau bagian dalam pencapaian impian besar.
Realistic : Artinya, impian Anda harus masuk akal. Makna masuk akal ini biasanya
dikaitkan dengan kemampuan/ketersediaan sumber daya yang dimiliki.
Time Bond : Impian haruslah memiliki garis waktu yang jelas kapan impian tersebut ingin
Anda raih. Misalnya : “ saya memiliki impian mendirikan sekolah bagi anak-anak yang
tidak mampu 10 tahun dari sekarang”.

1.3. Pengertian Entrepreneur/Wirausaha
Istilah kewirausahaan (entrepreneur) pertama kali diperkenalkan pada awal abad ke-18
oleh ekonom Perancis, Richard Cantillon. Menurutnya, entrepreneur adalah “agent who
buys means of production at certain prices in order to combine them”. Adapun makna secara
etimologis wirausaha/wiraswasta berasal dari bahasa Sansekerta, terdiri dari tiga suku kata :
“wira“, “swa“, dan “sta“. Wira berarti manusia unggul, teladan, tangguh, berbudi luhur,
berjiwa besar, berani, pahlawan, pionir, pendekar/pejuang kemajuan, memiliki keagungan
watak. Swa berarti sendiri, dan Sta berarti berdiri.
Istilah kewirausahaan, pada dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur, yang
dalam bahasa Inggris di kenal dengan between taker atau go between. Pada abad
pertengahan istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seseorang actor yang
memimpin proyek produksi, Konsep wirausaha secara lengkap dikemukakan oleh Josep
Schumpeter, yaitu sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan
memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru
atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi
bisnis yang baru atau pun yang telah ada.
Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat
adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang
tersebut. Sedangkan proses kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan
tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi.
Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun memiliki
substansi yang agak berbeda.
Selain itu, definisi Kewirausahaan menurut Instruksi Presiden Republik Indonesia
(INPRES) No. 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Me-masyarakat-kan dan Membudaya-
kan Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang
dalam menangani usaha dan/atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari
menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan
efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh
keuntungan yang lebih besar.

1.4. Pendapat para pakar mengenai kewirausahaan.
Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang
mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru
dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap
mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugastugas
yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau
dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai
terhadap tugas dan tanggungjawabnya.
Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam
berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan
pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu, kewirausahan adalah kemampuan
kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang
menuju sukses.

Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru
dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk
menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya,
kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam
mewujudkan gagasan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.
Dari beberapa konsep yang ada, setidaknya terdapat 6 hakekat penting
kewirausahaan. Di antaranya :
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar
sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad
Sanusi, 1994).
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam
memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan
(Zimmerer. 1996).
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up
phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative),
dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan
mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk
memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara
mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara
baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki
produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan
kepuasan kepada konsumen.

Berdasarkan keenam konsep diatas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan
sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang
dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai
tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.
Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang
mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri.
Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan
berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai
kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk
belajar dan berusaha.
Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan
menanggapi peluang. Berdasarkan hal tersebut, maka definisi kewirausahaan adalah
tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta
membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.” (
Pekerti, 1997)

1.5. Keuntungan dan Kerugian Wirausaha
Menurut Ilik (2010), terdapat keuntungan dan kerugian ketika seseorang mengambil
pilihan menjadi seorang wirausahawa di antaranya :
Keuntungan :
1. Otonomi.
Pengelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausaha memposisikan
seseorang menjadi “bos” yang memiliki kehendak terhadap kontrol bisnisnya. Hal ini
juga didukung dengan pendapat Robert T. Kiyosaki yang menyatakan bahwa pada
dasarnya perspektif menjadi seorang wirausaha adalah pilihan karena mencari
sebuah kebebasan.
2. Tantangan awal dan perasaan motif berprestasi
Peluang untuk mengembangkan konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan
sangat memotivasi wirausaha.
3. Kontrol finansial (Pengawasan keuangan).
Bebas dalam mengelola keuangan, dan merasa kekayaan sebagai milik sendiri.
4. memiliki legitimasi moral yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan dan
menciptakan kesempatan kerja.
Hal ini dikarenakan target entrepreneur adalah masyarakat kelas menengah dan
bawah, maka entrepreneur memiliki peran penting dalam proses trickling down
effect.

Kerugian Kewirausahaan :
1. Pengorbanan personal.
Pada awalnya, wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan sibuk. Sedikit
sekali waktu untuk kepentingan keluarga, rekreasi. Hampir semua waktu dihabiskan
untuk kegiatan bisnis.
2. Beban tanggung jawab.
Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran, keuangan, personil
maupun pengadaan dan pelatihan.
3. Kecilnya marjin keuntungan dan kemungkinan gagal.
Karena wirausaha menggunakan keuntungan yang kecil dan keuangan milik sendiri,
maka marjin laba/keuntungan yang diperoleh akan relatif kecil dan kemungkinan gagal
juga ada.

1.6. Langkah-langkah memulai wirausaha
Berikut ini ditampilkan beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan apabila
seorang mahasiswa ingin memulai wirausaha.
1. Pilih bidang usaha yang Anda minati dan memiliki hasrat dan pengetahuan di
dalamnya.
Tips pertama ini sangatlah membantu bagi mahasiswa yang cenderung memiliki
keinginan yang tinggi sekaligus mudah jenuh. Tidak mudah memang, terutama jika kita
sudah lama dan terbiasa berada dalam zona aman. Seringkali kesibukan kerja
membunuh instink kita untuk berkreasi maupun mengasah minat dan kesukaan yang
mampu mendatangkan uang. Jika anda telah menentukan minat, maka segeralah asah
pengetahuan dan perbanyak bacaan serta ketrampilan mengenai bidang usaha yang
hendak Anda tekuni.
Kadang-kadang hal-hal yang kita rasakan kuasai, ternyata setelah berada di lapangan
berbeda drastis dengan yang kita pikirkan. Seorang yang sehari-hari mengerjakan
pekerjaan keahlian tertentu, belum tentu bisa sukses berbisnis dalam bidang tersebut,
karenanya perlu sekali belajar dari orang-orang yang telah sukses merintis usaha di
bidang tersebut.
2. Perluas dan perbanyak jaringan bisnis dan pertemanan.
Seringkali tawaran-tawaran peluang bisnis dan dukungan pengembangan bisnis datang
dari rekan-rekan di dalam jaringan tersebut. Namun anda tetap harus hati-hati, karena
tidak pernah ada yang namanya makan siang gratis, siapapun itu, anda harus tetap
berhati-hati dan mempersiapkan akan datangnya hal-hal yang tidak terduga. Hal ini
juga sejalan dengan prinsip seorang pebisnis “uang tidak mengenal tuan”. Bisa saja
hari ini anda adalah big boss, namun esok lusa anda menjadi pengangguran karena
didepak oleh karyawan sendiri yang bekerja sama dengan partner bisnis anda atau
bahkan investor anda.
3. Pilihlah keunikan dan nilai unggul dalam produk/jasa anda.
Kebanyakan orang tidak sadar, ketika memulai berbisnis, terjebak di dalam fenomena
banting harga. Padahal, ada kalanya, harga bukan segalanya. Anda harus bisa mencari
celah dan ceruk pasar yang unik. Anda harus menentukan posisi anda di dalam peta
persaingan usaha. Jika anda menilai terlalu tinggi jasa/produk anda, sementara hal
yang anda tawarkan itu tidak punya keunggulan yang sangat spesifik dan memiliki nilai
tambah, maka orang akan berpaling kepada usaha sejenis dengan harga dan kualitas
yang jauh lebih baik.
Misalkan anda memulai usaha bisnis jasa pembuatan desain web (web desainer).
Tentukan, apakah anda ingin bersaing berdarah-darah di usaha web murah meriah,
atau anda akan spesifik kepada desainnya, atau anda akan spesifik kepada faktor
security (keamanannya) atau kepada tingkat kesulitan dan kompleksitas pengelolaan
databasenya.
4. Jaga kredibilitas dan brand image.
Seringkali kita ketika memulai berusaha, melupakan faktor nama baik, kredibilitas dan
pandangan orang terhadap produk/jasa kita. Padahal, ini yang paling penting dalam
berbisnis. Mengulur-ulur pembayaran kepada supplier atau peminjam modal, adalah
tindakan yang sangat fatal dan berakibat kepada munculnya nama anda di dalam
daftar hitam jaringan bisnis usaha yang anda tekuni. Misalnya salah satu usaha bisnis,
seringkali bertindak arogan dan mengabaikan keluhan para pelanggannya, padahal
bukan hanya sekali dua kali orang-orang melakukan komplain, akibatnya, kehilangan
pelanggan adalah hal nyata yang akan terjadi dan bahkan kehilangan pasar potensial
dan pangsa pasar yang dikuasainya.
5. Berhemat dalam operasional secara terencana serta sisihkan uang untuk modal kerja
dan penambahan investasi alat-alat produksi/jasa.
Banyak orang yang jika sudah untung besar dan berada di atas, melupakan faktor
persiapan akan hal tak terduga maupun merencanakan pengembangan usaha. Padahal
bisnis adalah sama dengan hidup, harus selalu bertahan dan berjuang. Banyak
pengusaha dan pengrajin kita, ketika sudah kebanjiran order dan menerima banyak
uang, malah mendahulukan membeli mobil mewah ataupun mobil sport. Hal ini tidak
salah, namun akan lebih baik jika keuntungan itu disisihkan untuk laba ditahan dan
penambahan modal kerja. Dengan demikian usaha bisa lebih berkembang, dan
mendapatkan kepercayaan dan pinjaman modal dari bank menjadi lebih mudah.
Karena anda dipercaya oleh pihak bank mampu mengelola perusahaan secara
profesional.

Sebaiknya untuk keperluan sehari-hari, pemilik perusahaan mencadangkan alokasi
dana secukupnya saja untuk biaya hidup dan keperluan pribadi dalam bentuk gaji tetap
komisaris/pemilik. Atau disisihkan sebagian saja dari laba tahunan, namun jangan
menganggu arus kas perusahaan untuk kepentingan pribadi yang tidak ada urusannya
dengan produktivitas usaha.
Selain point di atas, kiat memulai wirausaha juga dapat diadopsi menurut seorang
pakar bisnis sekaligus motivator yaitu Tum Desem Waringin. Berikut ini adalah langkahlangkah
teknis yang dapat dilakukan untuk memulai bisnis :
1. Bangun Ide bisnis dengan menulis Impian dan hobby kita.
Tuliskan 10 mimpi dan hobby kita, lalu seleksi menjadi 3 yang paling membuat kita
sangat ambisius dan enjoy untuk menjalankannya. Seleksi lagi menjadi 1 mimpi yang
membuat kita menjadi harus untuk mewujudkannya. Sehingga 1 mimpi tersebut
benar-benar dijadikan sebagai Visi/Goal/Target yang harus diraih.
2. Berikan alasan yang sangat kuat untuk mewujudkan mimpi tersebut.
Bayangkan kenikmatan apa yang akan kita dapat apabila mimpi tersebut terwujud dan
kesengsaraan apa yang akan kita terima kalau mimpi tersebut tidak terwujud.
3. Mulai lah untuk mewujudkan mimpi tersebut dengan bertindak dan cari tema yang
tepat dan tulis misi / Langkah pencapaian dan tuangkan menjadi konsep usaha yang
jelas
4. Lakukan riset baik di internet maupun di kenyataan sehari-hari, Visi dan Misi yang kita
tulis harus terdefinisi dengan jelas, specific dan marketabel sesuai bidangnya.
5. Tuliskan dan rancang strategi yang akan dijalankan
6. Gunakan faktor pengungkit
OPM (Other People’s Money)
OPE (Other People’s Experience)
OPI (Other People Idea)
OPT (Other People’s Time)
OPW (other People’s Work)
7. Cari pembimbing (pilih yang sudah sukses di bidang tersebut), untuk pembanding dan
mengurangi resiko kegagalan dalam melakukan langkah-langkah pencapaian goal
tersebut.
8. Buatlah sebuah TEAM yang kompak untuk membantu mewujudkan goal tersebut
T = Together
E = Everybody
A = Achieve
M = Miracle
9. Optimalkan jaringan, relasi dan network yang kita punya untuk mencapai goal/visi kita
tersebut.
10. Buat jaringan baru yang tak terhingga dengan membuat relasi dan silaturahmi
sebanyak-banyaknya.
11. Gunakan alat bantu untuk mempercepat pencapaian misal website, jejaring sosial,
advertisement, promosi, dll
12. Buat system yang ideal untuak bisnis tersebut.
S=Save, Y=Your, S=Self, T=Timing, E=Energy, M=Money
Data membuktikan bahwa, 94% kegagalan usaha karena system bukan orangnya
perbanyak menggunakan 5W = Why Why Why Why Why dan 5H = How How How How
How.